<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359</id><updated>2011-08-29T05:21:51.490-07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='About Medan'/><category term='Kesehatan'/><category term='Curcol'/><category term='traveloge'/><category term='Budaya'/><category term='Craving'/><category term='Fenomena'/><category term='tokoh'/><category term='Writing'/><category term='Cerpen'/><category term='Gaya Hidup'/><category term='Hobby'/><category term='cucol'/><title type='text'>Secret Garden</title><subtitle type='html'>Rahasia untuk Diceritakan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-5786940515146501923</id><published>2011-05-10T00:16:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T00:29:07.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Tanpamu</title><content type='html'>hari tanpa kamu seperti matahari tanpa hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minggu tanpa kamu seperti minggu tanpa "u"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tanpa kamu seperti aku tanpa 'K'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa tanpa kamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-5786940515146501923?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/5786940515146501923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/05/tanpamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/5786940515146501923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/5786940515146501923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/05/tanpamu.html' title='Tanpamu'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-3399263955070914418</id><published>2011-04-21T01:20:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T02:23:02.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curcol'/><title type='text'>Dingin</title><content type='html'>Kadang aku berpikir tentang bagaimana rasanya mengulang kembali rasa ketika engkau harus melepas orang yang kau sayang. Melepas tidak untuk sesaat. Tapi untuk sesuatu yang bernama keabadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, di satu sisi dari diri saya, sudah jenuh dengan itu. Bukan sekali dua, hati ini tersayat peristiwa menyakitkan yang datang atas nama kematian. Menyisakan lubang di dada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian pertama aku nggak ingat betul. Tapi itu menyisakan luka bertahun-tahun. Abang tertuaku meniggal dunia saat aku masih kelas 5 SD. Waktu itu dia masih duduk di kelas 3 SMU dan akan segera mengikuti ujian akhir nasional. Tepat seminggu sebelum ujian,dia meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku belum terlalu paham dengan tangis dan luka. Padahal, dia abang terdekatku. Dia orang yang paling aku sayang. Ketika dia "mati" aku sedang bersekolah. Aku dijemput abangku yang satu lagi, beda dua tahun denganku, dia bilang, "Abang kita sudah mati." Aku berbenah, aku tak menangis, dan aku ikut pulang. Tapi aku tak ingat apa-apa sampai kemudian aku sadar sedang ada di rumah sakit. Aku opname. Kata dokter aku kena demam berdarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lebih aku tak sekolah. Aku lemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka kedua, aku ingat betul. Itu di bulan Agustus 2001. Aku baru saja dua bulan duduk di bangku kelas 3 SMA. Bapakku mati. Ya... bapakku mati. Bapakku mati sodara-sodara. Dan luka itu menganga kembali,sampai aku lupa bagaimana rasanya sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang paling kusayang, serta sempat jadi orang paling kubenci, dia pergi. Tak ada lagi tempat berlari untuk bermanja, tempat meletakkan kepala di dadanya ketika aku sangat bahagia menjadi juara kelas, tempat meletakkan kepala saat aku sedih, orang yang membelikan tas baru sebagai kejutan, orang yang membelikan sepatu saat sol sepatuku sudah aus, orang yang akan selalu berkata, "kamu kenapa anakku?" orang yang akan membelikan jam baru di hari ulang tahunku. Tak ada lagi. Dan aku... paham rasanya dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar mengerti rasa dingin di hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun, rasa itu kupendam. Menjadi kelu yang membeku hingga saat ada teman yang mengalami kejadian serupa, aku seolah tanpa reaksi. Dingin. Seolah itu bukan hal yang menyedihkan. Aku hampir lupa menangis dengan cara yang tengah mereka lakukan. Ya, aku memang telah lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku kembali diingatkan saat kepergian keponakan kecilku. Igo. Sedikit. Dan aku masih amnesia. Pun saat mama meninggalkanku. Aku benar-benar yatim piatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih amnesia. Tapi aku berubah jadi "gila". Tangisku adalah tangis seseguk tertahan. Tangis yang tumpah saat kesendirian. Tangis yang tumpah di tengah malam. Aku susah tidur. Orang pikir aku tak butuh tisu. Tak ada yang tahu, aku selalu menyimpan sapu tangan di saku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku dingin. Pikiranku dingin. Dan aku, berusaha untuk tidak lupa agar bisa berempati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, saat aku menuliskan ini, sebuah SMS mengggah kesadaranku. lagi-lagi aku terpukul. Dalam isak yang semakin dalam dan tertahan. Entahlah. Ibu, mertua kakak perempuanku, perempuan yang kami panggil ibu, dan kuharapkan pengganti mama, perempuan yang kukenal di pernikahan kakakku, dia juga kembali pada Tuhan. Apa Tuhan salah? Enggak, Tuhan enggak salah. Tapi aku yang belum siap. Aku sesenguk. Menahan bening yang mau tumpah di kelopak mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku histeris di telepon. Aneh, bukannya melipur abang ipar dan kakak, akulah yang ditenangkan. Aku ingin berhenti dengan rasa dingin ini. Hari ini aku kembali terluka. Bagaimana caranya membenahi hari dan menutup lubang di dada ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps: Kupikir cukup sudah ya Tuhan... &lt;br /&gt;Janganlah membawaku ke dalam percobaan tetapi lepaskanlah daripada yang jahat. Termasuk pikiran jahat, logika manusia yang tak lurus, pemberontakan, dan sejenisnya yang membuat tertekan. Amin!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-3399263955070914418?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/3399263955070914418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/04/dingin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3399263955070914418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3399263955070914418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/04/dingin.html' title='Dingin'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2966936061025614122</id><published>2011-04-04T10:23:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T10:24:40.767-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curcol'/><title type='text'>Mengejar Kertas</title><content type='html'>Mengejar kertas lepas, rasanya seperti mengejar seolah tidak akan teraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terempas, terbang, dibawa angin. Padahal sebenarnya kita hanya perlu sedikit bersabar dan percaya. Dengan antusias tetap mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu nanti, saat tiba waktunya, alam semesta, menunjuk angin menuntunnya ke tepian. Tepat di depan kakimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitukah hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun Eka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tadi siang aku berlari mengejar selembar komik yang terlepas di jalan raya. Dihempas angin, terbang sekian puluh meter sampai kemudian angin alam memerintahkannya ke tepian, tepat di bawah kaki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2966936061025614122?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2966936061025614122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/04/mengejar-kertas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2966936061025614122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2966936061025614122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/04/mengejar-kertas.html' title='Mengejar Kertas'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-4343260886999521828</id><published>2011-04-04T10:20:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T10:21:34.171-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curcol'/><title type='text'>Ciko Mencari Ibu</title><content type='html'>Ciko pagi tadi terlepas setelah hampir dua bulan ia kami kurung di belakang rumah. Tepat setelah ibu pulang ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, saat lepas, pikiran ciko hanya satu, mencari ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berlari ke kamar ibu, duduk didepannya, lalu menggaruk-garuk pintu sambil merintih pelan. Suaranya pilu dan rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada ibu," kataku. Dia merintih pelan. "Tak ada ibu," kataku lagi. Hampir marah. Antara teriak dan suara tertahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setitik air basah di mataku. Kulihat anjing putih itu, Ciko juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*peluk kangen untuk ibu di surga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-4343260886999521828?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/4343260886999521828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/04/ciko-mencari-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4343260886999521828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4343260886999521828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/04/ciko-mencari-ibu.html' title='Ciko Mencari Ibu'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-659095811130052886</id><published>2011-03-22T02:09:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T02:21:02.051-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Saturnus</title><content type='html'>Air kehidupan&lt;br /&gt;sumber segala hidup &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengairlah tirtaku&lt;br /&gt;tanahku gersang&lt;br /&gt;bumiku galau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tirtaku&lt;br /&gt;mengalirlah&lt;br /&gt;lepas galauku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-659095811130052886?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/659095811130052886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/03/saturnus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/659095811130052886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/659095811130052886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/03/saturnus.html' title='Saturnus'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-7079874457645432268</id><published>2011-01-17T18:37:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T18:39:43.944-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cucol'/><title type='text'>Biru</title><content type='html'>Seminggu yang lalu, bukan, kurasa sebulan lalu, ah, tak terasa, hidupku masih berjalan normal, sampai kemudian, mama jatuh sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupku berubah. Rasanya tiap hari harus berkejaran dengan rutinitas. Semua berjalan begitu stagnan. A ke B, B ke C, dan seterusnya sampai semuanya mengulang lagi ke A. Dari kerjaan rumah, kantor, mengurus mama, hidupku berputar2 di situ saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi pekerjaan baruku, semuanya serasa dimulai dari situ. Menyita seluruh hidupku. Apakah ini kerja sesungguhnya? Lantas mengapa aku merasa sangat tertekan? Aku belum tau jawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga irama hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata orang, tidak ada yang pasti, termasuk yg satu ini, entah kapan pastinya akan berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai berpikir, di bagian mana letak tak beresnya jalanku. Entahlah. Yang aku tahu, aku, masih berputar-putar di ritme yang sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-7079874457645432268?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/7079874457645432268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/01/biru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7079874457645432268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7079874457645432268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2011/01/biru.html' title='Biru'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-6854251372915945927</id><published>2010-11-26T23:19:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T23:28:29.907-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Asmara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCyu2M2g5I/AAAAAAAAAG0/jxl4oanp6-E/s1600/heart-of-flame-wallpaper-1600x1200.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCyu2M2g5I/AAAAAAAAAG0/jxl4oanp6-E/s320/heart-of-flame-wallpaper-1600x1200.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544127659186226066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KAU BAKAR AKU DENGAN MERAH PADAM CINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA LAGI AKU DAPAT MELAWAN&lt;br /&gt;MENOLAK&lt;br /&gt;AKU TLAH TERIKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKERATAK PADA BARA ASMARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOLONG&lt;br /&gt;KASIHANI AKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN IKAT TERLALU ERAT DENGAN RASA INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU INGAT KAMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN MALAM INI&lt;br /&gt;RASA INI&lt;br /&gt;AKU INGAT KAMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*foto minjam dari Laconic software&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-6854251372915945927?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/6854251372915945927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/asmara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6854251372915945927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6854251372915945927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/asmara.html' title='Asmara'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCyu2M2g5I/AAAAAAAAAG0/jxl4oanp6-E/s72-c/heart-of-flame-wallpaper-1600x1200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8504197043363378668</id><published>2010-11-26T23:03:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T23:07:24.005-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak Bulan Purnama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCtzYmHKEI/AAAAAAAAAGs/KJMgmh2muQI/s1600/purnama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCtzYmHKEI/AAAAAAAAAGs/KJMgmh2muQI/s320/purnama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544122239580317762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BULAN SEMPURNA MALAM INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA RASA GANJIL YANG MUNCUL&lt;br /&gt;KETIKA KONON SERIGALA MENGAUM DI SANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAUN-DAUN KELABU KEPERAKAN&lt;br /&gt;SEDAP MALAM BERAROMA SURGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATU-BATU TAMAN&lt;br /&gt;BINATANG MALAM&lt;br /&gt;ANGIN KECIL-KECIL&lt;br /&gt;KISAH CUACA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8504197043363378668?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8504197043363378668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/sajak-bulan-purnama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8504197043363378668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8504197043363378668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/sajak-bulan-purnama.html' title='Sajak Bulan Purnama'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCtzYmHKEI/AAAAAAAAAGs/KJMgmh2muQI/s72-c/purnama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-4731212408885182557</id><published>2010-11-26T22:46:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T22:54:34.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kepada Senja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCqkosf_aI/AAAAAAAAAGc/a7ulWTBv0Ig/s1600/senja.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCqkosf_aI/AAAAAAAAAGc/a7ulWTBv0Ig/s320/senja.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544118687669157282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;UJUNG SENJA&lt;br /&gt;TEMPAT KITA AKAN BERCENGKRAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LARILAH KITA KE SANA&lt;br /&gt;MENEBUS HARI-HARI YANG TERLEWATKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAN WAKTU KITA BIKIN MATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UJUNG SENJA KENAPA TAK PERCEPAT HARI?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-4731212408885182557?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/4731212408885182557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/kepada-senja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4731212408885182557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4731212408885182557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/kepada-senja.html' title='Kepada Senja'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TPCqkosf_aI/AAAAAAAAAGc/a7ulWTBv0Ig/s72-c/senja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-6143583357733402540</id><published>2010-11-26T02:26:00.001-08:00</published><updated>2010-11-26T02:28:36.341-08:00</updated><title type='text'>Pekerjaan Baru</title><content type='html'>Selamat datang di dunia baru. Terasa asing, tak biasa, dan membingungkan. Seperti rasa ketika Colombus menemukan benua baru bernama Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Here i am. &lt;/span&gt;Di dunia asing yang harus kugeluti, kukenal dan cintai, sebatas aku mampu. Selamat datang. Semoga Betah. Kerja maksimal, tetap punya target, dan rajin mengoreksi diri :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-6143583357733402540?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/6143583357733402540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/pekerjaan-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6143583357733402540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6143583357733402540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/pekerjaan-baru.html' title='Pekerjaan Baru'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8709501315793400127</id><published>2010-11-25T21:25:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:26:30.961-08:00</updated><title type='text'>Malaikat Kecil di Suatu Sore</title><content type='html'>Banyak pertemuan yang terjadi. Entah itu berarti atau tidak sama sekali. Mungkin sekadar mewarnai hidup tanpa mempengaruhi hari esok atau lusa. Seperti pertemuanku hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini luar biasa indah. Walaupun di luar hujan turun deras, membuat langit gelap dan cuaca tak bersahabat. Melihat cuaca, mungkin harusnya aku tak menganggap hari ini indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini lain. Perasaanku penuh. Anak itu begitu manis. Gio, itu namanya. Aku tahu karena berkali-kali ia menyebut namanya, dan berkali-kali pula lelaki tampan yang datang bersamanya memanggil namanya. Lelaki tampan itu memanggilnya abang Gio. Anak manis. Tapi ia memintaku memanggilnya Kiki. Jadi kupanggil ia Kiki.&lt;br /&gt;Akankah kami bertemu lagi? Dan... bila saat itu tiba, apakah kami masih saling mengenal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah... mata itu... Betapa cepat kami menjadi akrab. Hanya dalam hitungan menit yang tak lebih dari jari satu tangan. 3 menit itu kami bercerita. Ia bertanya aku sedang apa, apa yang sedang aku minum, kenapa kopi warnanya pekat, apa kopi terbuat dari serangga semacam kecoa? Aku tertawa. Kalau dari kecoa tentu aku tak mau minum minuman menjijikkan seperti itu. Bukankah kecoa itu menjijikkan kataku. “Tidak tante, kecoa itu lucu,” jawabnya jenaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia harus segera pergi, tak lama setelah pesanan kakak lelakinya, oh tidak, mungkin saja papanya, mungkin juga omnya, sudah selesai. Kiki masih menempel di bangku di dekatku. Melihat apa yang kutulis saat lelaki itu memanggil namanya, “Gio, ayo... pulang. Maaf mbak, dia mengganggu ya?” katanya sambil menarik Kiki. Aku hanya tersenyum menjawab tak apa dan melanjutkan menulis. Kiki pulang dan melambaikan tangan berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lelaki tampan yang bersamanya menuntun tangannya keluar dari AW, dalam jarak 3 meter dari tempat dudukku, ia membalikkan badan. Wajah imutnya tersenyum, suara cemprengnya berusaha memberi sapaan terakhir. “Halo...” katanya sambil melambaikan tangan. “Kok halo,” kataku pelan sambil membalas lambaian tangannya. Apa itu punya makna lain. Insting anak kecil. Mungkin ini awal saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya, memberikan senyuman termanis pagi itu. Hatiku penuh.&lt;br /&gt;Lagi ia tersenyum,melambaikan tangan sekali lagi. Matanya begitu indah. Bahkan saat pintu kaca terbuka membawa tubuh kecilnya menjauh, dari balik pintu sekali lagi ia menoleh ke belakang. Memberiku lagi sebuah senyuman. Kulambaikan tangan. “Halo,” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tampan yang bersamanya kulihat merasa sangat sungkan. Ditariknya Kiki.&lt;br /&gt;Aku tahu aku terlalu berpikir banyak. Kiki pergi. Orang yang kutunggu tak juga datang. Untung ada Kiki. 3 senyumannya di pagi ini membuatku bahagia. Tuhan memberkatimu malaikat kecil. Entah kita akan bertemu atau tidak, sekali ini sosokmu menyihirku. Kau sudah lekat dalam kenangan. Aku menyimpannya di sini, di hatiku. Mesti sekali pertemuan kita, di AW yang juga kali pertama aku duduk manis di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku juga harus berterima kasih pada hujan. Hujan yang membawa malaikat kecil itu. Satu alasan lagi kenapa aku tak bisa membenci hujan. Aku ingin mandi hujan. Mem beri ragaku pada anugerah dari langit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8709501315793400127?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8709501315793400127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/malaikat-kecil-di-suatu-sore.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8709501315793400127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8709501315793400127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/malaikat-kecil-di-suatu-sore.html' title='Malaikat Kecil di Suatu Sore'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-4262398676436416316</id><published>2010-11-25T21:24:00.002-08:00</published><updated>2010-11-25T21:25:52.912-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Membingkai Matahari</title><content type='html'>Ini adalah puisi kolaborasi antara saya dan Andi Parlindungan Gultom. Balas-balasan via Facebook. Jadinya begini. Menurutku keren. Kami memang bakat jadi sastrawan. he he... Baris pertama saya dan selanjutnya Andi. Begitu seterusnya bergantian. Kalau ada genre puisi baru, kira2 ini apa namanya ya???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Membingkai matahari…&lt;br /&gt;Melukis langit&lt;br /&gt;Menulis cerita tentang merah saga..&lt;br /&gt;Merajut kala dalam warna raya&lt;br /&gt;Mencoba menhentikannya semau kita. Mengaturnya sesuka. Biar kita bisa terus menatapnya.Keindahan langit merah saga.&lt;br /&gt;Bukan hanya itu saja, ketika magenta melintas di antara merah saga, langit terbuka, menela alam raya, meninggalkan kenangan maya.&lt;br /&gt;Tapi kita tidak terluka. Bekas yang menganga menelan kita dalam ekstasi jiwa. Kita terpana.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-4262398676436416316?