hari tanpa kamu seperti matahari tanpa hari.
minggu tanpa kamu seperti minggu tanpa "u"
aku tanpa kamu seperti aku tanpa 'K'
Aku tak bisa tanpa kamu.
Selasa, 10 Mei 2011
Kamis, 21 April 2011
Dingin
Kadang aku berpikir tentang bagaimana rasanya mengulang kembali rasa ketika engkau harus melepas orang yang kau sayang. Melepas tidak untuk sesaat. Tapi untuk sesuatu yang bernama keabadian.
Jujur, di satu sisi dari diri saya, sudah jenuh dengan itu. Bukan sekali dua, hati ini tersayat peristiwa menyakitkan yang datang atas nama kematian. Menyisakan lubang di dada.
Kejadian pertama aku nggak ingat betul. Tapi itu menyisakan luka bertahun-tahun. Abang tertuaku meniggal dunia saat aku masih kelas 5 SD. Waktu itu dia masih duduk di kelas 3 SMU dan akan segera mengikuti ujian akhir nasional. Tepat seminggu sebelum ujian,dia meninggal dunia.
Waktu itu aku belum terlalu paham dengan tangis dan luka. Padahal, dia abang terdekatku. Dia orang yang paling aku sayang. Ketika dia "mati" aku sedang bersekolah. Aku dijemput abangku yang satu lagi, beda dua tahun denganku, dia bilang, "Abang kita sudah mati." Aku berbenah, aku tak menangis, dan aku ikut pulang. Tapi aku tak ingat apa-apa sampai kemudian aku sadar sedang ada di rumah sakit. Aku opname. Kata dokter aku kena demam berdarah.
Sebulan lebih aku tak sekolah. Aku lemas.
Luka kedua, aku ingat betul. Itu di bulan Agustus 2001. Aku baru saja dua bulan duduk di bangku kelas 3 SMA. Bapakku mati. Ya... bapakku mati. Bapakku mati sodara-sodara. Dan luka itu menganga kembali,sampai aku lupa bagaimana rasanya sakit.
Orang yang paling kusayang, serta sempat jadi orang paling kubenci, dia pergi. Tak ada lagi tempat berlari untuk bermanja, tempat meletakkan kepala di dadanya ketika aku sangat bahagia menjadi juara kelas, tempat meletakkan kepala saat aku sedih, orang yang membelikan tas baru sebagai kejutan, orang yang membelikan sepatu saat sol sepatuku sudah aus, orang yang akan selalu berkata, "kamu kenapa anakku?" orang yang akan membelikan jam baru di hari ulang tahunku. Tak ada lagi. Dan aku... paham rasanya dingin.
Aku benar-benar mengerti rasa dingin di hati.
Bertahun-tahun, rasa itu kupendam. Menjadi kelu yang membeku hingga saat ada teman yang mengalami kejadian serupa, aku seolah tanpa reaksi. Dingin. Seolah itu bukan hal yang menyedihkan. Aku hampir lupa menangis dengan cara yang tengah mereka lakukan. Ya, aku memang telah lupa.
Tapi aku kembali diingatkan saat kepergian keponakan kecilku. Igo. Sedikit. Dan aku masih amnesia. Pun saat mama meninggalkanku. Aku benar-benar yatim piatu.
Aku masih amnesia. Tapi aku berubah jadi "gila". Tangisku adalah tangis seseguk tertahan. Tangis yang tumpah saat kesendirian. Tangis yang tumpah di tengah malam. Aku susah tidur. Orang pikir aku tak butuh tisu. Tak ada yang tahu, aku selalu menyimpan sapu tangan di saku.
Hatiku dingin. Pikiranku dingin. Dan aku, berusaha untuk tidak lupa agar bisa berempati.
Hari ini, saat aku menuliskan ini, sebuah SMS mengggah kesadaranku. lagi-lagi aku terpukul. Dalam isak yang semakin dalam dan tertahan. Entahlah. Ibu, mertua kakak perempuanku, perempuan yang kami panggil ibu, dan kuharapkan pengganti mama, perempuan yang kukenal di pernikahan kakakku, dia juga kembali pada Tuhan. Apa Tuhan salah? Enggak, Tuhan enggak salah. Tapi aku yang belum siap. Aku sesenguk. Menahan bening yang mau tumpah di kelopak mata.