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/4262398676436416316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/percakapan-sepi_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4262398676436416316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4262398676436416316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/percakapan-sepi_25.html' title='Membingkai Matahari'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2555288008727483096</id><published>2010-11-25T21:24:00.001-08:00</published><updated>2010-11-25T21:24:26.731-08:00</updated><title type='text'>Percakapan Sepi</title><content type='html'>Gelas kosong&lt;br /&gt;Botol-botol hijau tak berisi&lt;br /&gt;Lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelas kosong&lt;br /&gt;Menyisakan bau basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan sepi&lt;br /&gt;Bergulir lari&lt;br /&gt;Menyisakan gelas kosong&lt;br /&gt;dalam wangi ragi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan sepi&lt;br /&gt;Mari kita minum lagi!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorake Beach, 10 Mei 2010&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2555288008727483096?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2555288008727483096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/percakapan-sepi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2555288008727483096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2555288008727483096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/percakapan-sepi.html' title='Percakapan Sepi'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2846363473112710443</id><published>2010-11-25T21:23:00.001-08:00</published><updated>2010-11-25T21:23:57.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sorake</title><content type='html'>langit tertusuk karang&lt;br /&gt;pekat menjelma karam&lt;br /&gt;duhai peri pencinta warna&lt;br /&gt;miliki angin dalam kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan berbisik&lt;br /&gt;aku terusik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duhai kawan kencana sejuk pantai&lt;br /&gt;duhai kencana sejuk sorake&lt;br /&gt;bisikkan aku malam sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorake Beach&lt;br /&gt;10 Mei 2010&lt;br /&gt;Di antara orang yang berisik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2846363473112710443?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2846363473112710443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/sorake.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2846363473112710443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2846363473112710443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/sorake.html' title='Sorake'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-4555859116635046552</id><published>2010-11-25T21:22:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:23:14.049-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Edmund</title><content type='html'>Waktu...&lt;br /&gt;Izinkan kami bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak...&lt;br /&gt;Beri kami dekat.&lt;br /&gt;Satukan kami dalam ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ia tahu,&lt;br /&gt;kenalku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami bisa bertamu&lt;br /&gt;untuk menjadi empu&lt;br /&gt;hatiku hatinya&lt;br /&gt;hatinya hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka waktu,&lt;br /&gt;Biarkan kami bertemu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-4555859116635046552?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/4555859116635046552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/edmund.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4555859116635046552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4555859116635046552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/edmund.html' title='Edmund'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8026060346156424733</id><published>2010-11-25T21:16:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:17:33.906-08:00</updated><title type='text'>Ini Indonesia?</title><content type='html'>Dari mana ditakar nilai keindonesiaan kita? Apakah dari bahasa yang kita gunakan? Atau dari nama yang melekat di diri kita. Seperti nama saya misalnya, bagi masyarakat sesuku saya, sangat mudah menilai bahwa saya adalah bagian dari mereka hanya dengan mengandalkan nama saja. Lalu apakah nilai keindonesiaan kita dinilai dari itu? Saya pikir tidak! Lalu apa keindonesiaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling pantas disebut dengan Keindonesiaan adalah sesuatu yang melekat dalam pikiran saat menyebutkan Indonesia. Sesuatu yang muncul dalam pikiran saat menyebut Indonesia. Buat saya, Indonesia selalu muncul sebagai negeri yang kaya raya bertanah subur dengan hasil alam yang melimpah. Seperti yang biasa saya terima sejak di bangku sekolah dasar. Perjalanan saya ke beberapa bagian kecil Indonesia mengukuhkannya. Dalam setiap perjalanan saya saya selalu bertemu dengan keindahan, pemandangan tropis yang selalu membuat saya berdecak kagum. Keanekaragaman budaya, keramahannya, kesediaannya menolong yang itu selalu bergandengan dengan ironi. Di dekatnya, kemiskinan selalu melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak lahir sebagai anak orang kaya. Saya akrab dengan dunia pasar dan keseharian masyarakat awam. Tapi saya masih bisa bersekolah hingga tingkat universitas -walau untuk itu mesti membuat keluarga dan diri sendiri sedikit ngos-ngosan- bisa makan tiga kali sehari, bisa sesekali hang out dengan teman di kafe, bisa membaca buku dan mengoleksi buku kesukaan, bahkan sesekali bisa travelling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perjalanan kali ini, membuat saya tersentak. Ini Indonesia? Benarkah ini masih Indonesia? Di belahan manakah ia dalam peta kesejahteraan yang digaung-gaungkan itu? Apa ini sudah ada yang tahu? Atau memang sengaja tutup mata? Kenapa pembangunan tidak merata. Kata-kata itu terus menghantui pikiran. Mencoba mencari kepastian, membangunkan diri dari mimpi buruk sebuah realitas tetang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, saya bertugas sebagai penulis skrip untuk video profil sebuah lembaga swadaya masyarakat di Sumatera Utara. Bersama dengan dua orang pendamping dari yayasan, saya dan dua orang rekan kerja lainnya berangkat menuju sebuah desa kecil di Kecamatan Sibolangit, Sumatera Utara. Desa Laja namanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana itu bang?” tanya saya pada salah satu staf. “Ah, kau juga belum pernah kemari,” kata teman yang lain protes pada saya karena tidak tahu tempatnya. “Orang Karo juga tidak semua tahu ya?” Sindirnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah… tak usah dibahas lah, bang seberapa jauhnya. Nanti jadi enggak selera berangkat dan mual sebelum sampai,” kata staf yayasan yang lain sambil bercanda. Dalam pikirian, saya hanya membayangkan rute perjalanan yang hanya jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekitar 3 jam lah, tapi kita harus naik motor trail,” lanjutnya lagi. Bayangan terburuk saya ternyata hanya separuh dari kenyataan perjalanan sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal 5 nasi bungkus, minuman botol, rasa percaya diri, mengendarai 3 sepeda motor kami menuju lokasi tujuan. Meninggalkan jalan besar Jamin Ginting kami memasuki perkampungan masyarakat Karo di Simpang Pasar Baru, Sibolangit. Melewati jalanan Desa Rumah Kinangkung. Jalanan beraspal sudah habis. Jalanan tanah sudah menyambut di depan. 300 meter kemudian, jalanan tanah sudah habis diganti jalanan tanah basah dan licin kemudian berganti dengan jalanan berlumpur. Walah… apa ini? Butuh tenaga ekstra agar motor tidak terhalang jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang berada dalam boncengan harus selalu berpegangan erat. Gila… saya tidak akan berani mengendarai motor di jalanan seperti itu. Di kiri atau kanan jalan –bergantian- jurang dalam dan dangkal siap menampung. Sementara itu jalanan berlumpur terkadang berbelok menurun dan menukik tajam ke atas diganti jalanan berbatu besar dan berserpih. Beberapa kali saya harus turun dan berjalan kaki demi keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celana jeans saya sudah digulung ke atas agar nyaman. Sepatu kets saya sudah tidak jelas lagi bentuknya. Bercampur tanah lembek dan rumput kering. Kepala saya panas didera angin gerah siang. Teman saya Anto dan Onny, harus merelakan sandal gunungnya yang tak kuat menarik gravitasi dari lumpur. Sesekali motor harus didorong atau diangkat. Sekali kami melihat ular melintas mencoba menyambut perjalanan kami. Sembari tak lupa juga kami menikmati keindahan alam. Pengobat lelah dan penat. Menghirup hijau klorofil dan keluasan semesta. Saya merasa kerdil di tengah alam begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melewati beberapa perkampungan. Kami telah masuk ke dalam hutan tropis. Saat beristirahat setelah setengah perjalanan sebuah pemandangan membuat saya tidak bisa tidur malamnya. Dua bocah kecil berjalan akrab di tengah hutan itu. Mereka mengenakan seragam putih merah. Baru pulang sekolah. Sebuah kantong plastik menjadi wadah penyimpan buku-buku. Seragam putih itu telah terkena lumpur, rok dan celana merah itu telah berubah warna. Tidak ada alas kaki. Kaki-kaki mungil itu penuh lumpur dan bersisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan mereka ke sekolah membutuhkan waktu 2 jam berjalan kaki. Mereka telah melewati jalanan yang kami lalui tadi. Juga melewati sungai yang kami lalui atau jalan potong lain yang sama saja. Namun bagi mereka itu sudah menjadi keseharian dan tak perlu diperdebatkan apalagi dikeluhkan. Sambil berjalan mereka bisa mencari buah hutan, serangga hutan, bermain rumput, mencari belalang atau capung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hati kecil saya sulit menerima. “Ya… Tuhan… Terima kasih buat hari ini. Saya bisa melihat dari dekat, belajar banyak dari mereka, dan menjejakkan kaki pada bumi.” Kesadaran yang tumbuh. Dan hati kecil saya masih terus bertanya, “Di bagian mana Indonesia lagi yang seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Desa Laja, kami disambut dengan suguhan buah durian dan duku. Rasa lelah masih tersisa. Tapi saya menyerap banyak hal, termasuk gotong-royong memperbaiki sumber air bersih di sungai yang terkena longsor, tanpa pamrih demi kepentingan bersama. Inilah Indonesia yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu tidak terbayangkan bila harus tinggal di sana. Lain ceritanya kawan jika saya memang sedang ingin trekking ke dalam hutan. Untuk tinggal di sebuah tempat seperti itu, saya berdoa, “Tuhan, jangan, ku mohon!.” Satu hal lagi yang akan terus saya ingat, seberapa berjelagapun kemiskinan itu, miskin nurani adalah yang paling hina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8026060346156424733?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/03/ini-indonesia/' title='Ini Indonesia?'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8026060346156424733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/ini-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8026060346156424733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8026060346156424733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/ini-indonesia.html' title='Ini Indonesia?'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2776862212999815974</id><published>2010-11-25T21:10:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:12:51.153-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cinta dalam Selembar Sketsa</title><content type='html'>Dengung lebah terdengar begitu rupa. Dekat sekali. Rei tak bisa tidur padahal malam semakin larut. Suara itu sangat mengganggu. Membuat malam dingin sehabis hujan tak berarti bagi tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngung… Ngung…. Ngung… Suara itu sayup dibawa angin. Menembus jendela dan celah udara kamar . Lalu suara itu jatuh menjadi kegaduhan yang menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngung… ngung..ngung.. . Ngung….ngungggggg…. ngung…. Cepat sekali. Iramanya terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei terbangun. Membuka mata dan mendengar awas sekeliling. Malam ini ia sendiri di rumah. Tak ada siapa. Bunda dan Rana adiknya sedang pergi ke Binjai. Menghadiri pernikahan anak Tante Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei membalik badan, berharap perubahan posisi tidur dapat mengurangi kebisingan. Sialnya tidak. Suara tak mau berdamai. Ngung… ngung… Nnggunggg… Enggggg. Ngung… ngung… engggg… ngung…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei membalik badan sekali lagi. Tak ada hasil. Menutup kepala dengan bantal. Menekan rapat pada dua telinga. Tak ada hasil. Dengung lebah semakin terdengar keras. Rei menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arghhhh… Sialan! Malam jahanam!” marah Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah pada siapa. Mungkin pada malam, mungkin pada dengung lebah, mungkin pada dirinya sendiri. Mungkin tak pada siapaun. Tangan Rei terkepal. Menghantam hampa udara. Gurat marah terlukis di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bangkit. Dua lompatan ditambah tiga langkah panjang, Rei sudah ada di dekat jendela. Dengan kasar ia membuka daun jendela. Angin dingin langsung menyerbu. Seketika keributan lebah berhenti. Sepi. Rei menatap keluar , tak ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin dingin lembab masuk ke paru-paru. Rei memejamkan mata. Sisa-sisa tarian bintang menari di kelopak matanya. Lalu, suara itu datang lagi. Kali ini tak gaduh. Instrumen lebah naik turun merdu. Menyatu dengan dinginnya udara malam yang masuk ke paru-paru. Nnnnggg…. na… na… na… Nnnng…. Mmmm….mmmm….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei merasa tak mengenal dirinya. Ia tersenyum. Senyum yang selama ini bersembunyi mekar menghiasi bibirnya. Damai tak terdefensi. Rei tersenyum lebar. Selebar yang ia mampu ditemani sederet gigi yang rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor lebah betina raksasa menari di antara kuntum-kuntum bunga Begonia yang menjuntai turun di teras kamar. Tepat saat Rei membuka mata. Ia lah sang ratu. Garis hitam kuning mempercantik tarian lebah madu di antara ungu merah begonia. Rei terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan! Malam jahanam!” Hardik Rei sambil menyambar selembar kertas dan pensil. Rei asik melukis. Mengambar sketsa. Kesenangan yang sebulan terakhir tak pernah lagi ia lakukan. Ia telah kalah taruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Rei. Kelas 3 SMU. Senang melukis, jalan-jalan, fotografi, menghayal, dan melakukan hal-hal konyol. Seperti kebanyakan anak abege lainnya. Seperti juga kalian. Tentu saja. Aku tahu itu. Kalian juga suka melakukan hal-hal konyol kan? He…he… Aku juga. Saat aku masih SMU. Bahkan sampai sekarang. J&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini cerita tentang Rei, bukan aku. Rei itu suka melukis. Tanya saja ibunya, maka ia akan menjawab iya. Atau kalau tak percaya, datang saja ke rumahnya. Rumahnya tak jauh dari sini. Hanya sepelemparan batu. Di sana, di satu ruangan yang Rei namakan studio mini, ada banyak lukisan telah jadi plus perlengkapan melukis. Semua itu milik Rei. Bukan milikku. Percayalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kubilang tadi, Rei suka melukis, sketsa, apa saja. Mulai dari bunga, tanaman, pohon,gedung pemandangan, benda-benda, dan orang. Apa saja. Yang paling disukai Rei adalah melukis objek hidup. Hewan dan manusia. Sesuatu yang bernilai. Rei menyebutnya humanis dan eksotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei bisa melukis kapan sajapun ia suka. Sejak aku mengenalnya, dulu, sejak kecil, ia melukis kapanpun ia mau. Di taman, di jalan, di rumah, bahkan saat jam pelajaran. Apalagi guru yang tak ia sukai, itu kerap jadi objek. Objek celaan lah pastinya. He..he… Layaknya anak abege seperti juga kalian. Kan udah kubilang tadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuma mau bilang, bagi Rei, melukis dan menggambar sketsa itu adalah darahnya. Darah! Kalian tau darah kan? Yah.. yang itu, yang mengalir di dalam tubuh. Zat hidup tempat para nutrisi, mineral, dan semua kebutuhan manusia mengalir di dalamnya. Seperti itulah melukis dan menggambar bagi Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodohnya Rei, sebulan lalu ia berjudi. Menggadaikan jiwanya untuk kebodohan yang datang atas nama Cinta. Cinta taik kucing. Cinta yang tak pasti. Kuceritakan sedikit pada kalian. Mei lalu, Rei taruhan dengan Mohan. Teman bermain sejak SMP, kalau boleh dibilang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di koridor sekolah. Mohan berlari memanggil Rei. Karena hari Jumat, sekolah cepat sepi. Anak-anak sudah pada pulang. Perawakan mereka hampir mirip. Makanya tak heran, teman-teman sekolah mereka menyebut mereka kembar. Bagai pinang dibelah dua, satu mentah yang satunya lagi busuk. Hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What’s up bro?” tanya Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau ngomong serius sama kau. Tapi baik-baik kita cakapnya,” jawab Mohan memasang muka seserius-seriusnya sampai bikin Rei mau muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alah, apa sih, serius amirrrr…” balas Rei cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gini bro, ini masalah hati.” Mohan terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebisuan tiba-tiba menyeruak dari ruang tak bertuan, tak bernama. Rei juga terdiam. Mengerti arah pembicaraan Mohan. Percakapan yang sejak 6 bulan terakhir ia terus hindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yakin kau juga udah tahu,” Mohan setelah lima menit kebisuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, jadi gimana?” tanya Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga bisa kita didiamin terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo gitu kita serahin semua keputusan sama Meta,” balas Rei menjawab Mohan. Meta sahabat baik mereka berdua yang kini tengah menjadi rebutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meta bukan rebutan. Dia suka aku seperti dia suka kau. Dia ga mau nyakitin kita satupun. Semua tergantung kita. Kita bernegosiasi,” kata Mohan memilih istilah sok keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negosiasi, gaya kali kau,” canda Rei memecah kekakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku setuju, ga boleh kita berantam gara-gara soal taik burung kayak gitu,” tambah Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usulku kek gini, kita taruhan, sebulan. Tapi kita harus fair. Aku tahu kau cinta mati melukis. Sama kayak aku cinta mati sama basket. Nah, kita harus buktikan apa kita lebih cinta sama hobi, basket ato ngelukis ketimbang sama Meta. Kita enggak boleh melakukan hobi itu selama satu bulan. Di manapun,” terang Mohan panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus jujur sama diri sendiri,” tambah Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga boleh bohong,” tambah Mohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang ga ngelukis ato ngebasket selama sebulan, berarti dia cinta abis sama Meta. Dia yang menang! Gimana?” tantang Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jabat tangan penuh persahabatan menjadi awal pertaruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O em giiii… Bisa kalian bayangkan, tanpa melukis, Rei seperti tanpa darah. Tak hidup. Setengah mati. Zombie… Rei seperti tanpa nyawa dan hanya seonggok sampah. Lagi pula ia sudah kadung termakan omongan Aristoteles, seni itu adalah katarsis. Seni itu pembebasan, penyucian jiwa. Ga berseni Rei merasa dirinya kotor dan palsu. Ga ada tindakan kontlemplatif untuk membersihkan diri dari kesehariannya yang melelahkan. Poor Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei memang telah ditakdirkan kalah. Pertaruhan kalah Rei setelah malam dingin berangin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TARIAN RATU LEBAH”. Judul yang tertera pada lukisan kekalahan Rei. Paling tidak itu yang dipikirkan Rei esok paginya. Sampai kemudian….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rei, ayok nonton pensi sekolah si Meta,” ajak Mohan sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malas Rei mengangguk. Menyetujui ajakan karena sedang tak ada kerjaan, bergegas ke kamar dan mengganti celana pendeknya dengan celana panjang kasual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekor matanya menangkap sekilas tulisan pada selembar sketsa di atas meja. “TARIAN RATU LEBAH”. Sketsa tentang seorang ratu cantik berbusana lebah, menari indah di antara bunga-bunga Begonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya halus madu, pendek dengan potongan model cepak. Sayap-sayap kuning madunya lembut namun tangguh. Ah… Rei, mana ada ratu model begini, goda hatinya. Yang ada ratu itu rambutnya panjang, anggun, manja. Ah… dasar Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pergi, diraihnya sketsa itu. “TARIAN RATU LEBAH” kini aman dalam tas sandang kecil Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah menguap, Rei menyaksikan pensi sekolah Meta. Modern dance yang memuakkan, anak-anak cheers yang norak, tak ada yang berkesan. “Mudah-mudahan pertunjukan puncaknya bisa jadi hiburan,” pikir Rei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan, ia berjalan ke belakang panggung. Di sana para pemain operet penutup tengah bersiap-siap. Merias diri dan menghapalkan sebagian adegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei terkesiap. Di balik temaram cahaya ruang latihan, seorang perempuan berbalut gaun kuning madu menatap lekat padanya. Ia tersenyum. Bandana kuning madu bermotif bunga begonia kecil menghiasi rambut pendeknya. Hampir cepak. Rei serasa mengalami de ja vu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tengah menari. Menirukan tarian operet yang akan dilakonkan. Jantung Rei dalam hitungan detik kehilangan kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus menari, perempuan itu mendekati Rei, tersenyum manis lalu menjabat tangan Rei, berhenti tepat di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ratu,” katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggorokan Rei tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ratu,” ulangnya lagi. “Aku Ratu. Kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku? Aku? Aku lebah,” jawab Rei gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haha..ha…,” tawa Ratu pecah. “Iya aku memang Ratu lebah,” katanya berlalu pergi sambil menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Rei,” teriak Rei setelah kesadarannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rei…” Teriak Ratu dari jauh. “Senang ketemu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rei menarik sketsa dari tas kecilnya. “TARIAN RATU LEBAH”. Rei tersenyum. Seperti senyum di malam dingin berangin itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2776862212999815974?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/08/04/cinta-dalam-selembar-sketsa/' title='Cinta dalam Selembar Sketsa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2776862212999815974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/cinta-dalam-selembar-sketsa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2776862212999815974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2776862212999815974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/cinta-dalam-selembar-sketsa.html' title='Cinta dalam Selembar Sketsa'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-6516539885293479667</id><published>2010-11-25T21:06:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:09:44.341-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Dari Tiongkok ke Tanah Deli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO9Ay3-yLVI/AAAAAAAAAGM/jjWeUJVKDj4/s1600/masjid-raya-al-osmani.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO9Ay3-yLVI/AAAAAAAAAGM/jjWeUJVKDj4/s320/masjid-raya-al-osmani.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543720909081292114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, tidak pernah habisnya jadi sumber cerita. Sejarah masa lalunya tidak akan pernah habis pula untuk dibahas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah tempat di pinggiran kota Medan, di kenal sebagai Medan Labuhan. Letaknya tidak jauh dari pusat kota Medan. Sekitar setengah jam perjalanan. Di tempat ini dahulu terdapat pelabuhan awal perdagangan kota Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang perdagangan kota Medan, tidak terlepas dari datangnya para penjelajah dari berbagai negeri. Mulai dari kedatangan kaum kuli, pedagang, hingga penyebar agama, dan kelompok penjajah. Salah satunya adalah kaum pendatang dari negeri Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat perjalanan mereka menyeberangi lautan diceritakan dalam berbagai literatur sejarah. Termasuk prasati dari kerajaan Sriwijaya. Jejak peradaban mereka terangkum dalam berbagai warisan kebudayaan. Seperti di daerah Medan Labuhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs peninggalan kota Cina paling besar yang pernah ditemukan di Kota Medan adalah di daerah Lingkungan IX, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, sekitar 15 Kilometer dari pusat Kota Medan. Situs kota Cina ini pernah dieskavasi (digali) oleh beberapa sejarawan seperti McKinon, arkeolog keramik asal Inggris dan sejarawan Medan, Tengku Luckman Sinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukan penggalian pada tahun 1973, ditemukan banyak pecahan beling (keramik), tambatan kapal, fondasi kuil, dan patung Budha. “Diduga ini adalah sejarah peradaban masyarakat imigran Cina tertua di Medan,” kata Erond L Damanik, Peneliti pada Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) lembaga penelitian di Universitas Negeri Medan (Unimed).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, penemuan-penemuan situs tersebut menjadi bukti kedatangan bangsa Cina ke kota Medan. Banyaknya vihara-vihara tua yang tersebar di kawasan ini, semakin mengukuhkan sejarah kedatangan kaum petualang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi generasi tua Cina yang bermigrasi dari Daratan Tiongkok ke Pulau Sumatera dan berdomisili di Medan ratusan tahun silam, kawasan perkampungan masyarakat Cina di Medan Labuhan yang menyimpan cerita sejarah tersebut, bukanlah hal yang baru. Namun, bagi generasi sesudahnya, terlebih-lebih mereka yang lahir dan besar di masa-masa kemudian, cerita tentang perkampungan itu semakin asing. Seperti saat saya berkeliling di perkampungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;China Town di Medan Labuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di jalan Bukit Barisan atau yang sekarang dikenal sebagai Jalan Syaifuddin Yatim, pemukiman ini hingga awal tahun 1960-an masih dipadati warga keturunan Tionghoa. Lain halnya dengan sekarang. Bila dulu sebagian besar penduduknya adalah masyarakat keturunan Tionghoa, saat ini keberadaan mereka hanya satu dua saja. Tersebar tak merata di antara masyarakat keturunan Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfernya sedikit berbeda, di kiri kanan jalan beberapa bangunan masih bernuansa Tionghoa. Ruko-ruko lama beberapa masih bertahan. Ujung vihara menjulang terlihat di beberapa tempat dari kejauhan. Selebihnya, ketidakteraturan bangunan menghiasi kawasan ini. Bangunan-banguan tua tidak terawat, tidak ada kesan menarik sama sekali. Kecuali sejarahnya. Mungkin saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, saat berjalan menyusuri jalanan semi aspal, mata sipit gadis kecil berkulit pualam mengintip kami dari balik pintu. Senyumnya ramah malu-malu. Beberapa jepretan kamera kami lemparkan mengabadikan mata sipitnya. Sebelum momen seperti ini sama sekali hilang beberapa tahun mendatang. Sambutan hangat juga kami dapatkan dari A Hwa, bapak tua keturunan Tionghoa yang telah tinggal di tempat itu sejak masih balita. Sebuah tato naga berwarna merah hijau memenuhi otot bisepnya. Mempertegas kesan garang misai putihnya. Namun sapaan ramahnya membuat kami merasa nyaman. Darinya lah kami memperoleh banyak informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu banyak orang keturunan Tionghoa tinggal di sini. Tapi sejak tahun 60-an banyak yang sudah pindah. Entah ke daerah lain atau ke Tiongkok. Tahun-tahun itu kan banyak permusuhan dibangun terhadap etnis kami,” cerita A Hwa sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah tersebut pada masa-masa lampau terdapat beberapa bangunan besar dan pusat perekonomian. “Dulu ada hotel dekat SD Inpres di sana. Ada juga pelabuhan arak, gudang dan pabrik arak. Itu di sana,” katanya sembari menunjuk sebuah gang tak jauh di depan kami. Di tempat itu dulunya juga ada rumah candu, tempat candu beredar secara legal. A Hwa ingat benar. Tempatnya juga tidak jauh dari hotel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga ingat, waktu saya masih kecil, tetangga saya sebagian besar orang Tionghoa. Sekarang tinggal beberapa. Seperti kalian lihat, di sana Melayu. Tetangga depan ini juga Melayu, saya juga Melayu,” kata Melidiani, perempuan Melayu yang sejak kecil sudah bertetangga dengan A Hwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembauran memang terlihat jelas. Rumah-rumah masyarakat keturunan berbaur dengan masyarakat pribumi. Walaupun pada pojok lain jalan ini, rumah-rumah terkonsentrasi menjadi dua kubu. Di dekat pasar ikan misalnya. Di sepanjang jalan ini rumah penduduk dibagi menjadi dua bagian. Di sebelah kanan pasar, rumah-rumah keturunan Melayu dan di sebelah kiri, rumah-rumah penduduk keturunan Tiionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederatan bekas ruko yang sudah tidak seragam lagi di sebelah selatan Gang Ujung Tanjung menunjukkan arsitektur bergaya Tionghoa. Banyak bentuk melengkung seperti yang biasa kita jumpai pada vihara. Bangunan-bangunan ini sebagian besar telah berubah fungsi menjadi rumah penduduk. Bentuknya juga sudah banyak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti rumah bekas hunian Tjong A Fie, pengusaha legendaris Tionghoa di Medan, saat bermukim di Medan Labuhan, kini telah diganti dengan rumah beton. Rumah itu kini dihuni keluarga Melayu. “Masih banyak bukti peninggalannya kok. Seperti rumah yang kami huni,” kata Melidiani. “Waktu kami bangun rumah dan menggali sumur, pada kedalaman tertentu kami menemukan pecahan keramik, mata uang logam Cina, dan berbagai benda-benda aneh lainnya,”lanjut Melidiani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Make A Wish&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buah vihara atau klenteng berukuran sedang ada di kawasan ini. Bukti kuat keberadaan saudara jauh dari Negeri Tiongkok ini. Kelenteng Siu Sian Kiong di Jalan Bukit Barisan dan Klenteng Liat Sun Kiong di Jalan Lorong II, Pekan Pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon kabarnya kedua klenteng ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Klenteng Liat Sun Kiong dibagi menjadi dua bagian, di kanan lorong jalan dan di kiri. Klenteng ini dikhususkan untuk sembahyang. Lain halnya dengan Klenteng Sui Sian Kiong. Klenteng ini tidak hanya untuk sembahyang tetapi juga untuk membuat permohonan, meramal nasib, danmemohon restu dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, saat memasuki klenteng, dua orang perempuan Tionghoa sedang duduk bertelut, berdoa khusyuk. Mata mereka terpejam. Rangkaian dupa yang telah dibakar dipegang erat di ujung jari yang terkatup. Aroma dupa memenuhi seluruh ruangan. Cahaya lilin memberi kesan temaram sore itu. Membuat langit-langit dan dinding yang kemerahan berkesan magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lonceng besar ada di depan klenteng. Ornamen berbentuk ikan berkepala naga mengapit sebuah pagoda di bagian atas gapura merah klenteng. Dua patung singa berwarna polos berjaga-jaga tepat di depan klenteng menemani dupa besar di depannya. Di dekat pintu masuk tertulis nama klenteng dalam huruf Mandarin. Tak bisa saya baca. Di bagian kirinya, sejarah klenteng dan riwayat pembangunannya dituliskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, sebuah gerakan menyembah digantikan dengan gerakan menjatuhkan dua keping kayu pipih. Si perempuan sedang memohon izin Dewa untuk melanjutkan ke ritual selanjutnya. Bila kedua kayu pipih tersebut terbuka bersama-sama, dalam posisi yang sama, ritual boleh dilanjutkan. Bila tidak, jangan coba-coba melanjutkan. Hasilnya akan sia-sia. Anto, salah satu umat yang juga sedang beribadah memberi penjelasan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila restu dari dewa telah diperoleh, ritual dilanjutkan dengan menguncang pelan puluhan batang bambu dalam satu wadah yang berisi angka-angka. Batang bambu yang jatuh adalah peruntungan. Ritual terus dilanjutkan hingga diperoleh satu angka untuk dicari tahu maknanya kepada seorang ahlinya di bagian lain klenteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, kami pun ingin mencoba. Ragu-ragu saya memegang bambu peruntungan, hanya ingin mengetahui ritualnya. Memperhatikan benda-bendanya. Menghargai keyakinanan mereka tanpa mengabaikan kepercayaan saya. Saya tidak berdoa, sebab agama saya melarangnya. Bambu-bambu itu hanya saya pegang dan guncang. Anehnya, tak satupun bambu terjatuh. Tak satupun kertas peruntungan terguncang keluar. “Anda memang harus yakin,” kata Anto. Saya hanya tersenyum masam. “Ah, biarlah itu menjadi keyakinan mereka,” pikir saya tanpa mengomentari Anto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem… jika Anda punya keyakinan yang sama, silahkan coba saja! Sambil berwisata kota lama, Anda bisa mencoba mengetahui peruntungan Anda. Asyik kan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mesjid Kuning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang menarik bila kita berpelesir ke Medan pelabuhan. Mesjid Kuning. Bangunan ini sangat menarik perhatian. Arsitekturnya, warna kuningnya, dan tentu saja sejarahnya. Bangunan megah ini bernama Mesjid Raya Al-Osmani atau biasa disebut Mesjid Kuning, berada di Jalan Raya Yos Sudarso Kilometer 17,5. Mesjid ini adalah salah satu mesjid tertua di kota Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid ini dibangun pada tahun 1854 oleh Sultan Deli VII, Osman Perkasa Alam, seorang sultan yang sangat dihormati rakyatnya. Bangunan mesjid ini awalnya dibuat dari kayu pilihan yang terbaik. Di depan mesjid inilah dahulu kerajaan Deli pertama dibangun. Sekarang istana itu sudah rata dengan tanah, berganti bangunan sekolah dasar. Di bagian belakang mesjid terdapat makam Sultan Osman perkasa alam yang wafat pada tahun 1858 beserta dengan kerabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan ini dirancang dengan unik. Bergaya India dengan kubah tembaga bersegi delapan. Kubah yang terbuat dari kuningan tersebut beratnya mencapai 2,5 ton. Kaligrafi dan lukisan di bagian dalam kubah tak kalah indah dengan desain luar mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid Raya Al Osmani ini tidak saja menjadi tempat sembahyang masyarakat Melayu dan pribumi, beberapa masyarakat keturunan Tionghoa yang telah memeluk agama Islam juga beribadah di tempat ini. Indahnya pembauran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-6516539885293479667?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/09/29/dari-tiongkok-ke-tanah-deli/' title='Dari Tiongkok ke Tanah Deli'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/6516539885293479667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/dari-tiongkok-ke-tanah-deli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6516539885293479667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6516539885293479667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/dari-tiongkok-ke-tanah-deli.html' title='Dari Tiongkok ke Tanah Deli'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO9Ay3-yLVI/AAAAAAAAAGM/jjWeUJVKDj4/s72-c/masjid-raya-al-osmani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8612467731356330162</id><published>2010-11-25T21:04:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:13:07.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hobby'/><title type='text'>Reptil Bisa Bikin Jatuh Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO9AO64kGyI/AAAAAAAAAGE/cHoq4QY-g-s/s1600/leopard-gecko-hypo-carrot-tail-300x265.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 265px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO9AO64kGyI/AAAAAAAAAGE/cHoq4QY-g-s/s320/leopard-gecko-hypo-carrot-tail-300x265.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543720291385219874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Inkubator sederhana itu tertutup rapat. Lubang udara dibuat seperlunya saja agar kelembaban dan kehangatannya tetap terjaga. Dua buah telur calon bayi Kadal Gecko dieram di sana, hangat di antara serbuk kayu abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Emil, pemilik reptil tak sabar menanti kelahiran bayi-bayi Geckonya. Ia sudah meletakkan telur-telur itu di sana selama belasan hari. Masih sebulan lagi menunggu. Soalnya, masa pengeraman telur-telur Gecko berkisar 1,5-2 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emil adalah salah satu pencinta reptil di Medan. Hobi ini memang belum lazim di Medan. Tidak seperti di Jawa yang sudah lama dan sudah banyak komunitasnya. Setahu Emil di Medan hanya ada sejumlah kecil komunitas pencinta reptil yaitu ia dan teman-temannya yang berjumlah enam orang. “itupun yang dua lagi belum pernah ketemu langsung,” kata Emil. Dalam komunitas tersebut mereka saling berbagi informasi tentang pembelian reptil, koleksi terbaru, pensuplai pakan, perawatan, dan informasi-insformasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, saat ditemui di rumahnya, Emil memperkenalkan beberapa koleksi reptilnya. Berded Dragon Tiliqua (kadal lidah biru), Hypo Carrot Tail Gecko, Hi Yellow Gecko, ketiga jenis ini adalah kelompok kadal, ada lagi jenis ular Albino Honduran Milk Snake dan Albino Amelistic King Snake, dan jenis kodok Fantasy Pacman dan Budget Frog milik teman Emil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadal lidah biru, bentuknya mirip dengan komodo dalam bentuk mini. Berwarna gelap hitam keabu-abuan, reptil satu ini diberi nama Skingky oleh Emil. Ototnya sangat kokoh dibalut sisik yang keras. Cantik sekali. Sambil berjalan mengitari ruangan lantai dua rumah Emil, tiap beberapa detik Skingky menjulurkan lidah birunya, sedikit pamer. Itulah sebabnya reptil jenis ini dikenal sebagai kadal lidah biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Emil, bapak satu anak ini, memperkenalkan saya kepada koleksi reptilnya yang lain. Jenis Gecko yang sedang menjadi bintang bagi pencinta reptil saat ini. Kadal berukuran kecil ini memang sangat seksi. Badannya ramping dengan warna-warna menarik yang membuat mata sedap menyaksikannya. Ada sepasang dalam “rumah” kecil Gecko yang terbuat dari kaca. Matanya terus keluar mengajak saya untuk saling menyapa. Manis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada satu lagi sebenarnya,” kata Emil yang sudah mulai mengoleksi reptil sejak masih kuliah di tahun 2002. Emil menunjuk satu kotak di pojok ruangan. Itu dia, di sana satu kadal Gecko bersembunyi. Ia sedang dikarantina sehabis bertelur. “Ia baru saja bertelur, makanya dikarantina. Soalnya ia akan bertelur dua kali lagi,” kata Emil menjelaskan kemapuan bertelur kadal itu selama tiga tahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menonjol dari koleksi kadal Emil adalah Hypo Carrot Tail Gecko atau kadal berjenggot. Warnanya orange menyala seperti wortel. Di bagian leher ada gerigi-gerigi yang membuatnya cantik seperti berjenggot. Kepalanya mendongak, memperlihatkan gerigi-gerigi di bagian kepala. Emil membelinya ketika masih kecil dengan harga Rp. 3 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang waktunya bermain-main dengan ular koleksi Emil. Kecil dan ramping. Warnanya sangat mencolok. Orange bergaris-garis dan putih bergaris-garis. Tidak terlalu panjang karena belum dewasa. Ditawari memegang, ragu-ragu saya menyentuhnya. Lembut dan lunak tapi terasa dingin. Sejenis ular Colubrid muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Colubrid termasuk ular yang jika sudah dewasa tidak terlalu panjang, maksimal 1,5 meter. Dari jenis ini yang paling sering dipelihara adalah jenis Millk Snake, King Snake, dan Corn Snake. Milk Snake terkenal dengan warna-warninya yang ngejreng seperti warna orange pada koleksi Emil. King Snake adalah jenis yang paling galak dari kelompoknya, tetapi mudah dijinakkan. Gelar King Snake melekat karena ular ini bersifat kanibal, memakan ular-ular lainnya. Sedangkan Corn Snake adalah ular yang biasa ditemukan di ladang-ladang jagung di Amerika, warnanya sangat bagus dan sangat mudah dijinakkan. Ketiga jenis ular ini tidak berbisa. Kali ini, Bawi, salah satu pencinta reptil lainnya yang gantian memberikan penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Emil, Bawi mengaku menyukai reptil karena pemeliharaannya mudah dan murah dibandingkan hewan peliharaan lainnya, tentu saja juga karena reptil terkesan eksotis dan tak biasa. Biaya pakan peliharaan Emil misalnya, hanya berkisar Rp. 150-200 ribu perbulannya untuk pasokan tikus dan belalang. Awalnya agal sulit memang mencari tikus putih untuk makanan ular peliharaan Emil dan Bawi. Untungnya, salah satu pencinta reptil, Iman, mulai mengembangbiakkan tikus putih di Desa Namo Pencawir, Tuntungan. Dari sanalah semua pasokan tikus putih untuk pencinta reptil di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawi yang sudah rampung menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran USU ini mengaku sudah memelihara reptil sejak tahun 2006. Tak seperti Emil, kebanyakan peliharaan Bawi adalah ular. Mulai dari jenis Colubrid hingga jenis Piton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemukan spesies baru adalah tantangan terbesar dunia pencinta reptil. Bukan cuma spesies yang ditemukan di alam, tetapi hasil persilangan yang mereka sebut Morth. Semacam persilangan genetik untuk menghasilkan jenis baru. “Itu menjadi semacam kebanggan dan prestasi. Salah satu teman saya sudah ada yang berhasil,” kata Bawi yang pernah bersedih karena reptil pertamanya mati. Sejenis kodok yang ia pelihara dari ukuran kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Bawi sedang pergi ke luar kota selama tiga hari. Sayangnya, kodok yang butuh suasana lembab itu tidak ada yang merawat dan menyiramnya. “Mama lupa nyiram,” kata Bawi. Karena kekeringan kodok itupun akhirnya mati. “Sedih sekali rasanya, walaupun mereka hewan, tetap terasa ada ikatan batin,” cerita Bawi. “Biasanya kodok itu tidak pernah bersuara, waktu saya pulang, ia bersuara, kemudian mati. Seperti salam perpisahan,” sedih Bawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emil juga pernah merasakannya. Ular Morulus Normal peliharaannya. Tidak tahu kenapa selama beberapa hari terkena pilek. Lendir keluar dari mulut dan hidungnya. Lima hari kemudian, ular yan ia beri nama Bitu itu pun mati. Ada perasaan kehilangan karena sudah memeliharanya sekian lama. Dari ukuran bayi 70cm hingga panjangnya 1,5 meter. Padahal biasanya ular bisa bertahan hingga 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sigu, nama iguana Emil, mati karena sudah tua. Kematian Sigu membawa sebagian kenangan masa-masa kuliah dan masa-masa pacaran Emil dengan isterinya. “Sigu kami adopsi dari seorang teman waktu kami masih pacaran,” cerita Emil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pencinta reptil seperti Emil dan kawan-kawan, kenangan seperti itu tidak tergantikan. Sekalipun ada yang berminat membeli koleksinya, Emil tidak akan pernah menjualnya.”Paling saya bantu carikan,”tawar Emil tertawa. Siapa mau merepotkan Emil?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8612467731356330162?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2010/09/29/reptil-bisa-bikin-jatuh-cinta/' title='Reptil Bisa Bikin Jatuh Cinta'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8612467731356330162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/reptil-bisa-bikin-jatuh-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8612467731356330162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8612467731356330162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/reptil-bisa-bikin-jatuh-cinta.html' title='Reptil Bisa Bikin Jatuh Cinta'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO9AO64kGyI/AAAAAAAAAGE/cHoq4QY-g-s/s72-c/leopard-gecko-hypo-carrot-tail-300x265.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2815491213813013606</id><published>2010-11-25T21:02:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:13:38.