Aku histeris di telepon. Aneh, bukannya melipur abang ipar dan kakak, akulah yang ditenangkan. Aku ingin berhenti dengan rasa dingin ini. Hari ini aku kembali terluka. Bagaimana caranya membenahi hari dan menutup lubang di dada ini?
Ps: Kupikir cukup sudah ya Tuhan...
Janganlah membawaku ke dalam percobaan tetapi lepaskanlah daripada yang jahat. Termasuk pikiran jahat, logika manusia yang tak lurus, pemberontakan, dan sejenisnya yang membuat tertekan. Amin!
Jujur, di satu sisi dari diri saya, sudah jenuh dengan itu. Bukan sekali dua, hati ini tersayat peristiwa menyakitkan yang datang atas nama kematian. Menyisakan lubang di dada.
Kejadian pertama aku nggak ingat betul. Tapi itu menyisakan luka bertahun-tahun. Abang tertuaku meniggal dunia saat aku masih kelas 5 SD. Waktu itu dia masih duduk di kelas 3 SMU dan akan segera mengikuti ujian akhir nasional. Tepat seminggu sebelum ujian,dia meninggal dunia.
Waktu itu aku belum terlalu paham dengan tangis dan luka. Padahal, dia abang terdekatku. Dia orang yang paling aku sayang. Ketika dia "mati" aku sedang bersekolah. Aku dijemput abangku yang satu lagi, beda dua tahun denganku, dia bilang, "Abang kita sudah mati." Aku berbenah, aku tak menangis, dan aku ikut pulang. Tapi aku tak ingat apa-apa sampai kemudian aku sadar sedang ada di rumah sakit. Aku opname. Kata dokter aku kena demam berdarah.
Sebulan lebih aku tak sekolah. Aku lemas.
Luka kedua, aku ingat betul. Itu di bulan Agustus 2001. Aku baru saja dua bulan duduk di bangku kelas 3 SMA. Bapakku mati. Ya... bapakku mati. Bapakku mati sodara-sodara. Dan luka itu menganga kembali,sampai aku lupa bagaimana rasanya sakit.
Orang yang paling kusayang, serta sempat jadi orang paling kubenci, dia pergi. Tak ada lagi tempat berlari untuk bermanja, tempat meletakkan kepala di dadanya ketika aku sangat bahagia menjadi juara kelas, tempat meletakkan kepala saat aku sedih, orang yang membelikan tas baru sebagai kejutan, orang yang membelikan sepatu saat sol sepatuku sudah aus, orang yang akan selalu berkata, "kamu kenapa anakku?" orang yang akan membelikan jam baru di hari ulang tahunku. Tak ada lagi. Dan aku... paham rasanya dingin.
Aku benar-benar mengerti rasa dingin di hati.
Bertahun-tahun, rasa itu kupendam. Menjadi kelu yang membeku hingga saat ada teman yang mengalami kejadian serupa, aku seolah tanpa reaksi. Dingin. Seolah itu bukan hal yang menyedihkan. Aku hampir lupa menangis dengan cara yang tengah mereka lakukan. Ya, aku memang telah lupa.
Tapi aku kembali diingatkan saat kepergian keponakan kecilku. Igo. Sedikit. Dan aku masih amnesia. Pun saat mama meninggalkanku. Aku benar-benar yatim piatu.
Aku masih amnesia. Tapi aku berubah jadi "gila". Tangisku adalah tangis seseguk tertahan. Tangis yang tumpah saat kesendirian. Tangis yang tumpah di tengah malam. Aku susah tidur. Orang pikir aku tak butuh tisu. Tak ada yang tahu, aku selalu menyimpan sapu tangan di saku.
Hatiku dingin. Pikiranku dingin. Dan aku, berusaha untuk tidak lupa agar bisa berempati.