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Dr. Sarmedi Purba dan dr. Gertrud Breuckl, Cinta Bersemi di Pesta Dansa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8_zs-yCcI/AAAAAAAAAF8/CvJzzFI6I4A/s1600/dr-sarmedi2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8_zs-yCcI/AAAAAAAAAF8/CvJzzFI6I4A/s320/dr-sarmedi2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543719823796734402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kisah cinta lelaki Batak dengan perempuan Jerman ini dimulai sekitar 39 tahun silam. Saat itu, Sarmedi Purba sudah menamatkan pendidikan dokternya dan sudah bekerja di Rumah Sakit Wermeslkirchen. Pertemuan mereka juga sangat unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saat sedang duduk santai di kamar tinggalnya di rumah sakit itu, tiba-tiba salah seorang dokter senior memanggilnya untuk segera datang ke kamar bersalin. Mendengar ada pasien yang akan segera melahirkan Sarmedi segera ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, sesampainya di dekat kamar bersalin, ia melihat para dokter sedang bersenda gurau dan tertawa di ruang istirahat bidan. Mengertilah ia, bahwa ia sedang dikerjai. Pria yang sangat beruntung! Tidak ada persalinan hari itu, yang ada adalah pesta kecil menikmati anggur panen yang dibawa Albert Mosel, salah seorang rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di tengah acara minum aggur tersebut, seorang dokter muda yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis neurologi dan psikiatri, Gertrud. Gadis Jerman itu mempersilahkan Sarmedi duduk di sebelahnya. Tidak ada perasaan istimewa saat itu, tidak Gertrud, tidak juga Sarmedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu, hingga beberapa bulan kemudian, waktu membawa mereka kembali dalam sebuah pertemuan. Pesta dansa untuk para dokter. Sarmedi dan Gertrud juga ada di sana, mereka bertemu kembali. Kali ini, Sarmedi menangkap sesuatu yang berbeda pada Gertrud. Benih kagum yang selanjutnya terus dipupuk Sarmedi. Gertrud adalah sosok sederhana yang tenang namun menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang dilahirkan sebagai Gertrud Brueckl pada 19 Mei 1942 ini telah merebut hati Sarmedi. Pertemanan yang mereka jalin akhirnya menumbuhkan benih cinta. Juga pada hati Gertrud terhadap lelaki kelahiran 13 Agustus 1938 ini. Cinta tumbuh di pesta dansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, 3 Agustus 1971, Sarmedi melamar Gertrud. Gertrud tidak menolak. Ia juga kagum kepada Sarmedi yang cerdas dan menyenangkan. Di matanya, pemuda asing ini mempunyai nilai tambah. Ia pandai bergaul, menyesuaikan diri, dan menyelesaikan pendidikan di daerah dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mundur ke Abad Lampau Demi Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling menyentuh hati dalam sebuah hubungan kalau bukan pengorbanan? Pengorbanan adalah wujud cinta yang paling dalam. Itulah yang diberikan Gertrud kepada kekasihnya, Sarmedi Purba. Setelah merayakan pernikahan mereka di sebuah restoran dekat gereja, empat tahun kemudian, 1975, Sarmedi pulang ke tanah air. Selama 6 bulan ia meninggalkan isteri dan dua putrinya di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarmedi pulang untuk mengabdi di tanah air. Memenuhi janji pulang bila telah menamatkan pendidikan. Ia ingat pesan bapaknya, jika ia menikahi gadis Jerman, ia harus memilih perempuan yang bisa mencintai tanah kelahiran Sarmedi dan leluhurnya. Pertanyaan yang sama jugalah yang ia ajukan saat melamar Gertrud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, 6 bulan kemudian, Gertrud dan kedua anaknya menyusul Sarmedi ke Indonesia. Tujuannya bukan kota besar seperti Jakarta atau Medan. Jauh panggang dengan api. Ia datang untuk tinggal di kota kecil dan terpencil di bagian kecil Sumatera Utara, Seribu Dolok. Gertrud sudah tahu itu. Suaminya terikat kontrak dengan GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) yang telah memberinya beasiswa dan terikat batin untuk memajukan daerah asalnya. Mereka kembali untuk mengabdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gertrud jugalah yang meyakinkan Sarmedi untuk kembali ke desa yang telah mengantarnya ke Jerman itu. Sebagai psikiater, ia sadar betul suaminya tidak akan bisa merasa nyaman bila terus tinggal di Jerman. “Saya akan coba tinggal. Tapi bila saya tidak betah, kita kembali ke Jerman ya,” kata Gertrud menirukan ucapannya waktu itu. Hanya karena cintalah ia rela melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 1976, Gertrud menuju Seribu Dolok. Desa kecil yang pada masa itu masih sangat tertinggal. Anak mereka Christina masih berusia 4 tahun waktu itu dan Tatiana putri kedua mereka baru saja pulih dari radang tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christina, putri pertama mereka sangat syok begitu tiba di Seribu Dolok. Rumah mereka begitu sederhana, belum ada pasokan listrik yang tetap. Bahkan karena keterbatasan dana dari rumah sakit, genset hanya dinyalakan pada malam hari saja. Christina juga selalu bertanya,”Mama mengapa kita tinggal di tempat jelek seperti ini, anak-anaknya juga berpakaian jelek dan kotor?” Tapi lagi-lagi Gertrud berusaha menenangkan anaknya, bahwa semua akan baik-baik saja dan mereka akan terbiasa. “Nur ruhig, allies wird gurden,” kata Gertrud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah 39 Tahun Menikah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah 39 tahun menikah, pernikahan mereka kian manis. Yang ada adalah saling pengertian. Menjadi pasangan kakek dan nenek dengan 3 orang anak dan 4 orang cucu yang lucu-lucu. Menjadi rekan kerja yang sepadan, pendamping hidup yang selalu mendukung, dan tempat berbagi yang selalu ada. Bersama Gertrud, Sarmedi membenahi desanya, berkeliling kampung memberikan penyuluhan, membangun rumah sakit Vita Insani, dan melakukan berbagai pekerjaan membangun lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak lagi saling memaksakan kehendak, tidak lagi banyak bertengkar,” lanjut Gertrud. Sarmedi Purba merasa beruntung dengan pernikahannya. “What a wonderful life…” katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2815491213813013606?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/01/dr-sarmedi-purba-dan-dr-gertrud-breuckl-cinta-bersemi-di-pesta-dansa/' title='Dr. Sarmedi Purba dan dr. Gertrud Breuckl, Cinta Bersemi di Pesta Dansa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2815491213813013606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/dr-sarmedi-purba-dan-dr-gertrud-breuckl.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2815491213813013606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2815491213813013606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/dr-sarmedi-purba-dan-dr-gertrud-breuckl.html' title='Dr. Sarmedi Purba dan dr. Gertrud Breuckl, Cinta Bersemi di Pesta Dansa'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8_zs-yCcI/AAAAAAAAAF8/CvJzzFI6I4A/s72-c/dr-sarmedi2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2357239372171861691</id><published>2010-11-25T20:54:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:13:46.743-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Nias Island, Treasure in Hidden Paradise</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8_NUb07AI/AAAAAAAAAF0/PXDQufkNHdA/s1600/nias2-300x200.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8_NUb07AI/AAAAAAAAAF0/PXDQufkNHdA/s320/nias2-300x200.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543719164372642818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pulau Nias, surga kecil di bentangan Samudera Hindia. Kaya dengan keindahan landscape, pantai, dan aroma mistis budaya kuno.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELANCAR, surfing, menikmati karang, mendengar debur ombak, berjemur atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar matahari di pantai-pantai menjadi gambaran yang muncul di benak begitu kata “Nias” disebut. Bayangan indahnya sebuah pulau tropis pun menyeruak. Lautnya yang jernih, hangatnya air berlapis hijau bening dan biru memukau, pasir landai, bau garam ditiup angin, dan barisan pepohonan kelapa di pinggir pantai. Terbayang pula ingatan tentang pesona tinggalan budaya megalitik, rumah-rumah adat ramah lingkungan, tarian perang, dan lompat batu yang tersohor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulauan Nias adalah bagian kecil keindahan Indonesia. Merupakan daerah kepulauan yang memiliki 27 pulau-pulau kecil. 11 di antaranya berpenghuni sedang sisanya belum dihuni penduduk. Pulau ini berada di sebelah barat Pulau Sumatera dan tergabung dalam pemerintahan Sumatera Utara. Pulau yang disebut sebagai Tano Niha ini dihuni oleh mayoritas suku Nias yang disebut Ono Niha. Kelompok masyarakat berkulit pucat dengan mata sipit seperti kebanyakan ras mongoloid. Berada di tengah-tengah masyarakat ini seperti berada di lingkungan masyarakat lain di luar Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara bertutur mereka cukup unik. Vokal suara keras dan lepas dengan bunyi-bunyi bahasa yang sulit disimak. Tidak terlalu familiar. Iramanya cepat. Tidak ada konsonan akhir dalam bahasa tutur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah perjalanan kedua saya ke Nias. Seperti perjalanan pertama ke Pulau ini, perjalanan kali ini pun demi kepentingan pekerjaan. Kali ini sebagai kru sebuah kelompok pembuat film dokumenter. Travelling di hari terakhir plus menikmati perjalanan di sela-sela waktu senggang selalu menjadi bonus dari setiap perjalanan dinas. Kali ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Medan kami berangkat berempat. Tim kecil untuk menjelajah Nias. Sejak awal, rencana perjalanan sudah diatur. Kami akan berangkat dengan menumpang pesawat terbang dari Bandara Polonia Medan menuju Bandara Binaka, Gunung Sitoli. Sedangkan untuk pulang, kami akan melalui jalur laut dan darat. Menggunakan Feri atau Jet Foil dari Gunung Sitoli menuju Sibolga, selanjutnya melalui jalur darat menuju Medan. Semua cara tempuh wajib dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandara Polonia beberapa turis asing mewarnai penumpang yang akan berangkat ke Nias. Sepertinya mereka adalah penggemar olahraga selancar. Papan-papan selancar telah dikemas siap untuk dimasukkan dalam bagasi pesawat. Siang itu, langit Medan sangat cerah. Dibutuhkan waktu 45 menit perjalanan menuju kota Gunung Sitoli. Sialnya, di atas ketinggian 30.000 kaki, langit dipenuhi kabut. Guncangan-guncangan kecil membuat badan pesawat seperti batuk. Kepala saya mendadak pusing. Untung saja tidak mabuk. Saya harap tidak akan pernah terjadi. Dalam riwayat travelling saya, “aib” tersebut wajib dihapus dari daftar cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Bandara Binaka, 2 orang kawan telah menunggu. Sebuah Ford Double Cabin berwarna perak siap menjelajah Nias bersama kami. Hari itu kami beristirahat di sebuah penginapan di Gunung Sitoli. Menyiapkan energi menjelajah Nias Selatan esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nias Selatan I am Coming&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nias Selatan (Nisel) adalah daerah yang paling ingin saya kunjungi di Nias. Dulu, di kunjungan pertama, saya tidak sempat datang ke daerah ini. Saya hanya pergi ke pantai-pantai di daerah Lahewa. Pantai-pantai landai yang keindahannya berbeda dengan pantai-pantai di Nisel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah ini kaya dengan potensi wisata terutama pantainya yang indah. Sorake, salah satu pantai paling diminati di Nisel, akrab di telinga penggemar olahraga selancar karena mempunyai ombak yang tinggi. Andalan wisata lainnya adalah Pantai Lagundri yang berpasir putih, terletak disebuah laguna yang bersebelahan dengan pantai Sorake. Pantai ini berjarak sekitar 13 km sebelah selatan kota Teluk Dalam. Sedang di Kecamatan Pulau-pulau Batu terdapat lokasi menyelam, terumbu karang, serta ikan- ikan hias, dan pantai berpasir putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Teluk Dalam adalah ibukota Kabupaten Nisel. Perjalanan menuju kota ini cukup sulit. Apalagi bagi penduduk asal Medan atau kota besar lainnya. Bila menelusuri daerah pedalaman, tidak jarang jembatan atau badan jalan dalam kondisi rusak. Pernah sekali kami melewati jalanan yang patah separuh badannya. Uh… seram. Kondisi tanah di sebagian besar Nias sangat labil sehingga mudah longsor atau amblas. Untuk melewatinya dibutuhkan nyali dan keahlian. Saya beberapa kali harus menutup mata bila melewati jalanan sulit seperti itu. Untungnya, teman kami sangat ahli mengendarai. Sebagai penduduk asli, ia hafal betul kondisi alam setempat. Mobil yang kami tumpangi pun selalu berhasil mulus melewati setiap jalanan rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya, bila ke Nias sebaiknya Anda didampingi seorang teman asal Nias sebagai guide lokal. Selain lebih hafal kondisi alam, kemampuan bahasa Niasnya akan membuat Anda lebih nyaman berkeliling. Percayalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Nisel hanya sinyal telepon seluler tertentu yang beroperasi. Itupun hanya di Kota Teluk Dalam dan daerah padat pemukiman, bila masuk pedalaman sedikit saja sudah blank. Jadi, baiknya selama di perjalanan non aktifkan saja ponsel Anda hingga tiba di tujuan. Lumayanlah untuk menghemat baterai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Nias Selatan dari Gunung Sitoli sekitar 3 jam dengan kendaraan pribadi dan sekitar 4 jam bila dengan angkutan umum kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Little Paradise&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun butuh waktu yang panjang, saya selalu ter-wah-wah di sepanjang perjalanan. Nias adalah satu surga keindahan Indonesia. Sangat banyak pemandangan indah di sepanjang perjalanan. Sayangnya, ini adalah surga yang tersembunyi. Belum dikelola dengan baik. Bahkan, Nias dari segi kemajuan termasuk ke dalam kabupaten dengan tingkat kemajuan yang sangat lamban. Perhatian terhadap Nias muncul sejak tsunami dan gempa bumi melanda pulau ini. Ah… sayang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati garis-garis pantai dan pinggiran laut menjadi kenikmatan sendiri. Alangkah nyamannya melihat para nelayan tradisional memikul hasil tangkapan, mendorong perahu kayu ke pinggiran pantai, dan memperhatikan mereka saat akan berangkat ke laut. Orang-orang membawa pancing untuk sekadar menghabiskan waktu di pantai juga sedap dilihat. Kesenangan pribadi yang bisa saya nikmati sepanjang perjalanan. Belum lagi aroma lautnya, amis bau ikan, uap-uap air mengandung garam terbang di udara. Langit cerah dengan arakan awan membingkainya. Sangat sempurna. Itu bila cuaca bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca di Pulau Nias sulit untuk diprediksi. Perubahan cuaca terjadi begitu cepat dan ekstrim. Mungkin pengaruh kondisi geografis sebagai daerah kepulauan. Seperti hari ini. Dalam perjalanan menuju Nisel, cuaca berubah dengan cepat. Langit yang semula cerah di satu desa, tiba-tiba berubah mendung di desa berikutnya, hujan rintik di desa ketiga, cerah kembali di desa keempat, lalu tiba-tiba hujan deras di desa kelima. Kejadian seperti itu adalah hal yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai kewalahan. Bingung untuk mengambil gambar dan momen yang bagus. Cahaya yang cukup kadang tiba-tiba meredup. Bukan itu saja, yang membuat kami paling kewalahan adalah barang bawaan yang kami letakkan di bagian belakang double cabin. Enam buah ransel perlengkapan pribadi dan beberapa tas tempat alat-alat produksi. Saat hujan turun kami harus buru-buru menutup semua barang dengan tenda agar tidak basah. Tapi setelah melanjutkan perjalanan beberapa ratus meter, hujan sama sekali tidak membekas. Sedikit gondok tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan menuju Nisel, di daerah Hilisitaro, Kec. Toma kami berhenti sebentar. Menikmati bibir pantai dari pinggir jalan. Menurut cerita masyarakat setempat, tiga buah batu besar di pinggir pantai tersebut sebelum terjadinya gempa dan tsunami terletak lebih dari 50 meter ke arah laut. Batu tersebut mengalami pergeseran. Menakar ukuran batu, saya membayangkan betapa besarnya kekuatan gempa yang telah memindahkannya. Kamipun mengabadikan momen tersebut dalam sebuah ruang petak bernama kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bertarung Ombak di Sorake&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah tiba di Sorake. Panorama yang disajikan di sekitar pantai Sorake memunculkan kesan damai. Sorake, bulan Mei itu tidak ramai. Tidak sulit mendapatkan tempat penginapan bagus karena tak banyak pengunjung. Pantai Sorake hanya ramai saat ada kejuaraan internasional selancar, yang biasanya jatuh pada bulan Juni - Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Di luar itu, Sorake dan Lagundri adalah pantai indah yang sepi dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggiran pantai dipenuhi karang yang telah mati. Mungkin pengaruh kegiatan manusia. Karang-karang itu berwarna gelap, keras, dan padat. Menjadi hunian ratusan jenis hewan lain, seperti kerang, kepiting, siput atau umang-umang, terkadang juga ular laut. Kerasnya karang meninggalkan luka saat ombak menghempas ke tepian. Seperti yang saya alami sore itu saat duduk menikmati ombak di pinggiran pantai. Saya terhempas ombak besarnya. Empat goresan karang membekas di punggung telapak kaki saya. Tapi bagi pencinta selancar yang sedang beraksi di depan sana, luka itu tak ada artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah penduduk lokal dan turis asing. Gerakan mereka lincah di bawa ombak. Meliuk-liuk indah. Timbul tenggelam di gunung-gunung air. Melambung terbang mengikuti tinggi ombak, jatuh terhempas terbawa arus. Warna-warni papan selancar terlihat indah melukis pantai. Beberapa anak sepuluh tahuhan berjalan, menuju matahari terbenam. Membawa papan selancar. Mereka siap bertarung. Sayang, saya bukan peselancar. Saya hanya penikmat. Memuji mereka dan menyimpan ingatan tentang ombak tinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii adalah Pantai Sorake dan Lagundri. Ombak di pantai Sorake ini bisa mencapai ketinggian 15 meter karena berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Sorake adalah laut lepas. Ombaknya memang sangat ideal untuk olahraga air berselancar. Ombak di pantai ini punya lima tingkatan. Seperti kata Kisaman, penduduk lokal yang kami ajak mengobrol, tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi, kalau peselancar gagal main slalom di sana, mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya. Bila gagal lagi, maka masih ada ombak berikutnya. Peselancar tidak akan pernah mati gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berselancar, mengumpulkan aneka kerang dan karang bisa dilakukan. Kulit kerang di pantai ini sangat banyak jenisnya. Indah pula. Tapi ingat, jangan mengambil kerang yang masih hidup. Bagaimana pun kita perlu menaruh kepedulian pada biota laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menginap di sebuah penginapan kayu berlantai dua. Terasa sangat nyaman. Sepanjang Pantai Sorake berjajar home stay yang siap melayani dengan tarif murah sekelas penginapan melati. Ada juga cottage yang mengambil model rumah tradisional Nisel. Sepanjang malam desiran ombak yang menghantam karang semakin menjadi-jadi. Iramanya membuat damai. Apalagi ketika air pasang datang, suaranya seakan mampu membuat karang-karang di pinggiran pantai pecah. Sangat mistis. Sungguh nikmat menyesap bir di suatu malam di Sorake sambil menikmati karang menusuk gelapnya malam. Kami menghabiskan malam di Sorake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hombo Batu di Bukit Matahari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lengkap rasanya ke Nisel bila tidak ke Bawomataluo dan melihat atraksi Hombo Batu. Saya sangat mengharapkan hari itu datang. Hari saat kami akan mengambil gambar di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat dari Sorake. Menurut Togap, salah seorang kawan yang menjadi guide lokal, kami akan tiba setelah 30 menit perjalanan. Jaraknya sekitar 10 Km dari Pantai Sorake. Bawomataluo, dalam bahasa Nias berarti Bukit Matahari. Bawo artinya bukit dan Mataluo berarti  matahari. Sesuai dengan namanya, masyarakat setempat seringkali menyebut desa ini dengan nama Bukit Matahari.  Sebuah desa kuno di ketinggian 15 meter dari kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Udaranya sejuk menghadap pemandangan indah di sekitarnya. Seperti sebuah benteng di ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan desa-desa kuno penganut animisme dan dinamisme, mereka percaya tempat yang tinggi akan membawa mereka semakin dekat dengan Sang Pencipta yang berada di langit di atas bumi. Budaya megalithikum di tempat ini memperlihatkan itu. Rumah-rumah panggung tinggi dengan batu-batu megalithikum yang juga tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju desa Bawomataluo, dari dasar perbukitan yang terletak di Kecamatan Fanayama, kami harus berjalan kaki menaiki tangga batu berjumlah 85 anak tangga. Ketika menginjakkan kaki di halaman gerbang bawah Bawomataluo, para pengunjung disambut dua patung penjaga gerbang desa adat berupa patung hewan berkepala lasara. Jenis patung yang banyak menghiasi karya-karya seni Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkeliling. Melihat rumah adat Nias, Omo Hada yang diduga sebagai rumah adat tertua di Nias. Rumah adat ini adalah rumah kepala suku atau raja. Rumah-rumah adat di tempat ini terbuat dari kayu yang tahan lama, dibangun tanpa menggunakan paku untuk pemersatu bangunan. Melainkan menggunakan teknik tertentu untuk menyambung sendi-sendi kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan besarnya kayu-kayu yang diangkut ke atas bukit, saya menyimpulkan suku Nias kuno adalah suku yang kuat. Penasaran, saya mencari tahu bagaimana cara mereka mengangkat kayu-kayu tersebut pada zaman dahulu. Pidar Bulolo, Pemuda 20-an tahun menceritakannya. Dahulu kala untuk menyemangati kaum lelaki mengangkat kayu besar, selain dengan kekuatan magis, kaum perempuan berdiri berjajar di atas bukit dalam kondisi telanjang. “Untuk menyemangati mereka,” kata Bulolo serius. Cerita yang saya tidak yakini kebenarannya tapi saya dengar juga dari penduduk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah tradisional di sini dibangun dengan sangat teratur pada satu kompleks. Rumah-rumah penduduk dibangun sejajar di kiri dan kanan kompleks. Rumah raja di satu sudut utama dengan bangunan yang lebih besar dan menonjol. Kompleks ini juga memiliki konblok-konblok alami sebagai tempat resapan air. Sangat ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas berkeliling, kami pun menyaksikan atraksi lompat batu. Dua orang pemuda setempat, Agas Wau dan temannya telah mengganti kostum dengan pakaian tradisional Nias. Pakaian indah didominasi warna kuning keperakan, merah, dan hitam. Agar bisa menyaksikan atraksi ini kami harus merogoh kocek Rp 200.000 untuk 2 buah lompatan. Dalam hitungan detik, sedikit ancang-ancang sejauh 15 meter, mereka berlari kencang, melompat dan melayang melintasi tugu batu serta memutar tubuh dan mendarat dengan sempurna dan tetap berdiri menghadap tugu batu. Lucu juga berfoto dengan para pelompat batu dengan memakai topi kebesaran suku Nias. Kelihatan sangat gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, sebenarnya, selain di Bawomataluo kami juga menemukan desa adat yang memiliki tugu lompat batu. Seperti Botohilitano, Orahili, dan Hilinawa Mazinge. Tapi ternyata hanya Bawomataluo satu-satunya desa adat yang masih memegang teguh tradisi dan melestarikannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2357239372171861691?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/10/09/nias-island-treasure-in-hidden-paradise/' title='Nias Island, Treasure in Hidden Paradise'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2357239372171861691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/nias-island-treasure-in-hidden-paradise.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2357239372171861691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2357239372171861691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/nias-island-treasure-in-hidden-paradise.html' title='Nias Island, Treasure in Hidden Paradise'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8_NUb07AI/AAAAAAAAAF0/PXDQufkNHdA/s72-c/nias2-300x200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-7272578454089387038</id><published>2010-11-25T20:46:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:53:33.889-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Trunyan, Makam tanpa Kubur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO89OtdjzrI/AAAAAAAAAFk/y0XDQyCDj0I/s1600/trunyan13-300x199.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 199px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO89OtdjzrI/AAAAAAAAAFk/y0XDQyCDj0I/s320/trunyan13-300x199.