Hari ini, saat aku menuliskan ini, sebuah SMS mengggah kesadaranku. lagi-lagi aku terpukul. Dalam isak yang semakin dalam dan tertahan. Entahlah. Ibu, mertua kakak perempuanku, perempuan yang kami panggil ibu, dan kuharapkan pengganti mama, perempuan yang kukenal di pernikahan kakakku, dia juga kembali pada Tuhan. Apa Tuhan salah? Enggak, Tuhan enggak salah. Tapi aku yang belum siap. Aku sesenguk. Menahan bening yang mau tumpah di kelopak mata.
Aku histeris di telepon. Aneh, bukannya melipur abang ipar dan kakak, akulah yang ditenangkan. Aku ingin berhenti dengan rasa dingin ini. Hari ini aku kembali terluka. Bagaimana caranya membenahi hari dan menutup lubang di dada ini?
Ps: Kupikir cukup sudah ya Tuhan...
Janganlah membawaku ke dalam percobaan tetapi lepaskanlah daripada yang jahat. Termasuk pikiran jahat, logika manusia yang tak lurus, pemberontakan, dan sejenisnya yang membuat tertekan. Amin!
Label:
Curcol
Senin, 04 April 2011
Mengejar Kertas
Mengejar kertas lepas, rasanya seperti mengejar seolah tidak akan teraih.
Terempas, terbang, dibawa angin. Padahal sebenarnya kita hanya perlu sedikit bersabar dan percaya. Dengan antusias tetap mengejarnya.
Lalu nanti, saat tiba waktunya, alam semesta, menunjuk angin menuntunnya ke tepian. Tepat di depan kakimu.
Begitukah hidup?
Selamat ulang tahun Eka!
*Tadi siang aku berlari mengejar selembar komik yang terlepas di jalan raya. Dihempas angin, terbang sekian puluh meter sampai kemudian angin alam memerintahkannya ke tepian, tepat di bawah kaki.
Terempas, terbang, dibawa angin. Padahal sebenarnya kita hanya perlu sedikit bersabar dan percaya. Dengan antusias tetap mengejarnya.
Lalu nanti, saat tiba waktunya, alam semesta, menunjuk angin menuntunnya ke tepian. Tepat di depan kakimu.
Begitukah hidup?
Selamat ulang tahun Eka!
*Tadi siang aku berlari mengejar selembar komik yang terlepas di jalan raya. Dihempas angin, terbang sekian puluh meter sampai kemudian angin alam memerintahkannya ke tepian, tepat di bawah kaki.
Label:
Curcol
Ciko Mencari Ibu
Ciko pagi tadi terlepas setelah hampir dua bulan ia kami kurung di belakang rumah. Tepat setelah ibu pulang ke surga.
Tadi pagi, saat lepas, pikiran ciko hanya satu, mencari ibu.
Ia berlari ke kamar ibu, duduk didepannya, lalu menggaruk-garuk pintu sambil merintih pelan. Suaranya pilu dan rindu.
"Tak ada ibu," kataku. Dia merintih pelan. "Tak ada ibu," kataku lagi. Hampir marah. Antara teriak dan suara tertahan.
Setitik air basah di mataku. Kulihat anjing putih itu, Ciko juga.
*peluk kangen untuk ibu di surga
Tadi pagi, saat lepas, pikiran ciko hanya satu, mencari ibu.
Ia berlari ke kamar ibu, duduk didepannya, lalu menggaruk-garuk pintu sambil merintih pelan. Suaranya pilu dan rindu.
"Tak ada ibu," kataku. Dia merintih pelan. "Tak ada ibu," kataku lagi. Hampir marah. Antara teriak dan suara tertahan.
Setitik air basah di mataku. Kulihat anjing putih itu, Ciko juga.
*peluk kangen untuk ibu di surga
Label:
Curcol
Selasa, 22 Maret 2011
Saturnus
Air kehidupan
sumber segala hidup
mengairlah tirtaku
tanahku gersang
bumiku galau
tirtaku
mengalirlah
lepas galauku
sumber segala hidup
mengairlah tirtaku
tanahku gersang
bumiku galau
tirtaku
mengalirlah
lepas galauku
Label:
Puisi
Senin, 17 Januari 2011
Biru
Seminggu yang lalu, bukan, kurasa sebulan lalu, ah, tak terasa, hidupku masih berjalan normal, sampai kemudian, mama jatuh sakit.