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543716989247409842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Traveling- it leaves your speechless, then turns you in to a storyteller. -Ibn Batutta-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, suatu hari di hidup saya, berada di sini. Di sebuah negeri yang kabarnya adalah Negeri Dewata. Bali tentu saja. Negeri ini sudah tersohor sebagai tujuan wisata terbesar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di tempat baru selalu menimbulkan pengalaman-pengalaman baru. Pengalaman pertama perjalanan tersebut membuat kita kehabisan kata-kata. Takjub, terkagum, dan tentu saja puas. Apalagi saat berada di sini. Di sebuah tempat yang kaya dengan segala keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita perjalanan memang selalu menarik untuk diceritakan. Barang dapat habis dijual-beli. Tapi pengalaman, ho…ho… tak akan pernah habis untuk diingat dan diceritakan. Dan sekarang, saatnya saya memainkan peran sebagai tukang cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tempat menarik di Bali. Dua lembar tulisan ini tidak akan cukup untuk mengulasnya. Saya tahu itu. Terlalu banyak pula tempat popular yang telah biasa di bahas. Pantai Sanur misalnya. Pantai ini terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya yang luar biasa bagus. Atau Nusa Dua. Atau Pantai Kuta yang terkenal dengan ombak besarnya, hiburan malamnya, tempat belanjanya, dan penginapan murahnya di Jalan Poppies. Walau tak melewatkannya, itu bukan fokus cerita kita kali ini kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman asli Bali, Kunthayuni merekomendasikan tujuan kali ini, yang katanya juga belum pernah ia kunjungi. Tapi ia menjamin, perjalanan ke sana akan sangat menarik. Lengkap, pemandangan pegunungan yang indah, danau, budaya, plus sedikit kesan magis. Namanya Desa Trunyan. Hem… sepertinya cukup menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suara rindik, musik khas Bali pun mengalun lembut merdu di mobil yang kami tumpangi. Kami sedang menuju Desa Trunyan. Pemilik mobil yang kami tumpangi adalah Hendra, seorang kawan baru di Bali, teman kuliah adik Kuntha. Pertemanan yang rumit bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berenam kami duduk manis di Kijang yang meluncur mulus di jalanan berliku. Tentang bilangan itu juga menurutku cukup magis. Enam, angka genap. Memang harus selalu begitu. Setidaknya begitulah saran ibu Kuntha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada larangan tak tertulis jika ingin berpergian ke tempat-tempat seperti Desa Trunyan atau tempat-tempat lain di Bali yang masih kental dengan nilai-nilai budaya. “Jangan berjumlah ganjil, nanti harus ada yang ngenepi,” kata Kuntha. Agak bergidik juga mendengar penuturannya itu. Dan sepertinya filosofi ganjil-genap ini masih sangat kental di Bali. Sedikit tidak realitis. Toh, budaya, agama, dan kepercayaan tak selalu harus sejalan dengan logika. Ya sudahlah, tak perlu diperdebatkan, sebagai orang baru, saya ikut saja. Seperti pepatah bilang, di mana bumi diinjak di situ langit di junjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dari Sanur menuju Desa Trunyan cukup jauh. Karena tak satupun di antara kami yang sudah pernah ke sana, sebuah peta lokal Bali sudah terentang, siap menjadi acuan . Kalau-kalau kami butuh petunjuk jalan mana yang harus kami lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati beberapa desa dan kabupaten, akhirnya kami tiba di Desa Trunyan. Desa ini terletak di sebelah timur bibir Danau Batur, di sebelah barat Gunung Abang, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan orang harus menyeberang Danau Batur selama 30 menit dengan perahu bermotor. Kalaupun ingin melewati jalan darat, harus melewati jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang. Dan tentu saja, cukup jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menumpang sebuah perahu bermotor -ingat walaupun banyak penawaran dengan harga murah, sebaiknya naikilah perahu dengan membeli tiketnya di loket resmi, lebih aman- kami menyeberangi Danau Batur. Danau ini luasnya sekitar 80 Km persegi dengan kedalaman sekitar 15 meter -ini saya ketahui dari struk tiket yang kami beli di loket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin pegunungan dan percikan air dari samping perahu bergantian menyapa. 30 menit di atas perahu, pintu gerbang pemakaman desa sudah terlihat. Sebuah gapura berwarna merah bata. Makam tersebut adalah tujuan perjalanan wisata kita kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17º Celcius. Desa Trunyan ini merupakan sebuah desa kuno, desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Aga, berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua versi kepercayaan penduduk desa ini tentang asal-usulnya. Versi pertama, orang Trunyan adalah orang Bali Turunan. Mereka percaya bahwa leluhur mereka ‘turun’ sebagai dewi dari langit ke bumi Trunyan. Versi kedua, orang Trunyan hidup dalam sistem ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, sejenis pohon yang menyebarkan bau-bauan wangi. Dari perpaduan kata “taru” dan “menyan” berkembang kata Trunyan untuk menyebut nama desa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon taru menyan ini adalah pohon berbau harum yang tumbuh di desa itu. Tinggi dan besar dengan akar-akar tunggang besar yang telah muncul ke permukaan. Berada di bawahnya seperti mencium aroma bau cendana. Agak mirip memang. Bau-bauan yang dikeluarkan pohon inilah yang membuat awet dan menghilangkan bau mayat yang diletakkan begitu saja di bawah pohon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saja maksudnya adalah mayat-mayat itu diletakkan di bawah pohon tanpa perlu dikubur dengan menggali tanah dalam-dalam. Itulah pemakaman desa Trunyan, sebuah makam tanpa kubur. Mayat-mayat diletakkan dengan muka terbuka dan hanya dibungkus kain putih dan “ancak saji”. Upacara pemakaman ini dikenal sebagai upacara mepasah. Kultur inilah yang menjadikan desa ini menarik dijadikan sebagai objek wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki pintu gerbang makam, barisan tengkorak kepala yang telah lama dan lumutan berjejer rapi di atas tangga batu. Puluhan. Sebagiannya tak tertata di sana. Tulang-tulang juga banyak berserakan di tanah. Agak menyeramkan memang. Tapi saya ingat kembali pesan Kuntha, “Walau merasa sedikit jijik dan bergidik, jangan meludah atau mengeluh!” Ah… lagi-lagi, sebagai orang baru, saya harus ikut saja. Mungkin inilah yang disebut sebagai kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kiri pintu gerbang makam, tak jauh dari tempat saya berdiri, sebuah makam yang dikelilingi pagar bambu. Masih baru kata Made, penduduk lokal yang menawarkan diri sebagai pemandu. Mayat itu baru berumur beberapa bulan. Bekal sesaji seperti sandal, sendok, piring, penganan yang telah mengering masih ada di atas makam. Mayat tersebut telah mengering dan menghitam. Sebagian tulang tengkorak sudah terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Made bercerita banyak. Bapak 35 tahunan ini menceritakan perbedaan antara tulang tengkorak laki-laki dan perempuan. “Yang ini perempuan,” katanya sembari menunjuk salah satu tulang tengkorak yang sudah lumutan. “Tulang tengkorak perempuan pada bagian ubun-ubun lebih datar karena terbiasa menjunjung hasil pertanian,” jelas Made.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menceritakan tentang cara pemakaman orang Trunyan. Ternyata, tidak semua penduduk dimakamkan di makam ini. Wah… lalu bagaimana? Ada dua cara. Pertama meletakkan jenazah di atas tanah di bawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan, dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal dengan kematian yang wajar. Yang kedua adalah dikubur/dikebumikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh -seperti cacar dan lepra- dan orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pemakamannya juga berbeda. Pemakaman yang kini kami kunjungi adalah Sema Wayah, diperuntukkan untuk pemakaman jenis mepasah. Ada lagi Sema Bantas, diperuntukkan untuk penguburan, dan Sema Nguda, diperuntukkan untuk kedua jenis pemakaman yaitu mepasah (exposure) maupun penguburan. Cukup unik bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya nanti, menyebut Trunyan, akan selalu membawa ingatan pada sebuah desa kecil yang letaknya terpencil di tepi Danau Batur, di kaki Bukit Abang. Terbayang pula suasana kehidupan masyarakat Bali tempo dulu dengan tradisi yang masih kuat di desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, sebagai saran, bila ke Trunyan, sediakanlah uang receh. Akan banyak sumbangan yang perlu Anda berikan. Mulai dari biaya parkir, pengemis, pedagang akesoris yang sedikit memaksa, bonus ekstra untuk guide lokal yang berinisiatif menjadi guide tanpa diminta, bonus untuk navigator cilik, serta sumbangan di makam. Jangan pula terkecoh dengan nominal uang yang mereka letakkan di kotak sumbangan. Akan selalu ada nominal besar sehingga Anda sungkan menyumbang sedikit. Modus yang cukup cerdas bukan? So… nikmati saja perjalanannya, sumbanglah seberapa Anda bisa, yang penting ikhlas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-7272578454089387038?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/10/18/trunyan-makam-tanpa-kubur/' title='Trunyan, Makam tanpa Kubur'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/7272578454089387038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/trunyan-makam-tanpa-kubur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7272578454089387038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7272578454089387038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/trunyan-makam-tanpa-kubur.html' title='Trunyan, Makam tanpa Kubur'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO89OtdjzrI/AAAAAAAAAFk/y0XDQyCDj0I/s72-c/trunyan13-300x199.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-3618550947705593356</id><published>2010-11-25T20:42:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:44:55.039-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Andai Minum Tuak Berkesan Elegan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO87JQxaQ9I/AAAAAAAAAFc/JeqL2kxwu50/s1600/tuak2-300x297.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 297px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO87JQxaQ9I/AAAAAAAAAFc/JeqL2kxwu50/s320/tuak2-300x297.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543714696623440850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah berpemukiman Batak, baik itu Batak Toba, Batak Karo, dan subetnis Batak lainnya, tempat bersosialisasi yang paling diminati kaum lelaki adalah lapo tuak. Lapo tuak artinya warung atau gubuk tempat minum tuak, sejenis minuman yang disadap dari pohon nira dan dicampur dengan kulit pohon raru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat awam menyebutnya dengan tuak. Tetapi karena lokasi pengambilannya di dalam hutan, para komunitas pencinta alam menyebutnya jungle juice. Jus segar dari dalam hutan. Rasanya sedikit manis,kelat, mengandung alkohol, dan membuat segar. He-he… walaupun seperti alkohol lainnya, efek yang ditimbulkan pada saya selalu membuat mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keyakinan masyarakat jika dikonsumsi dengan benar, tuak dapat mencegah berbagai macam penyakit. Penyakit pinggang, batu karang, kencing batu, kanker rahim, penangkal bisa ular, dan dipercaya sangat baik bagi perempuan yang baru bersalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar manis, kelat, dan kadar alkoholnya tergantung pada proses pembuatannya dan berapa banyak kulit raru yang dicampur. Jungle juice adalah minuman beralkohol layaknya bir. Seperti juga bir, ia identik dengan pergaulan. Biasanya masyarakat komunal kelas bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu raru yang menjadi campuran tuak banyak tumbuh di Pematang Siantar. Menurut kawan-kawan saya di Komunitas Sendal Jepit Medan, tuak terbaik yang pernah mereka temui mereka dapatkan di Desa Torong, tak jauh dari kaki Gunung Sinabung. Peraciknya adalah Bapak Mariot Purba. Racikannya pas. Bahkan si pembeli bisa menakar sendiri kadar kekelatan dan manisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembuatan tuak dimulai dengan memilih pohon aren yang telah memiliki bakal buah berusia tiga bulan. Ciri alaminya ditandai dengan banyaknya serangga kecil seperti lalat dan lebah di sekitar bakal buah. Batang bakal buah pohon nira yang telah dipilih tersebut selanjutnya diguncang dan dipukul berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, untuk mencapai bakal buah tersebut, para penyadap nira, hanya menggunakan sebatang bambu sebagai tangga. Bambu-bambu tersebut diberi dua lubang sebagai tempat meletakkan jempol kaki dan telunjuk. Cukup itu saja. Bayangkan betapa ahlinya mereka memanjat. Gerakan mereka gesit. Saya pernah menyaksikan sendiri di kampung ibu saya. Mereka berangkat dengan membawa bubungan bambu sebagai tempat nira yang telah disadap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat yang digunakan untuk memukul bakal buah terbuat dari kayu keras berbentuk seperti korek api ukuran besar. Irama pukulannya asik didengar. Tak sembarangan. Di beberapa daerah, tembang pengiring pun dialunkan sambil memukul bakal buah. Seperti rayuan agar pohon tidak marah dan segera menghasilkan air nira lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya lagi, para penyadap pohon nira tidak akan pernah mengganti baju “dinasnya”. Baju yang akan digunakan untuk memanjat pohon nira itu-itu saja. Ini dipercaya agar pohon nira akrab dengan pemiliknya. Ia kenal betul aromanya. Jika ini dilanggar, dikhawatirkan nira akan berhenti mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari, proses lanjutannya adalah pemotongan batang bakal buah. Sebelum pemotongan proses penguncangan dan pemukulan tetap dilakukan lebih dahulu. Selanjutnya, setelah bakal buah dipotong, bekas potongannya diolesi dengna sabun batangan agar serangga kecil menjauh. Kemudian tutup dengan talas. Daun talas digunakan agar air mengalir dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang bakal buah yang telah dipotong tersebut setelah dua hari dipotong kembali setebal 3 cm. Bekas potongan yang telah menghasilkan nira diberi wadah dari bambu untuk menampung. Untuk membuat jungle juice atau tuak wadah bambu terlebih dahulu diberi kulit batang raru secukupnya. Hasilnya dapat diambil pada sore hari jika peletakan wadah pagi hari. Jika peletakan wadah sore hari, hasilnya dapat diambil pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minum tuak rasanya akan semakin pas bila ditemani penganan kecil yang disebut tambul. Tambul bisa dari kacang kulit, tempe goreng, ikan teri goreng, beberapa lapo tuak menyediakan tambul ekstrim seperti ular goreng. Huuuuuu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Minum Tuak Tak Elegan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapo tuak dari segi penampilan memang tidak pernah menarik. Terkesan sembarangan, kasar, dan jauh dari kebersihan. Orang-orang yang biasa nongkrong di sana dikenal sebagai parmitu akronim dari parminum tuak yang artinya peminum tuak. Mereka dicap kasar, suka mabuk-mabukan, pemalas, dan tergolong kelompok orang yang putus asa. Paling tidak demikian gambaran lapo tuak. Benarkah? Padahal pada zaman dahulu tuak adalah minuman bergengsi untuk kaum bangsawan dan para raja. Berbeda sekali dengan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota Medan lapo tuak ada banyak tersebar di sekitar kawasan Padang Bulan, Simpang Melati, dan Simalingkar. Informasi yang saya peroleh dari teman yang suka minum tuak, tuak paling bagus ada di Jalan Air Bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, teman-teman saya ingin berakrab ria, minum tuak rame-rame. Jadilah saya didaulat menemani salah seorang teman. Tempatnya di sekitaran Pasar V, Padang Bulan. Kata teman saya ini, tuak di tempat itu lebih bagus dibanding tempat lain. Tidak banyak campurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba, saya merasa ditelanjangi. Mungkin aneh rasanya saya ada di sana. Cuek sajalah! Bisa jadi itu cuma pikiran saya. Di tempat itu saya merasakan aroma tuak yang entah kenapa di tempat itu terasa erat degan keputusasaan. Rekaman bayangan anak-anak muda tak ada kerjaan sambil memetik gitar muncul di pikiran saya. Orang-orang tak bermasa depan. Senandung lagu terdengar di sela cekukan mabuk sambil berjalan terhuyung-huyung. Lisoi… lisoi… lisoi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya tersadar, itu tidak terjadi, mereka hanya duduk sembari bercerita banyak hal. Mulai dari masalah kampus, masalah perempuan dan percintaan, sampai kepada urusan politik negara ini. Dan saya sekarang bicara tentang mereka dengan sok tahunya. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah… Seburuk itukah sudah pencitraan lapo tuak bagi masyarakat kita? Lapo tuak tak jauh-jauh dari kegagalan. Pencitraan buruk sehingga enggan rasanya menjejakkan kaki di sana. Padahal seharusnya lapo tuak dan tuak adalah simbol pergaulan dan keakraban. Ranah di mana berbagai wacana dilontarkan. Terkadang sama sekali tak penting bahkan beberapa berujung dengan adu jotos. Mungkin inilah pencap buruk itu. Bukankah bir juga awalnya seperti itu? Simbol pergaulan masyarakat banyak. Hanya saja prestisenya diangkat. Tuak juga hendaknya demikian. Entah dengan upaya apa. Saya juga kurang tahu persis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah upaya pernah dilakukan Tuak House. Lapo tuak modern yang dibuka di mall. Sayangnya pemilihan tempatnya tidak pas. Sebuah mall yang hampir mati. Alhasil, impian menjadikan tuak sebagai simbol pergaulan kelas elite gagal telak. Tapi saya sangat mengapresiasi ini. Paling tidak kita tidak harus terus-menerus mengadopsi segala sesuatu dari barat. Bir misalnya. Kita kan punya tuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga terpikir untuk membuat tuak dalam kemasan menarik. Bisa dijadikan oleh-oleh khas Medan dengan kadar alkohol yang sudah jelas, seperti arak bali. Sejalan dengan keunikan itu pendapatan daerah juga bertambah. Tidak perlu malu lagi minum tuak. Sebagai perempuan terkadang saya merasa terdiskriminasi dengan sistem patriarki suku-suku Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, tak usah ambil pusing lagi dengan itu, meskipun saya perempuan, tak segan juga saya merekomendasikan teman-teman dari luar Medan mencicip minuman khas ini. Seteguk dua teguk tanpa perlu bernyanyi, “Lisoi… lisoi… o… parmitu… glekkkk…. ,” sambil tengleng. Tak perlu sampai mabuk karena mabuk minum tuak terkesan sangat tidak elegan. Mari kita minum tuak, sedikit itu baik. Kira-kita begitu. Agar minum tuak bisa lebih elegan! Tapi bagaimana caranya. Ada yang bisa bantu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-3618550947705593356?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/18/andai-minum-tuak-berkesan-elegan/' title='Andai Minum Tuak Berkesan Elegan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/3618550947705593356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/andai-minum-tuak-berkesan-elegan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3618550947705593356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3618550947705593356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/andai-minum-tuak-berkesan-elegan.html' title='Andai Minum Tuak Berkesan Elegan'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO87JQxaQ9I/AAAAAAAAAFc/JeqL2kxwu50/s72-c/tuak2-300x297.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-19286488251829758</id><published>2010-11-25T20:35:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:13:58.975-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Freindship dan Lainnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO850p4xe8I/AAAAAAAAAFU/FpkIzPGS8L4/s1600/anak-laut-300x199.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO850p4xe8I/AAAAAAAAAFU/FpkIzPGS8L4/s320/anak-laut-300x199.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543713243076328386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah catatan perjalanan bulan lalu, entahlah mungkin malah dua bulan lalu, aku tak ingat persis. Belakangan ini aku sedikit malas menulis. Tulisan kali inipun karena merasa berhutang kepada beberapa teman. He…he… (Orangnya pasti tau kalau dia yang aku maksud). Walau tidak ada tagihan secara langsung, tapi kok rasanya ada yang belum tuntas. Maafkan aku ya kawan, sedikit telat dan ingkar janji. Motivasi menulis kali ini memang “tak murni”, maafkan aku kawan-kawan- untungnya tulisan ini “memaksa” untuk terbiasa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertemanan Tak Terduga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang kantor, seperti biasa sore itu aku ke Rumah Buku. Tempatku biasa berkumpul dengan kawan-kawan dekatku. Komunitas muda yang mengaku cinta buku yang telah kami bina sejak 3 tahun lalu. Tentang sejarah Rumah Buku ini akan kuceritakan kali lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, Eci bersama dua orang yang tak akrab di mataku sedang duduk di teras. Memberi senyuman sekilas yang kubalas seramah mungkin. “Nah, ini dia orangnya.” Kata Eci. “Baru aja dibahas udah datang. Panjang umur,” katanya lagi terkekeh dengan tawa khas yang sudah aku hafal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyaku datar setelah bersalaman dengan dua orang baru tersebut. Yang satu namanya Rizal, yang satu lagi, aku tak ingat. Mereka temannya Lina Naibaho, salah satu penghuni tetap rumah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah pertemanan kami dimulai. Tak ada direncanakan. Membicarakan pertemanan ini juga agaknya sedikit rumit. Banyak jalur pertemanan yang tak terduga. Terbentuk begitu aja. Mempertemukan kita dalam jalinan semesta. Rizal temannya Lina. Lina teman kami sejak di Suara USU. Rizal juga teman Andre, teman baru di Facebook yang kukenal dari Nanda, teman dari facebook juga yang akhirnya menjadi teman di dunia nyata. Jalinan pertemanan kami terbentuk unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak daftar pertemanan lainnya yang sebenarnya tak usah dipusingkan. Jalinan-jalinan itu akan mencari sendiri jalannya. Mencari kutub-kutub yang cocok. Menemukan daya tarik dan kekuatan kimianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemanan itu memang sedikit unik. Pada beberapa kasus, ada pertemanan yang berusaha aku jalin dan aku jaga dengan baik. Tapi gagal. Biasanya memang sejak awal, aku sudah merasakan tidak ada chemistry. Ikatan kimia yang membuat kita merasa cocok dan akur dengan seseorang. Di alam bawah sadar kita. Entah itu benar atau tidak, aku selalu merasa begitu. Walau sudah mati-matian berusaha membuat diri nyaman, tetapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya aku menyerah. Itu memang tidak bisa dipaksakan. Orang-orang seperti itu akhirnya cukup masuk ke dalam daftar kenalan saja bukan teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya dua kenalan baruku ini. Yang satu terkesan biasa saja sedang yang lain mungkin cocok dijadikan teman. Masalah selera mungkin. Itulah awal pertemuanku dengan Rizal, Masrizal, Bang Mas kata Lina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, ia butuh narasumber tentang minat baca dan perpustakaan kolektif untuk kelompok binaan mereka di Aceh, Alu Billie dan Blang Kejeren. Awalnya Lina menawarkan Eci. Ini juga misteri. Eci tidak bisa karena ia sedang mempersiapkan perjalanannya ke Papua. Akhirnya aku dipinang untuk perjalanan kali ini. Lagi-lagi, banyak hal yang tak terduga. Aku memutuskan ikut. Berbekal rasa percaya dan niat jalan-jalan, tentang jalan-jalan, jangan tanyakan lagi, itu nama tengahku, aku bergabung dengan Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana dan jadwal keberangkatan diatur. Aku berangkat sendiri. Rencana awal Lina ikut cuma ia terhalang dengan persiapan menyelesaikan ancaman DO nya. Ha..ha… Nay…Nay… aku pikir aku paling lama, eh ternyata ada yang lebih lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berangkat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa dalam setiap perjalanan, aku selalu harus berpuas diri menjadi satu-satunya perempuan. Seperti juga perjalanan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari H. Aku menunggu jemputan di Rumah Buku. Janjinya pukul 6 sore. Sebagai mantan korban penyandang gelar miss jam karet yang enek disebut begitu, sejak pukul 5 aku sudah bersiap-siap di Rumah Buku. Tidak ada persiapan atau ritual penting, hanya menunggu. Lalu, menit demi menit berlalu. Kabar terbaru, jemputan datang pukul 19.