Hidupku berubah. Rasanya tiap hari harus berkejaran dengan rutinitas. Semua berjalan begitu stagnan. A ke B, B ke C, dan seterusnya sampai semuanya mengulang lagi ke A. Dari kerjaan rumah, kantor, mengurus mama, hidupku berputar2 di situ saja.
Belum lagi pekerjaan baruku, semuanya serasa dimulai dari situ. Menyita seluruh hidupku. Apakah ini kerja sesungguhnya? Lantas mengapa aku merasa sangat tertekan? Aku belum tau jawabnya.
Seperti juga irama hidupku.
Benar kata orang, tidak ada yang pasti, termasuk yg satu ini, entah kapan pastinya akan berakhir.
Aku mulai berpikir, di bagian mana letak tak beresnya jalanku. Entahlah. Yang aku tahu, aku, masih berputar-putar di ritme yang sama.
Hidupku berubah. Rasanya tiap hari harus berkejaran dengan rutinitas. Semua berjalan begitu stagnan. A ke B, B ke C, dan seterusnya sampai semuanya mengulang lagi ke A. Dari kerjaan rumah, kantor, mengurus mama, hidupku berputar2 di situ saja.
Belum lagi pekerjaan baruku, semuanya serasa dimulai dari situ. Menyita seluruh hidupku. Apakah ini kerja sesungguhnya? Lantas mengapa aku merasa sangat tertekan? Aku belum tau jawabnya.
Seperti juga irama hidupku.
Benar kata orang, tidak ada yang pasti, termasuk yg satu ini, entah kapan pastinya akan berakhir.
Aku mulai berpikir, di bagian mana letak tak beresnya jalanku. Entahlah. Yang aku tahu, aku, masih berputar-putar di ritme yang sama.
Label:
cucol
Jumat, 26 November 2010
Asmara

KAU BAKAR AKU DENGAN MERAH PADAM CINTA
BAGAIMANA LAGI AKU DAPAT MELAWAN
MENOLAK
AKU TLAH TERIKAT
BERKERATAK PADA BARA ASMARA
TOLONG
KASIHANI AKU
JANGAN IKAT TERLALU ERAT DENGAN RASA INI
AKU INGAT KAMU
HUJAN MALAM INI
RASA INI
AKU INGAT KAMU
*foto minjam dari Laconic software
Label:
Puisi
Sajak Bulan Purnama

BULAN SEMPURNA MALAM INI
ADA RASA GANJIL YANG MUNCUL
KETIKA KONON SERIGALA MENGAUM DI SANA
DAUN-DAUN KELABU KEPERAKAN
SEDAP MALAM BERAROMA SURGA
BATU-BATU TAMAN
BINATANG MALAM
ANGIN KECIL-KECIL
KISAH CUACA
Label:
Puisi
Kepada Senja

UJUNG SENJA
TEMPAT KITA AKAN BERCENGKRAMA
LARILAH KITA KE SANA
MENEBUS HARI-HARI YANG TERLEWATKAN
DAN WAKTU KITA BIKIN MATI
UJUNG SENJA KENAPA TAK PERCEPAT HARI?
Label:
Puisi
Pekerjaan Baru
Selamat datang di dunia baru. Terasa asing, tak biasa, dan membingungkan. Seperti rasa ketika Colombus menemukan benua baru bernama Amerika.
Here i am. Di dunia asing yang harus kugeluti, kukenal dan cintai, sebatas aku mampu. Selamat datang. Semoga Betah. Kerja maksimal, tetap punya target, dan rajin mengoreksi diri :)
Here i am. Di dunia asing yang harus kugeluti, kukenal dan cintai, sebatas aku mampu. Selamat datang. Semoga Betah. Kerja maksimal, tetap punya target, dan rajin mengoreksi diri :)
Langgan:
Entri (Atom)