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan sikap anggun bak bangsawan *he..he.. lebai deh* aku menunggu jemputan. Terlambat 1 jam dari rencana semula. “Tak jadi berangkat,” tanya Richard. “Jadi,” jawabku malas. Sambil menunggu, kerudung hitam pinjaman dari Hanum sudah membalut kepalaku. Aku tampak seperti muslimah yang tak alim. Ha…ha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jam pun melewatkan 15 menit dari jam perjanjian kedua. Sial! Kesal ga sih dengan janji yang tak pasti begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan sikap sok bangsawan *ini pasti bohong* aku mencoba menghubungi Bang Mas. “Jam berapa sih jemputannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cresss… bunyi penanda pesan masuk yang seperti air tumpah terdengar dari ponselku. “Sebentar lagi katanya, coba hubungi, ini nomornya. Maaf ya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uhhhhh… rasanya ingin jitak kepala bang Rizal aja waktu itu. Tapi ga jadi ah, kasian, lagian jauh, udah berangkat ke Aceh duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian jemputan datang. Kijang inova warna emas meluncur mulus. “Saya pastikan tidak salah.” Seorang bapak berkulit gelap melonggokkan kepala dari pintu belakang yang terbuka kacanya. Anggukan kepala ramah kubagikan kepada mereka. Sebuah bangku kosong sudah disediakan buatku di samping pak supir. Baik sekali pikirku. Setelah naik mobil, aku tahu alasannya, aku satu-satunya penumpang perempuan. Lagi-lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ridwan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah dari perjalanan diisi dengan kebisuan. Tak ada percakapan. Sampai akhirnya percakapan ringan dikeluarkan dari bapak yang duduk tepat di belakangku. Mungkin mulutnya mulai basi seperti juga bau mulutku. Percakapan seputar persiapan peringatan tsunami di Meulaboh memulai percakapan mereka. Ah… ternyata mereka juga bukan penduduk asli Aceh. Si bapak yang aku lupa namanya sangat gemar bercerita. Ia berasal dari Palembang. Aku tak terlalu berselera bercerita. Lalu, aku pura-pura tidur. Malas berkomentar. Sampai kemudiaan menjelang subuh hari, si bapak asal Palembang, menepuk pundakku dari belakang dan berbisik pelan. “Yang duduk di depan, jangan tidur. Si sopir hampir saja nabrak. Ajak ngobrol biat ga ngantuk,” katanya mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku segar. Tak mau konyol di tengah jalan begini. Obrolan-obrolan ringan pun meluncur dari mulutku. Malas aku buang jauh-jauh. Mulai dari obrolan seputar asal-usul. Pengalaman kerja sampai persoalan-persoalan pribadi. Pak supir yang sedari awal sangat simpatik ternyata bernama Ridwan. Ia telah puluhan tahun menjadi supir travel. Asli Meulaboh. Sesekali kilatan sedih terpancar waktu ia bercerita tentang tsunami. Tapi kemudian berubah ceria saat ia bercerita tentang perjalanan kelilingnya sebagai supir travel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cerita yang paling disukainya adalah tentang seorang perempuan muda batak bermarga pasaribu yang suka curhat kepadanya. Cerita itu berulang-ulang diungkit-ungkitnya meskipun berkali-kali aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Jadi ceritanya, rumah tangga perempuan muda ini sedang di ujung tanduk dan si bapak tampil sebagai sansak tempat curhat. Entah kenapa, ia terkesan bangga dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tak ada kaitannya, pada dasarnya, bapak ini baik dan simpatik. Pukul 7.30 aku sudah sampai di Alu billie. Bang Rizal menjemput dengan sepeda motor. Lalu perjalanan berikutnya sudah akan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Liburan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku suka dari perjalanan kali ini, meskipun tujuannya sebagai fasilitator diskusi minat baca dan membangun taman bacaan, aku merasa seperti sedang berlibur. He..he… terima kasih… Terima kasih buat semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usahlah aku bercerita banyak tentang kegiatan pemberian materi. Tak banyak, lebih kepada diskusi dan sharing pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengalamaan berkesan dari orang-orang yang bersama-sama dengan saya dalam perjalanan kali ini. Saya bertemu dengan transmigran asal Jawa yang sangat mencintai dan merasa diri sebagai orang Aceh. Saya bertemu dengan orang-orang yang punya mimpi. Saya jadi ingin banyak bermpimpi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah perjalanan membuat kita makin bijaksana. Aku rasa begitu. Dari tiga kawan yang kami banyak bersama, aku belajar tetang memberi. Kebiasaan yang sering kali aku tahan-tahan. Tapi selalu saja ada pelajaran dari orang-orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberi materi selebihnya kami menikmati pantai-pantai dan pemandangan di sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menunggu senja di Bakongan. Garis pantai yang panjang. Aroma laut, amis ikan, sinar matahari sore. Kami tunggu dengan damai. Berempat. Bang Yudi yang pendiam tapi baik selalu memilih menikmati sore itu dengan kesndiriannya. Semua punya pilihan. Aziz memilih berenang dan sedikit menggombal pada dua anak perawan *kayaknya sih* yang sedang bermain di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Rizal, dengan kameranya memilih menyisir pantai dan membidik, mengabadikan apa yang ia suka. Lalu aku, memilih menikmati semuanya. Mengukur setiap denyut alam bakongan dalam tiap aroma laut yang aku hirup. Mengikuti garis pantai dan mengukir bebeberapa nama di sana. Betapa beruntungnya kalian. Pemilik nama yang terlintas di pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sambil menunggu matahari bukat kemerahan di ujung sana. Aku duduk mendengarkan nyanyian gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya 2 menit, momen itu berlangsung cepat. Matahari menjadi bulat utuh, lalu menghilang di telan garis laut yang tertangkap mata. Lalu gelap menelan kami hidup-hidup. Kami pulang setelah mengabadaikan perselingkuhan pura-pura dalam lembaran-lembaran kilatan cahaya kamera Bang Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu dan malam berikutnya saat akan kembali ke Medan, langit sangat ramah. Ribuan bintang di langit gelap terlihat jelas. Tak beraturan dan tak terhitung. Aku hampir gila memikirkannya. Aku jatuh cinta pada langit. Aku semakin yakin akan hal itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-19286488251829758?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/10/18/travellouge/' title='Freindship dan Lainnya'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/19286488251829758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/freindship-dan-lainnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/19286488251829758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/19286488251829758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/freindship-dan-lainnya.html' title='Freindship dan Lainnya'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO850p4xe8I/AAAAAAAAAFU/FpkIzPGS8L4/s72-c/anak-laut-300x199.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-7729957906692937676</id><published>2010-11-25T19:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T20:33:49.075-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Dari Aceh Hingga Rusdi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO84mb2TqvI/AAAAAAAAAFM/uDkfD9JEd0k/s1600/rusdi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO84mb2TqvI/AAAAAAAAAFM/uDkfD9JEd0k/s320/rusdi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543711899278093042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kecilku dulu sewaktu anak-anak tidak pernah membayangkan minat melakukan perjalanan ke Tanah Aceh. Aceh adalah kengerian yang bila kau menginjakkan kaki ke sana maka tidak ada kemungkinan selamat. Paling tidak kau akan mengalami luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah saya sekarang. Di Aceh Tamiang. Bagian kecil Aceh yang luas. Ini bukan pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Aceh. Kelima kalinya mungkin. Saya telah ke Meulaboh, Tapak Tuan, Banda Aceh, dan Sabang. Siapa sangka. Entah ke mana rasa takut dan tak suka yang dulu pernah hadir. Apakah karena tuntutan pekerjaan, kesenangan bertraveling, atau alam pikiran yang lebih terbuka. Sejumlah teman saya berasal dari Aceh. Itu pasti berkontribusi kecil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi terbesar datang dari situasi yang telah berubah. Aceh tidak seseram dulu lagi meskipun kadang enggan ke sana. Jujur saja, sebagai penduduk non muslim saya sangat tidak nyaman dengan berbagai aturan syariah Islamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar memang tidak ada kewajiban bagi saya yang non muslim untuk melakukannya. Saya tidak diharuskan memakai jilbab. Saya hanya disarankan berpakaian sopan, kalau memakai jeans juga dianggap mereka sopan. (Belakangan ada kabar perempuan memakai jeanspun dilarang.) Banyak sekali aturannya. Aturan yang tidak penting dan sangat tidak esensi. Siapa yang bisa menjamin moralitas seseorang. Apa moral diukur dari tampilan luar? Sialan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang berpakaian sopan itu, saya tak masalah. Karena saya juga sangat tidak terbiasa berpakaian tidak sopan. Berpakaian renang ke pasar saya tak pernah. Itu mungkin terlalu ngawur. Tapi jujur, memakai baju tanpa lengan juga saya tidak suka. Jadi, kurang sopan apa saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban memakai jilbab bagi perempuan muslim itu sangat membuat saya tidak nyaman. Sumpah! Bagaimana tidak, bila saya berjalan di pusat kota tanpa memakai jilbab, semua mata, entah itu perempuan atau laki-laki akan melirik saya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seakan-akan saya najis dan menjijikkan. How come… Atau bila ia lelaki, saya bisa saja dicolek sembarangan seakan saya perempuan jalang. Ini lebih sialan lagi! Maaf, saya bicara kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali bukan.Karena itu bila ke Aceh, walau tidak memakainya, saya wajib membawa jilbab. Sekadar berjaga-jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem… itulah Aceh kini. Ketidaknyamanan itu tinggal sedikit. Sangat berbeda jika dibandingkan zaman tahun 1990-an. Aceh itu kengerian. Saya ingat benar waktu kecil, tetangga dekat rumah saya, mendadak menjadi janda dalam satu malam karena suaminya ke Aceh. Ia ke sana bukan untuk berperang. Hanya untuk berdagang dan mengurus usaha. Tapi ia mati. Ditembak GAM sewaktu dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik itu terjadi konon karena ketidakadilan pemerintah pusat. Ketidakmerataan pembangunan. Aceh itu tanah yang kaya. Tanah yang subur. Ganja saja tumbuh subur di sana. Hutan ganja lebih tinggi dari manusia. J Penghasilan buminya juga sangat banyak. Mulai dari gas buminya yang terkenal itu, buah-buahan seperti cempedak, cabai aceh yang terkenal, dan saya pikir masih banyak lagi. Tentu masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Aceh terasa ketinggalan dan tak maju. Itu kata mereka. Entah salah siapa juga. Apakah memang telah dikondisikan sejak jaman dulu kala? Pemerintahan orde barukah? Ibu saya bilang itu karena orang Aceh malas-malas. Saya tidak bermaksud rasis. Itu cerita yang saya dengar. Selain malas, mereka punya sifat iri yang sangat tinggi. Mereka tidak suka dengan kaum pendatang yang lebih maju. Mereka akan menyerang dan membuat mereka tidak nyaman. Entahlah apakah itu benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak percaya. Sikap ingin maju dan malas itu bukan milik satu suku saja. Tidak Aceh, tidak Jawa, tidak Karo, tidak pula yang lainnya. Sangat personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum pendatang sukses di daerah rantau itu wajar saja. Setiap perantau dituntut bekerja lebih banyak dan lebih keras. Ia tidak punya banyak di daerah yang ia datangi. Seorang perantau adalah pejuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i pernah bilang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Orang berlimu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.&lt;br /&gt;Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.&lt;br /&gt;Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.&lt;br /&gt;Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan&lt;br /&gt;Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang&lt;br /&gt;Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa&lt;br /&gt;Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran&lt;br /&gt;Jika matahari di orbitnya bergerak dan terus diam&lt;br /&gt;Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang&lt;br /&gt;Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang&lt;br /&gt;Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa&lt;br /&gt;Jika di dalam hutan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong tentang kisah sukses pendatang di Aceh, saya teringat Pak Rusdi. Bapak yang saya jumpai di Desa Suka Makmur, Aceh Tamiang. Dia seorang pendatang. Asli Jawa. Entah Jawa bagian mana saya tidak tahu persis. Ia telah tinggal di sana lebih lama dibanding daerah asalnya. Hampir seluruh hidup ia habiskan di Bumi Teuku Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rusdi datang dari Jawa melalui kapal laut dengan biaya pada waktu itu sekitar Rp 85,-. Ia mendarat di Belawan pada tahun 1952. Saat itu beliau berumur 21 tahun. Masih sangat belia. Umur Pak Rusdi sekarang 79 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rusdi sempat sekolah di SR dan ingin meneruskan ke SGB. Tapi gagal karena ketiadaan biaya orang tuanya. Akhirnya di merantau ke Aceh. Ia salah satu orang yang pertama mendapat ijin dari pemerintah membuka hutan untuk dijadikan kebun karet yang sekarang ada di desa Suka Makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya visualisasikan sendiri riwayat perjalanannya menuju pulau Sumatera. Pasti tidak mudah. Pulau Andalas ini, di tahun 50-an kondisinya tentu sangat berbeda dengan saat ini. Secara fisik, demografis, juga transportasinya. Transportasi laut juga belum semaju sekarang. Entah berapa hari waktu yang perlu ia habiskan terombang-ambing di tengah laut. Butuh keberanian besar memutuskan meninggalkan tanah kelahiran menuju sebuah tanah asing yang sama sekali tak dikenal. Saya tidak yakin juga ia membawa bekal uang yang banyak kala itu. Tak akan berani. Kalau pun ia kemungkinan dirampok atau dipalak pasti ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham, yang dikenal juga sebagai Nabi Ibrahim sudah memberikan contoh ribuan tahun silam. Ia mengajarkan tentang keberanian. Tidak usah dan tidak ada keraguan mengambil keputusan untuk hal-hal yang belum pasti. Gambling! Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusdi juga demikian. Tanah yang ia tuju itu belum jelas keadaannya. Wilayah yang kini ia jadikan perkebunan karet dulunya adalah hutan belantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia dikenal masyarakat sekitarnya sebagai tokoh masyarakat. Salah satu pendiri awal dusun dan tempat mereka belajar berkebun karet. Bukan karena pendidikan formalnya yang sangat tinggi. Tapi karena keberanian dan pengalamannya. Setelah Rusdi berhasil membuka lahan baru, ia kemudian mengajak beberapa saudaranya untuk datang dan menggarap lahan kosong tersebut. Kini masing-masing mereka memiliki kebun paling tidak 2 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusdi, karena kegagalannya melanjutkan sekolah, ia bertekad agar anaknya menjadi sarjana. Dari istri pertama Rusdi dikarunia 9 orang anak. Dari penuturan beliau, ia telah berhasil mencapai mimpinya itu. Semua anaknya menjadi sarjana. Bahkan 2 di antaranya di Jakarta menjadi dokter spesialis, yang lain ada di Riau menjadi asisten perkebunan. Yang lain tidak diceritakan secara detail karena hari sudah mendung berat. Perbincangan pun berakhir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-7729957906692937676?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/10/18/dari-aceh-hingga-rusdi/' title='Dari Aceh Hingga Rusdi'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/7729957906692937676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/dari-aceh-hingga-rusdi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7729957906692937676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7729957906692937676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/dari-aceh-hingga-rusdi.html' title='Dari Aceh Hingga Rusdi'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO84mb2TqvI/AAAAAAAAAFM/uDkfD9JEd0k/s72-c/rusdi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8731734219624691990</id><published>2010-11-25T19:17:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:14:11.331-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Sebulan di Jawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8oZs9Gw9I/AAAAAAAAAFE/5eD7rei9fi8/s1600/borobudur.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 290px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8oZs9Gw9I/AAAAAAAAAFE/5eD7rei9fi8/s320/borobudur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543694088345666514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan tanggal yang tertera pada tiket pesawat kelas ekonomi yang harganya selangit abis waktu itu, kami berangkat ke Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua, aku dan Nande (ibu dalam bahasa Karo) menuju Semarang. Kota yang telah (mungkin 7 tahun) menjadi pilihan tinggal kakak tertuaku. Kakakku akan melangsungkan pernikahan bulan itu. Kami datang untuk merayakannya bersama-sama.&lt;br /&gt;Dari Medan kami tidak banyak, hanya enam orang mewakili seluruh kaum kerabat dan keluarga. Nande selaku orang tua (bapak kami tak lagi punya), abangku satu-satunya dan Eda (istri abang) mewakili Kalimbubu atau Hula-hula, dua orang Bibi atau tante adik Bapak sebagai anak beru (boru), dan aku. Aku sebagai adik termuda tersayang. Hehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat orang lagi datang menyusul seminggu kemudian. Aku dan nande berangkat lebih awal mempersiapakan acara lamaran dan persiapan awal lainnya. Zaman sekarang semua orang serba sibuk. Jadi tak pantas rasanya melibatkan “orang lain” untuk waktu yang terlalu lama. Satu minggu saja tante menyempatkan waktu untuk acara pemberkatan, resepsi, dan lain-lain sudah sangat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadiri pernikahan kakak adalah tujuan utama kami kali ini. Ini adalah pertemuan langsung kami setelah tiga tahun terakhir tidak pernah bertatap muka secara langsung. Kakak pulang ke Medan terakhir tiga tahun lalu saat menghadiri pernikahan kakak keduaku. Setelah itu komunikasi lebih banyak lewat jaringan telepon dan email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di bandara, kami telah ditunggu. Tidak hanya berdua, kakak dan calon abang ipar, tapi juga ada sepupu Mas Agung, nama calon abang iparku, juga Bu Lek dan Pak Lek Mas Agung. Pertemuan perdana antar dua keluarga. Keluarga Tarigan dan Keluarga Wijonarko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuceritakan sedikit tentang kedua calon mempelai ini. Latar belakang budaya mereka berdua sangat jauh berbeda. Yang perempuan, kakak tertuaku, lahir dan dibesarkan di lingkungan berbudaya Batak. Temperamennya keras, berpendirian kuat, tegas, tak kenal kompromi, namun juga bisa sangat lembut dan toleran. Itu sifat dasar kakak yang sejak dari dulu sudah terlihat. Ia tidak akan segan membantah Bapak jika ia yakin berada di pihak benar. Ia juga tidak akan takut mempertahankan kebenaran yang diyakininya dengan konsekuensi apapun. Termasuk melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakakku cantik. Pembawaannya lembut dan keibuan. Walaupun orang bilang kami sangat mirip, seperti kembar, warna kulit kami tak sama. Warna kulitku gelap sementara ia berkulit cerah. Wataknya memang lebih keras tapi ia terkesan lembut. Sangat berbeda dengan aku yang kelihatan berani, serampangan, tak rapi, terkadang ceroboh namun juga sangat lemah dan labil dalam hal prinsip. Yang jelas, meskipun terlahir dari rahim yang sama dengan wajah yang kata orang mirip, karakter kami sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Mas Agung, calon abang iparku, perawakannya tinggi kurus. Dari cara bicaranya yang sangat medok Jawa, tahulah kita bahwa ia lahir dan dibesarkan dalam budaya Jawa. Ia asli Banjar Negara. Kota kecil di lingkungan kaki Gunung Salak. Kulitnya sama gelap sepertiku. Gambaran tentangnya tidak jauh berbeda dengan banyak cerita dan foto-foto yang telah dikirim kakakku jauh-jauh hari sebelumnya.&lt;br /&gt;Ia tidak pemalu. Sangat ramah dan menyenangkan. Ia bisa disebut manis. Seperti kata Bapak Pendeta Susanto sewaktu acara pemberkatan, karakter Mas Agung dan Kak Idha saling mengisi. Berbeda dengan kakak yang dibesarkan dalam lingkungan Batak, Mas Agung lembut pembawaannya, lembut bicaranya, dan manut orangnya. Ia tidak bersikukuh seperti kakak. Tapi bukan berarti ia tidak berprinsip. Sifat mereka ini nyatanya memang saling mengisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, hari ketika kami bertemu adalah pertemuan pertama Mas Agung dengan Nande, calon mertuanya. Iseng, pagi hari sebelum berangkat, kuintinp sebentar status Mas Agung di Facebook. Ada komentarnya di sana, “Iya ni, hari ini bakal deg-degan. Soalnya mau ketemu calon mertua.” He…he… aku senyum-senyum aja membacanya. Sembari sedikit geli membayangkan pertemuan keluarga Wijonarko dengan logat khas Jawanya dan Nande dengan logat Karo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu memang tak jauh dari bayanganku. Ada bahasa tubuh yang berusaha sama-sama memaklumi untuk memahami maksud lawan bicara. Nande yang sangat Karo sekali, sesekali mengeluarkan kosa kata khas Medan. Aku dan kakak hanya saling melirik, saling melempar senyum menikmati komunikasi lintas budaya ini. Mas Agung juga begitu. Terkadang kami bertiga terbahak mendengarkan percakapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dan Ibu Wijonarko cepat akrab dengan Nande. Mereka seperti menikmati kelucuan cara bicara masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komitmen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khotbah yang disampaikan Bapak Pendeta tentang komitmen pernikahan. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Aku setuju dan masih tetap akan setuju. Ranah ini adalah ranah sakral yang musti dijaga. Pernikahan bukan ajang kawin cerai. Buat yang tidak setuju, tidak apa-apa. Mau kawin cerai juga terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberikan ilustrasi menarik tentang komitmen pernikahan. Tentang dua sahabat. Seekor ayam dan seekor babi. Suatu hari, kedua sahabat ini mendapatkan tawaran bisnis yang sangat menarik dari seorang pengusaha. Ayam yang bertemu langsung dan bercerita dengan calon klien. Tak tanggung-tanggung, tawaran calon klien ini sangat menggiurkan. Keuntungan yang diperoleh sangat besar. Harga yang ditawarkan juga sangat menguntungkan. Si ayam alangkah gembiranya. Tak sabar menunggu dengar pendapat babi, ia menandatangani kontrak kerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya, permintaan suplai telur ayam dan daging babi dengan harga 10 kali lipat harga pasar. Berapa saja pun habis. Wow… siapa yang tak tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sabar, si ayam segera menemui sahabatnya, si Babi.&lt;br /&gt;“Bro, senang amat. Kasi tau dulu kenapa?” tanya si Babi waktu melihat di Ayam datang.&lt;br /&gt;“Enggak sabar ini bro, kita bakal kaya. Barusan aku dapat orderan harga 10x lipat harga pasar. Kita akan untung besar,” kata Ayam antusias.&lt;br /&gt;“Wah kok bisa?” tanya Babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayampun menjelaskan bahwa baru saja ia dan babi akan mengisi orderan daging babi dan telur ayam setiap hari dalam jumlah sesuai kemampuan suplai mereka dengan harga selangit. Belum selesai si ayam berbicara, si Babi langsung angkat suara. “Eits… tunggu dulu bro, jangan asal tanda tangan kontrak aja. Enak di ente enggak enak di ane. Ente si enak aja. Cuma sumbangan. Kalo aku mana bisa begitu,” protes Babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok, maksudnya apa. Ini kesempatan emas,” kata ayam.&lt;br /&gt;“Lho gimana, mikir dong bro. Jangan ambil keputusan gitu aja. Kalau kau mau ya silahkan. Kau si enak cuma sumbang telur aja. Kalau aku, enggak! Enggak bisa. Ini komitmen seumur hidup bro. Ini menyangkut hidup saya. Kalau saya setuju itu menyangkut seumur hidup saya. Hidup mati saya. Saya harus berkomitmen,” jawab Babi tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah Bapak Pendeta menggambarkan komitmen dalam pernikahan. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Bukan sekadar sumbangan telur seperti ayam. Bukan sumbangan sprema saja atau sel telur saja untuk kehidupan. Bukan permasalahan menafkahi doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fotografer Dadakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara pemberkatan dan resepsi, aku bersama dengan kedua pengantin dan seorang abang angkat bermarga Tarigan dan isterinya berkeliling kota dengan mobil pengantin. Mengabadikan momen-momen awal setelah acara pesta pernikahan. Aku jadi fotografer wedding dadakan, sementara Bang Yus dan isteri menjadi pengarah gaya. Lucu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang kami tuju adalah Pantai Marina, taman rekreasi di pinggir pantai. Kita bisa menghirup segarnya udara pantai dan memandang laut lepas. Lokasinya berada di sebelah timur PRPP atau perumahan Royal Family. Patung elang cukup besar di bundaran merupakan pintu masuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Borobudur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua hari setelah pesta pernikahan, kami sekeluarga minus pengantin yang sedang berbulan madu, bersama saudara sepupu dari Jakarta dan dua anaknya berjalan-jalan ke Borobudur. Kangen juga beramah-tamah dengan candi peninggalan Budha ini. Saya terakhir kali ke sana di tahun 2005. Lima tahun lalu, sudah lama juga ya. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan para penganut Budha Mahayana sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju Magelang sebenarnya sangat melelahkan. Bukan saja karena harus berdesak-desakan dalam Avanza yang kami tumpangi, saya sedang tak berselera keliling. Tapi tak apalah, momen bersama keluarga seperti ini tidak biasa. Apalagi pertemuan dengan abang sepupu juga tidak bisa dilakukan setiap tahun. Abang sepupu ini termasuk teman baikku. Usia kami terpaut jauh. Sekitar 20 tahun mungkin. Tapi rasanya kami sangat klop. Kalau bertemu rasanya ketemu sahabat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia asik menjadi sahabat. Tak kaku dan fleksibel. Ia temasuk abang sepupu ipar idolaku. Bukan saja persoalan karakternya yang menyenangkan, sifatnya yang baik, pengertian, tidak pelit, peduli pada keluarga, pekerjaannya yang bagus, ia layak menjadi panutan dalam banyak aspek (mudah-mudahan ia tak baca tulisan ini, kalau sampai ia baca, bisa mati terpuji dia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu bukan berarti ia tanpa cela juga. Sesekali aku juga sangat sebal padanya. Ia terkadang usilnya minta ampun. Seperti perjalanan kali ini. Aku jadi bulan-bulanan guyonannya. Tak habisnya aku digoda. Maklumlah dalam keluarga aku anak paling kecil. Dibandingkan dengan semua saudara sepupu dari mama, akulah termuda. Anak bawang.&lt;br /&gt;Perjalanan ke candi Borobudur menjadi lebih bermakna karena kebersamaan keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang candi borobudur, ia masih tetap berdiri kokoh. Terlihat sama dengan lima tahun lalu. Ada perbedaan mungkin di beberapa tempat. Apakah pohon yang tumbuh di sekitarnya, pergeseran atau beberapa bagian candi yang telah “hilang”. Rusak karena alam atau sengaja dihilangkan. Atau bisa jadi beberapa bagiannya sudah tidak asli lagi. Siapa tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara. Artinya gunung (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa cerita asal usul katanya yang diyakini rakyat. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Sebuah candi yang ada di tempat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Bangunan ini masuk ke dalam daftar keajaiban dunia. World Wonder Heritages. Arsitekturnya memang memikat hati. Sayangnya panas matahari terlalu terik dan orang terlalu ramai berkunjung. Kepadatan orang yang mencapai ribuan itu membuat saya malas melangkah ke dalam kompleks. Tapi sayang rasanya sudah sampai tanpa mengulang pengalaman lima tahun silam. Membawa payung dan topi pelindung wajah kami bergerak merangkak naik menuju puncak. Kami berjalan bagai siput. Sangat lambat. Ribuan orang berusaha naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjuang melawan arus orang yang demikian banyak kami sampai juga di puncak candi yang dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra ini. Bagian dasar Borobudur disebut Kamadhatu melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya di mana Budha diletakkan dalam stupa berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Banyak kisah yang diceritakan di sana. Termasuk Ramayana. Dengan segala misterinya, borobudur memang menarik. Selain menikmati candinya, Anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo, pusat kerajinan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kembali ke Medan via Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami “dijebak”. Setidaknya itu yang terjadi. Dijebak oleh abang sepupu untuk mampir dulu ke Jakarta sebelum kembali ke Medan. Meski hanya satu malam sekalipun. Karena sudah berjanji, tak mungkin kami mengingkari. Kamipun pulang ke Medan via Jakarta. Jumat malam kami berangkat dari Semarang menuju Jakarta. Tak bisa naik kereta karena sedang peakseason. Kami kehabisan tiket. Karena itu kami ke Jakarta menumpang mobil travel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan awalnya cukup nyaman hingga kemudian sampai pada sebuah insiden kecil. Tangisan anak kecil membahana yang tahan tidak berhenti hingga lima jam perjalanan. Oh my God! Ini perjalanan paling tidak menyenangkan. Tempat-tempat yang dilewati tak bisa lagi dinikmati. Niat awal untuk mencatat tiap detail dalam pikiran jadi buyar. Aku jadi hanya ingat beberapa. Hanya beberapa. Brebes dengan bawang etalasenya, kendal, kota kerupuk, entah apalagi. Aku tidak ingat. Kepalaku rasanya mau pecah mendengar tangisan bocah tersebut. Dasar menyebalkan. Menyebalkan sekali! Mau rasanya teriak! Marah, memaki-maki. Tapi saya tahankan. Sesekali terdengar saya menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melampiaskan kesal, saya kirimkan pesan singkat pada seorang teman.&lt;br /&gt;“Sialan, gw tjbk di mbil ini.”&lt;br /&gt;“Np lw?”&lt;br /&gt;“Gw lg d jln otw jkt. Naek trvl. Da anaq2 nyblin. Nangis kras ga brenti2 dah 3 jam. Kyk ptir.Begh..”&lt;br /&gt;“Ha3. Jitak aja palanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengen sih njitak kepala anak itu. Tapi tidak sampai hati. Ibunya juga diam aja hanya membujuk-bujuk agar anaknya diam tak jelas.Mau marah pada ibunya, apa guna. Akhirnya, seperangkat alat sholat, eh bukan, seperangkat gadget pun keluar. Mengatasi bising dengan lagu-lagu menenangkan. Perjalanan kali itu memang sangat tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Another summer day Has come and gone away In Paris and Rome&lt;br /&gt;But I wanna go home Mmmmmmmm&lt;br /&gt;May be surrounded by A million people I Still feel all alone&lt;br /&gt;I just wanna go home Oh, I miss you, you know&lt;br /&gt;And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you Each one a line or two&lt;br /&gt;“I’m fine baby, how are you?”&lt;br /&gt;Well I would send them but I know that it’s just not enough&lt;br /&gt;My words were cold and flat And you deserve more than that&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another aeroplane Another sunny place I’m lucky,&lt;br /&gt;I know But I wanna go home Mmmm, I’ve got to go home&lt;br /&gt;Let me go home I’m just too far from where you are I wanna come home&lt;br /&gt;And I feel just like I’m living someone else’s life It’s like I just stepped outside&lt;br /&gt;When everything was going right And I know just why you could not Come along with me&lt;br /&gt;‘Cause this was not your dream But you always believed in me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another winter day has come And gone away In even Paris and Rome And I wanna go home&lt;br /&gt;Let me go home&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I’m surrounded by A million people I Still feel all alone&lt;br /&gt;Oh, let me go home Oh, I miss you, you know&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let me go home I’ve had my run Baby, I’m done I gotta go home Let me go home&lt;br /&gt;It will all be all right I’ll be home tonight I’m coming back home&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya kangen pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya pertemuan kami dengan anak tak menyenangkan itu segera berakhir, kami tiba di Jakarta pagi itu. Istirahat sebentar. Lalu abang sepupuku “gatal” mengajak jalan keliling Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun meluncur menuju Bogor. Tengah hari kami tiba di sana. Menikmati siomay, menghabiskan berpuluh-puluh pisang selama mengitarai Kebun Raya Bogor, bermalas-malasan, menikmati angin sepoi-sepoi, mengeksplorasi kebun raya, menikmati semua jenis tanaman, museum hewan, berfoto di depan istana Bogor, dan membuang-buang uang. Uang abang sepupu. Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun Raya Bogor adalah sebuah kebun botani besar yang terletak di Kota Bogor, Indonesia. Luasnya mencapai 87 hektar dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.Di sekitarnya tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi Bogor, dan PUSTAKA. Luas sekali. Sambil menggiring bola mainan, bersama ponakan kami berusaha menjajal keluasannya.Hasilnya kami kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari ’samida’ (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, seperti tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor secara keseluruhan adalah kota yang menarik. Entah di sudutnya yang lain. Saat malam, kami kembali ke Jakarta untuk istirahat dan terbang ke Medan keesokan harinya. Tidur malam itu sangat pulas. Bermimpi tentang ratu-ratu taman dan peri-peri penjaga bunga. Kolam yang penuh teratai dan udara yang jatuh dari serbuk dedaunan. Saya jatuh cinta pada pohon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8731734219624691990?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/10/18/travelouge-semarang-jogja-jakarta-bogor/' title='Sebulan di Jawa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8731734219624691990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/sebulan-di-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8731734219624691990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8731734219624691990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/sebulan-di-jawa.html' title='Sebulan di Jawa'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/TO8oZs9Gw9I/AAAAAAAAAFE/5eD7rei9fi8/s72-c/borobudur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-4083809961756397850</id><published>2010-11-25T01:43:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:14:48.271-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Writing'/><title type='text'>Tips Menulis-Ngutip Adhitya Mulya</title><content type='html'>Tips Menulis Buku Fiksi Pertama Lu&lt;br /&gt;Published by adhitya on Wednesday, May 2, 2007 at 10:51 PM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertama gua nulis, udah lumayan banyak orang yang dateng ke gua minta diajarin bagaimana cara nulis buku. Kebanyakan jawaban gua udah ada sebenernya dalam pelajaran bahasa indonesia kelas 1-2-3 SMP dan 1-2-3 SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mulai hal-hal yang seperti: bikin tema, bikin sinopsis, membagi paragraf yang baik, semuanya adalah bekal teknis yang cukup untuk menulis buku. Tulisan di bawah adalah ringkasan gua secara menyeluruh tentang pertanyaan-pertanyaan dari banyak orang yang gua gak bisa jawab satu-satu. Bahasan akan gua bagi jadi 3 bagian penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pre-production, production dan post-production.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tiga fase penulisan buku yang dalam masing-masing fase, ada hal-hal yang bisa membantu lu membuat buku yang baik….setidaknya baik versi pengalaman gua. Ini mungkin bukan tips yang terbaik yang lu denger tapi yang terbaik yang gua tahu. Penulis-penulis lain yang punya pengalaman beda mungkin akan gak setuju dengan isi blog ini, tapi again, ini adalah yang gua alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini gua juga pengen memanage expectation orang karena normally orang yang mau menulis buku itu menggebu-gebu dan ditakutkan tidak memperhatikan beberapa elemen penting. Apalagi di jaman sekarang di mana buku fiksi itu sudah overrated kalo gua bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pre-Production&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1 Ide Cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 alasan besar kenapa orang beli buku lu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ide cerita lu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Cara lu menuturkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di section ini kita akan bahas ide cerita dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiksi: Beberapa macam ide cerita fiksi yang bagus adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Yang beda dari yang lain. Ide cerita yang unik lumayan bikin orang penasaran.&lt;br /&gt;   2. Sesuatu yang mendasar dan terjadi di setiap orang.&lt;br /&gt;   3. Atau gak perlu beda dari yang lain tapi lu ambilnya dari sudut pandang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elu dituntut untuk melatih diri menjadi kreatif. Jangan berhenti bertanya ’kenapa?’ dan ’bagaima jika...?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus dihindari dari persepsi gua adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Topik yang udah banyak orang bahas.&lt;br /&gt;   2. Membuat karya fiksi dari pengalaman sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Again, dari persepsi gua, gua gak terlalu suka membaca karya fiksi yang sebenernya adalah hasil dari pengalaman pribadi. Gua gak suka, karena gua dulu ditempa menjadi penulis dengan ajaran: karya fiksi itu lahir dari proses kreatif. Nah kalo pengalaman kita sendiri kita fiksikan, proses kreatifnya minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang nulis pengalaman pribadi, biasanya jarang memiliki kemampuan untuk menulis novel kedua (Ini bukan teori, ini pengamatan dari pengalaman seseorang). Semua isi perutnya udah abis disebar-sebar di buku pertama. Kalau pun iya, biasanya buku kedua terjual lebih edikit dari buku pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang konsisten memberikan ide fiksi tidak akan memiliki masalah memulai buku keduanya karena mentalnya penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah gua gak bilang bahwa lu gak boleh memasukkan pengalaman pribadi lu ke dalam fiksi lu. Terserah elu itu mah. Toh ada beberapa buku yang seperti ini yang juga gemilang. Andrea Hirata men-tetralogikan pengalaman hidupnya dalam karya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar Pelangi&lt;br /&gt;Sang pemimpi&lt;br /&gt;Edensor&lt;br /&gt;yang terakhir belum dia reveal apa judulnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini diakui secara publik lho. And you know what? Bukunya bagus! Gaya ceritanya bagus. Ide ceritanya (pengalaman hidupnya) bagus. Ternyata gua lihat bahwa bedanya dia dengan yang lain adalah bahwa ide ceritanya inspiratif. Kata seseorang yang komentar di comment post ini, Salman Rushdie juga sering make pengalaman pribadinya dan bagus. Good for him then.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi terserah kita. Kalo Kita mikir pengalaman pribadi kita bisa memberi hikmah / menghibur / menginspirasi orang banyak dalam bentuk fiksi, silahkan tulis. Kalo nggak, mending jangan saran gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non-fiksi: Jika ingin menceritakan pengalaman pribadi, mending sekalian aja menulis buku non-fiksi. Raditya Dika dengan buku-bukunya adalah contoh yang sempurna akan hal ini. Dari awal dia memang sudah niat nulis pengalaman pribadinya dan dia go public mencetak bukunya dengan label ’Ini pengalaman pribadi’. Cara dia bercerita dan materi yang dia ceritakan sangat&lt;br /&gt;kocak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips memilih topik untuk non fiksi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengalaman lu yang unik yang gak dialamin banyak orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hindari kecenderungan memamerkan sesuatu yang orang banyak gak punya karena nanti lu akan kehilangan sense of belongingnya pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Persepsi lu akan sesuatu. Isman Suryaman dengan ’Bertanya Atau mati’ adalah contoh yang baik dalam penulisan on-fiksi yang tidak menceritakan pengalaman pribadi tapi lebih ke persepsi dia akan segala seuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.2. Target Audience&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang baik juga harus cukup peka untuk bisa mereka segmen usia dan segmen uang mana yang akan membaca bukunya. Gak usah pake bahasa yang rumit jika kita menarget pembaca di desa. Buku-buku Umar kayam dapat dinikmati oleh tukang pisang goreng sampe manager karena penuturannya baik dan pas bagi semua orang. Ide cerita yang terlalu high class akan ditinggalkan orang-orang susah. Intinya, ide dan cara bertutur yang pas akan mampu merangkul lebih banyak pembaca dari segala segmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.3. Judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara general, ada baiknya lu bukin sinopsis. Sinopsis ini akan kerasa gunanya di kala kita udah mulai nulis nanti. Judul dan tema juga penting agar kita tidak melebar dalam bercerita. Biasanya gini: Sinopsis adalah cerita lu dalam 3 paragraf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema adalah cerita lu dalam 1 kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul adalah cerita lu dalam 1, 2 atau 3 kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gua, jujur aja gua udah bikin 3 buku dan sampe sekarang masih gak becus aja nyari judul. Nyari tema sih oke. Ngembangin tema ke cerita oke. Tapi nyusutin dari tema ke judul? I am total crap at it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Production&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam production, ada 2 hal yang penting. Penulisan dan kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1. Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1.1. Penokohan (matrix)&lt;br /&gt;Salah satu yang sering penulis baru lakukan adalah penokohan yang tidak proporsional. Ini berhubungan dengan keterbasan buku sebagai media 1 dimensi. Buku hanya mampu bercerita dengan tulisan dan tidak dengan visual sehingga ketika orang membaca sebuah nama, dia akan berasumsi bahwa tokoh yang diberi nama ini, adalah tokoh penting dalam buku. Sering didapati bahwa penulis bercerita panjang lebar tentang tokoh ’Irwan’ di bab 2, tapi Irwan tidak muncul lagi di bab-bab berikutnya. Intinya jika kita menulis terlalu banyak nama/tokoh, pembaca akan bingung. Untuk itu sebelum menulis, minimal kita harus membuat sebuah matrix penokohan. Tokoh-tokoh utama harus jelas asal-usulnya dan kondisi fisik dan mental mereka. Untuk itu matrix penokohan di bawah akan sangat membantu. Semakin penting peran si tokoh, semakin detil kita harus gambarkan. Semakin gak penting peran dia, kita gak perlu detil-detil amat menggambarkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya penulis sudah cukup kuat untuk menyimpan semua informasi ini dalam otak. Tapi gua sih nggak. Akhirnya gua melakukan deskripsi fisik yang berbeda akan tokoh yang sama dalam buku GMC. Memalukan. Sejak itu gua pake matrix ini. Matrix ini sangat berguna jika lu nekat ingin nulis buku dengan tokoh utama dna pendukung yang banyak. Contohnya buku ’Arus Balik’ Pramoedya Ananta Toer. Itu buku tokohnya banyak banget tapi detil mereka terjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1.2. Struktur Cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya drama 3 babak sudah cukup untuk mengakomodir penyaluran cerita. Kalo mau kreatif sedikit mungkin kita utak-atik depan belakang dan tengahnya. Buku ’100 years of solitude’ dari Gabriel Garcia Marquez adalah contoh yang unik untuk ini. Buku tersebut dia awali dengan endingnya. Buku itu dia awali dengan menceritakan bahwa pemeran utamanya akan ditembak mati oleh pasukan penembak. Dari sana dia flash back ke 100 tahun ke belakang kehidupan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drama 3 babak berkomposisikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak 1: perkenalan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak 2: masalahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak 3: penyelesaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gua banyak baca, setidaknya gua pribadi mendapati bahwa buku yang tamat gua baca adalah buku-buku yang babak 1-nya singkat dan mampu memperkenalkan masalah dalam bukunya dalam jumlah halaman yang gak terlalu banyak. Tapi ini juga bukan pedoman. Ambil da Vinci Code-nya Dan Brown. Gua mendapati bahwa di akhir setiap bab selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita meneruskan membaca ke depannya. Itu bagus. Misterinya berlapis-lapis tapi masing-masing misteri itu gak bertele-tele. 600 halaman tu gak kerasa. Ada novel yang masalahnya hanya muter-muter di situ tapi dikemas dalam 700 halaman seperti the Historian. Itu buku gua tinggal di halaman 600 karena gua gak kuat. Buku itu membutuhkan 250 halaman untuk bilang bahwa tubuhnya drakula mencari kepalanya, yang mana udah bisa gua tebak dari 50 halaman pertama dari 250 halaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi yang strukturnya dibuat persis seperti kita nonton film. Dan Brown adalah penulis yang bertipe seperti ini. Baik dalam Da Vinci Code atau Angels &amp; Demons, tiap babnya gak terlalu banyak. Tapi jika kita ukur dan bayangkan, satu bab dalam bukunya gak susah kita bayangkan sebagai 1 adegan. Dan dari 1 bab ke bab lainnya menceritakn semua tokoh secara terpisah dan lama-lama terasa koneksinya dan makin konvergen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1.3. Konvergensi cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gua pribadi, gua gak akan mulai menulis sebuah buku fiksi sebelum gua tahu endingnya seperti apa. Ninit Yunita, penulis testpack punya metode yang lebih efektif di mana dia mulai menulis setelah minimal 70% yakin akan endingnya. Minimal jika ending berubah, perubahan itu gak jauh-jauh amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis pemula umumnya memiliki nafsu menulis tinggi sekali. Mereka mulai menulis sebelum tahu endingnya gimana, akhirnya tulisan mereka cenderung melebar (divergen). Semuanya ingin diceritakan. Pertama nulis tentang A, kemudian tentang B, kemudian tentang C tapi di tengah jadi bingung mikirin bagaimana caranya mengikat A, B dan C itu. Akhirnya buku itu dia tinggal. Dia ganti judul baru tapi dengan pola kerja yang salah, di judul baru ini dia mengalami kesulitan yang sama. Makanya, menulis konvergen itu akan menghemat waktu. Bikin sinopsis sebelum menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1.4. Gaya/Cara bertutur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang gua bilang ada 2 hal yang pada akhirnya membuat buku lu dibaca: ide cerita dan gaya nulis lu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara semua orang punya kemampuan untuk membuahkan ide yang kreatif, gak semua orang punya kemampuan bercerita dengan unik. Kalo kita udah nemu sebuah gaya bercerita, biasanya itu akan menjadi trade mark lu dan lu bawa di semua buku lu. Gua seperti ini. Ada lagi penulis yang di tiap bukunya gaya nulisnya beda. That's fine juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya menulis yang unik pun gak bisa gua ajarin di sini. Itu adalah sebuah skill yang hanya lu sendiri bisa latih dan bisa tumbuhkan. Kalo dari pengalaman gua, sebelum gua nulis buku, gua habiskan satu tahun untuk menulis di blog. Cari-cari gaya bahasa yang lucu dan bisa bikin orang terhibur. Satu tahun. Itu proses yang lama. Gua gak bikin jomblo dalam 1 malam. Nasihat gua sih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. jangan terlalu ingin instan langsung bikin buku. Latihan dulu di blog atau di mana pun, akan bisa.&lt;br /&gt;   2. rajin-rajin baca buku fiksi / non-fiksi. Perhatikan bagaimana cara penulis-penulis lain bercerita. Bagiamana mereka mendeliver cerita mereka, bagaimana mereka mengerem dan menggas cerita untuk mendapatkan suspense pembaca. Bahasa formal/non-formal yang bagaimana yang mereka bungkuskan pada cerita mereka. Semua itu penting untuk disimak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk nulis lu butuh 2 hal. Talent dan practice untuk mengasah talent itu menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2. Kritik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2.1. Ego Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua adalah seorang kritikus buku yang dingin. Kalo jelek ya gua bilang jelek dengan catatan gua kasih mereka input. Hasilnya lumayan. Sejauh ini 4 dari sekian jumlah buku yang gua kritik, dapet kontrak film. 3 di antaranya terjual banyak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sering gua dapati adalah bahwa penulis-penulis pemula yang datang ke gua, egonya besar sekali sampai mereka gak terima masukan gua. Dan orang-orang ini pun ketika akhirnya menerbitkan buku mereka, gak terjual seberapa banyak ketimbang mereka yang mampu nerima input. Gua ceritain ini bukan karena nasihat gua adalah jimat tapi karena they wouldn't listen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dialog dengan seorang editor terkemuka, kita berdua mendapati bahwa jaman sekarang ini banyak yang penulis pemula yang merasa karya pertamanya adalah maha karya tanpa cacat dan secara mengejutkan sulit sekali nasihatin mereka. Sulit sekali bagi mereka untuk menelan komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”karya kamu itu jelek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua ditolak 3 kali oleh 2 penerbit sebelum Jomblo diterbitkan gagas. Dan gua bersyukur mereka menolak karena di saat penolakan itu mereka memberi input terhadap kelemahan yang selama ini gua gak sadari ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalahkan ego lu. Penulis itu sering mengalami apa yang dalam dunia statistik ’figure blind’. Setelah menghabiskan ratusan jam penulis menjadi subjektif dengan karyanya dan cenderung tidak mampu melihat kekurangan dalam karyanya. Makanya penting bagi lu untuk meminta orang lain untuk membaca dan memberikan lu kritik. Lebih baik dibantai selagi masih bentuk draft, offline ketimbang dibantai setelah jadi buku di media. Kalo draft udah jadi buku, that’s it. Malu banget untuk dirubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2.2. Feedback System&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya lu punya feedback system sendiri. Maksudnya adalah sebuah mekanisme yang lu buat gimana caranya sehingga lu bisa menguji sejauh mana draft lu diterima di masyarakat. Untuk sharing aja, kalo gua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Setelah selesai draft 1 gua cari 6-10 orang yang gua gak terlalu kenal dan gua minta mereka baca dan minta input mereka.&lt;br /&gt;   2. Input mereka ini akan menjadi bahan untuk gua kaji apakah gua ada ide dan gaya penulisan yang gua harus rubah. Perubahan ini menjadi draft 2.&lt;br /&gt;   3. Setelah selesai draft 2, gua lakukan lagi ke 6-10 orang yang berbeda. Ambil input dari mereka lagi. Dan lakukan hal yang sama dengan #2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua melakukan ini secara konsisten dan serius karena gua percaya reaksi orang-orang yang gak gua kenal itu adalah cermin dari reaksi pasar jika buku itu terbit.Kritis terhadap diri sendiri juga penting. Sering-sering baca draftnya lagi dari awal dengan asumsi kita orang luar. Itu akan membantu objektifitas. In time setelah lu menulis 3-4 buku dengan cara ini lu akan sadar sendiri dan meng-kaji tulisan sendiri dengan lebih objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Post-Production&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo lu pikir bahwa tugas lu nulis buku udah selesai di sini, salah. Justru 30% waktu total pembuatan buku jatuh di post-productionnya. Berikut adalah aspek-aspek yang lu harus kenali dalam post-production.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1. Supporting Elements&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.1. Cover&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, people do judge books by the covers. Di era di mana banyak buku yang bersaing untuk djual, peran cover mau gak mau jadi penting. Berikut adalah jenis-jenis cover yang gua klasifikasikan berdasarkan pengalaman gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Simbolik. Contoh yang sangat bagus untuk jenis ini adalah 5 CM-nya Donny Dirgantara. Hanya ada tulisan 5 CM dengan all black dan ada emboss tulisan-tulisan lain. Hitamnya ini cowok banget dan bikin penasaran. Bagi gua covernya bagus banget. Tapi bagi gua, isinya not my cup of tea. Contoh lain yang simbolik adalah Soulate-nya Jessica Huwae. Simple, putih dan hanya ada mouse sebagai vocal point dari gambar. Very nice.&lt;br /&gt;   2. Explicit. Gua dan Ninit sejauh ini cenderung explisit kalo milih cover. Ada gambar orang-orang karena kita pengen covernya ngerelate ke ceritanya. Bagi gua dari semua cover kita, yang paling bagus adalah cover testpack.&lt;br /&gt;   3. Permen. Warnanya extreme pink, extreme red. Cover-cover seperti ini lumayan menonjol disbanding buku-buku lain ketika mereka dipajang berbarengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.2. Back Cover Comments&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back Cover comments (BCC) bukan faktor utama dalam orang memilih buku. Dan meski gua sendiri sampai sekarang masih pake, gua berencana agar buku gua berikutnya sudah gak make lagi. Kelemahan memakai BCC adalah: Orang yang lu minta BCC belum tentu ada waktu untuk baca buku lu karena dia sibuk. Lu juga gak bisa ngapa-ngapain karena posisi lu adalah minta ke dia. Lu juga gak mungkin marah-marah ke dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.3. Synopsis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman gua nulis buku, nerbitin buku tuh sedemikian susahnya sehingga ketika pada akhirnya Jomblo diterbitkan, gua mudah sekali bersaing dengan penulis-penulis lain. Tapi jaman sekarang udah beda. Pasar buku itu udah oversupplied. Dulu ketika orang punya uang 20000 dan pergi ke gramedia, dia gak punya banyak pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman sekarang ketika dia pergi ke gramedia untuk beli buku fiksi, dia bingung. Ada berbagai judul untuk semua genre dan segmen umur. Di sini lah pentingnya sinopsis 1 paragraf di cover belakang. Sinopsis itu tidak akan membantu buku lu terjual. Sinopsis itu akan membantu orang memutuskan apakah dia akan membeli buku lu atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2. Publishing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2.1. Penerbit yang benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri buku dan outputnya yaitu dunia sastra, mengalami perubahan besar-besaran dari tahun 2004. Jaman dulu, masukin buku itu susahnya selangit. Gua masih mending ditolak 3 kali oleh 2 penerbit. Hilman Hariwijaya yang terpaut 10 tahun lebih tua dari gua, ditolak gak kurang dari 7 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya gini: sampai dengan tahun 2003, penerbit itu masih melihat buku sebagai medium penyaluran karya sastra. Mereka tidak melihat bahwa buku bisa juga sebagai medium hiburan seperti Jomblo dan Lupus. Setelah tahun 2003 baru lah mereka sepertinya sadar bahwa buku juga medium hiburan. Lantas semua penerbit beramai-ramai mencari naskah yang menghibur. Keluar label metropop, teenlit, de el el.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya ini sah-sah aja, tapi imbasnya kebanyakan penerbit menurunkan standar kualitas teknik menulis dan penceritaan. Padahal seharusnya mereka tidak melakukan ini. Dari pendapat gua, seharusnya yang terjadi dalam industri buku fiksi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. tetap menset standar yang tinggi untuk teknik penulisan&lt;br /&gt;   2. membuka mata lebih lebar untuk genre-genre hiburan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara ini tidak dilakukan, sekarang banyak sekali buku yang beredar. Dan dari semua yang gua pelajari, gua bisa bilang banyak juga dari buku yang beredar itu sub-standard dalam aspek yang berbeda-beda. Nah di sini gua delete beberapa contoh yang gua temukan karena gua mendapati ada orang-orang yang merasa, kelemahan-kelemahan yang gua spot itu bukan kelemahan. Ya sudah silahkan percaya sama masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, penerbit tidak ingin kehilangan kesempatan memiliki lupus kedua sehingga mereka tidak memperhatikan kualitas-kualitas yang selama ini mereka junjung. Padahal kalo kita liat lupus dulu, meski pun konyol, dia tetap memakai teknik menulis yang descent. Dulu penulis harus sabar editor baca naskah 3 bulan. Sekarang, kasus paling parah yang gua pernah tahu adalah masukin siang, sorenya di-approve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, berikut adalah hal-hal yang harus dicermati dari penerbit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jika approvalnya sangat cepat (1 hari), maka lu harus hati-hati. Logisnya, penerbit menerima puluhan jika tidak belasan naskah tiap hari. Kecil kemungkinan naskah lu bisa dibaca dalam 1 hari. Kalo responnya secepat ini, takutnya mereka gak care akan karya lu, mereka cuman gak pengen kehilangan kesempatan aja.&lt;br /&gt;   2. Dan lu harus selalu cari penerbit yang care pada penulisnya. Jangan masukin karya fiksi lu ke penerbit buku pertanian. Gak cocok. Lihat baik-baik genre lu dan genre dari penerbit lu.&lt;br /&gt;   3. Nisha Rahmanti yang pernah nulis Cintapuccino pernah bilang sesuatu yang valid : milih penerbit itu kayak milih pacar. Lu mesti cocok sama mereka. Ada beberapa penerbit yang sangat selektif dengan penulis-penulisnya sehingga penulis yang bernaung di bawah mereka tidak banyak. Tapi penulis-penulis yang mereka ambil sangat mereka sayang. Promonya didukung abis-abisan. Ada penerbit yang penulisnya sejuta umat. Tapi ketika lu telfon dan tanya bagaimana perkembangan mereka gak nanggep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 2.2. Cara masukin buku ke penerbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua sering mendapati penulis baru kirim draft ke gua minta kritik atau kirim draft ke penerbit tapi presentasinya gak representatif. Kita cuman dikasih amplop isinya draft dan dijepit. Daftar isi gak ada. Sinopsis gak ada. Keterangan penulis gak ada. Jaman sekarang, tiap penerbit itu menerima ratusan draft per bulan. Penerbit harus men-thin slice setiap draft untuk mulai membaca. Maksudnya thin slice, dalam waktu yang singkat dia harus menentukan mana yang harus dibaca duluan. Mereka butuh bantuan elu untuk memudahkan mereka membuat keputusan itu. Berikut adalah hal-hal yang sangat esensial kalo draft lu mau cepet dibaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.Draft dijilid rapih. Ini agar halamannya gak lepas-lepas.&lt;br /&gt;   2.Kasih 1 halaman sinopsis menjelaskan isi cerita lu. Ini pentig banget agar dalam waktu singkat penerbit bisa memutuskan apakah draft lu lebih layak dibaca ketimbang ratusan draft lain di meja mereka.&lt;br /&gt;   3.Kasih ½ halaman A4 yang tentang mengapa menurut lu buku lu layak dibaca dan&lt;br /&gt;      diterbitkan.&lt;br /&gt;   4.Di dalam draftnya, pake halaman. Ini aja banyak yang melakukannya.&lt;br /&gt;   5.Di dalam draftnya, pake daftar isi. Ini akan membantu penerbit menerka flow dari&lt;br /&gt;     cerita dalam buku lu.&lt;br /&gt;   6.Kalo bisa dateng ke penerbitnya dan kasih langsung ke editor. Kalo ini sih gua aja.&lt;br /&gt;      Gua lebih suka mereka ketemu gua in person, agar lebih meyakinkan. Kalo beda&lt;br /&gt;      kota, kasih aja lewat pos atau lewat email, tapi 5 poin di atas harus ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.3. Marketing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue menemukan banyak penulis yang ketika bukunya udah dicetak dia bilang&lt;br /&gt;’Yang penting gua nulis buku’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini gua bilang sebagai mental seniman tapi gak bisa jualan. Trus, mereka bilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Oh sori, buku gua karya seni, gak komersil kayak lo. (bikin darah tinggi gak sih?) Yang penting gua nyumbang sesuatu ke khazanah sastra Indonesia.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nulis buku kalo gak dibaca juga mereka gak akan dapet manfaatnya kali. Ngapain kita bikin karya seni tapi gak ada yang baca? Karya seni kita gak akan ada gunanya kalo gak ada yang baca. Jujur gua punya prinsip bahwa penulis yang baik itu adalah penulis yang bukunya dibaca banyak orang dan bukan untuk alasan komersil. Rantainya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kita punya nilai jual -&gt; buku kita dibeli -&gt; buku kita dibaca -&gt; buku kita dikritik -&gt; kita sebagai penulis, menerima kritik itu dan menjadi penulis yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi penerbit yang bilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘ah penerbit X mah gencar promosi doang, isinya gak nyastra. Kita dong nerbitin karya sastra.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perkataan yang bener-bener pernah keluar dalam persaingan penerbit. Masalahnya, kalo kita nerbitin karya sastra, kita punya tanggung jawab lebih untuk masarin dengan lebih baik kan? Bukan kah karya sastra akan mencerdaskan kehidupan bangsa? Ini mereka gak lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa buku adalah karya seni tapi ketika karya seni itu dicetak 3000 kopi, karya seni itu berubah jadi prioduk massal yang mana kalo gak terjual, penulis akan rugi (baca rantai atas). Jadinya otak komersil kita juga mesti jalan. Otak yang komersil tidak melambangkan buku yang komersil juga kok. Otak yang komersil untuk karya tulis yang berseni akan menguntungkan semua pihak pembaca, penerbit dan diri kita sendiri untuk menjadi penulis yang lebih baik. Intinya: marketing itu penting dan mendukung kita menjadi penulis yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.3.1. Market your book&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bikin marketing plan untuk promo. Gak usah yang jelimet. Yang simple-simple aja tapi ngena. Biasanya setiap penerbit punya departemen promo dan ada baiknya lu cuti berapa hari dan diskusi dengan mereka mau promo seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah hal-hal yang lu bisa lakukan untuk promo buku lu. Yang di bawah ini juga tanggung jawab departemen promo lu. Jadi jangan takut melakukan ini sendirian. Kalo penerbit lu bagus, departemen promonya biasanya ngerti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.temu wicara / road show di kampus-kampus&lt;br /&gt;   2.sediakan 50 kopi dan kirim ke media massa terkait untuk direview. Tapi ini gambling juga. Kalo buku lu jelek, lu dibantai.&lt;br /&gt;   3.targetin beberapa radio dan lakukan talk show di sana. Sesuaikan segmen radionya&lt;br /&gt;      dengan segmen buku lu. Kalo bikin chicklit gak perlu ke radio dangdut.&lt;br /&gt;   4.Bikin blog.&lt;br /&gt;   5.Gabung ke milis-milis, perkenalkan diri lu dan buku lu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know seklias baca di atas mungkin risih ya ih kok jualan. Dalam kasus gua, gua 3 tahun di marketing jadi gua sih ngerti kenapa sebuah barang itu mesti dipasarkan. Kalo kalian gak mau melakukan ini gak papa. It will not kill you if you don't do it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah. Gitu aja. Semoga berhasil dengan buku pertama lu. Semoga REVISI DARI posting ini membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rgds, Adhitya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-4083809961756397850?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://tipsnulisfiksi.blogspot.com/2007/05/tips-menulis-buku-fiksi-pertama-lu.html' title='Tips Menulis-Ngutip Adhitya Mulya'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/4083809961756397850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/tips-menulis-ngutip-adhitya-mulya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4083809961756397850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/4083809961756397850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/11/tips-menulis-ngutip-adhitya-mulya.html' title='Tips Menulis-Ngutip Adhitya Mulya'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-7745931909675484517</id><published>2010-01-26T20:55:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:14:26.114-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Kampung Madras, Sejarah Kecil Kota Medan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1_IetamrRI/AAAAAAAAAEY/U46xTOo8l-Y/s1600-h/mariammam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1_IetamrRI/AAAAAAAAAEY/U46xTOo8l-Y/s320/mariammam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431280105544920338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bila setiap kota harus memiliki sebuah landmark, maka tak diragukan lagi, kawasan ini bisa jadi menjadi landmark kota Medan. Kampung Keling. Banyak sejarah kota Medan terjadi di sini. Ia menjadi dan bukti peradaban yang pernah terbangun pada masanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan memang diwarnai indahnya budaya berbagai etnis yang menempatinya. Tidak hanya etnis asli Indonesia, tetapi juga berbagai etnis pendatang seperti India, Tionghoa, dan Arab yang telah bermukim di Indonesia sejak berabad silam yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dengan kota ini. Kampung Keling adalah contoh konkret keindahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Keliling Kampung Keling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda sedang berlibur di kota Medan, Anda perlu tahu tentang tempat menarik ini. Sepintas lalupun seharusnya Anda sudah tahu, ada cerita yang ingin disampaikan atmosfernya, bangunan-bangunannya dan keseluruhan utuh kawasan ini kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda adalah warga kota Medan yang telah terbiasa hingga menjadi tak ambil pusing dengan pesan itu, berhentilah sejenak. Coba nikmati dan dengarkan pesan yang ingin disampaikannya. Pesan yang mungkin akan Anda rindukan ketika sedang berada di daerah lain. Inilah yang disebut Rika sebagai ingatan kolektif dan ruh sebuah kenangan. Bersiaplah untuk berkeliling kota Medan di seputaran kawasan Zainul Arifin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, rasa India di kawasan ini tercermin dari nama-nama jalan yang sampai kini beberapa di antaranya masih digunakan. Dahulu nama Jalan Kalkuta, Jalan Bombay, jalan Nagapatam, Jalan Ceylon, Jalan Madras bisa ditemukan di seputaran kawasan ini. Sekarang nama-nama itu sudah berganti beberapa. Tetapi nama-nama seperti Kelurahan Madras, Jalan PJ Nehru, Muara Takus, Candi Biara, Gajah Mada, Maja Pahit, Taruma, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Majapahit yang semuanya masih bernuansa Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kampung Keling ini puluhan bangunan tua khas zaman kolonial Belanda masih bisa ditemukan di sini. Bangunan-bangunan ini adalah bangunan bersejarah peninggalan masa keemasan tembakau deli. Di kawasan inilah dahulu masyarakat India tinggal dan bermukim. Sekarang tak banyak memang lagi waraga keturunan India yang tinggal di sana. Karena tekanan ekonomi kelompok masyarakat inipun banyak yang “tergusur” ke pinggiran. Sekarang populasi terbesar mereka berada di Kampung Angrung dan Kampung Kubur, di sekitar kawasan Jalan Monginsidi, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila Anda berjalan kaki di kawasan ini Anda masih bisa menemukan toko-toko kepunyaan etnis India yang berlokasi di daerah yang membuat jalan Zainul Arifin, jalan utama daerah ini terlihat layaknya sebuah jalan di India sendiri. Di kawasan ini kita bisa menemukan Toko Bombay yang menjual aneka sari India, Toko Kasturi yang menjual berbagai kebutuhan bahan makanan India, perlengkapan makan, kecantikan, sembahyang, dan berbagi kebutuhan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga restoran-restoran yang menyajikan makanan khas India seperti Restoran Cahaya Baru, De Deli Dar Bar, dan Restoran Bollywood. Ada juga toko-toko yang menjual makanan kecil dan manisan khas India, laundy dan penjahit India, serta yang paling mendominasi, warung kecil penjual martabak India. Bangunan-bangunan yang sangat kental nuansa Indianya adalah kuil-kuil yang terdapat di Kampung Keling. Kuil Shri Mariaman dan Kuil Subramaniem adalah 2 kuil terbesar yang ada di kawasan ini. Kuil Shri Mariaman adalah kuil India yang dibangun pada tahun 1881. Bangunan megahnya dihiasi puluhan patung dewa khas India yang konon kabarnya didatangkan langsung dari India. Selain itu dahulu terdapat Sekolah Khalsa yang pada masanya adalah satu-satunya sekolah yang menggunkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bangunan menarik lain di tempat ini adalah adanya masjid Ghaudiyah. Keberadaan bangunan ini menjadi satu bukti lagi kerukunan keberagaman masyarakatnya. Masjid ini terletak di jalan Zainul Arifin. Dibangun oleh perkumpulan etnis India Selatan yang beragam Islam, South Indian Muslims Foundation pada tahun 1887. Oleh Sultan Deli yayasan ini diberi dua lokasi untuk membangun masjid. Di. Jalan Kejaksaan untuk dibangun masjid, dan di jalan Zainul Arifin untuk masjid dan perkuburan. Pada zaman dahulu, masjid Ghaudiyah sangat terkenal dengan arsitektur bergaya India yang kental. Hanya dari gerbangnya saja, orang-orang akan langsung menduga bahwa itu adalah masjid bergaya India. Dengan halaman yang luas dan dua kolam untuk mengambil air untuk sembahyang, mesjid ini tampak sangat megah. Sayangnya pada tahun 1962, gerbang dan kolamnya harus diruntuhkan demi pelebaran jalan Zainul Arifin. Sekarang letak masjid ini tersembunyi di balik gedung-gedung yang menutupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kampung Keling atau Kampung Madras?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila seorang ibu meminta pengendara beca bermotor, salah satu angkutan umum di kota Medan, untuk mengantarkannya ke Kampung Keling, tanpa tending aling-aling, beca bermotor itu akan meluncur ke satu kawasan di jantung kota Medan. Kendaraan akan segera diarahkan ke daerah sekitar 800 meter dari jalan utama Gajah Mada. Tak perlu ada pertanyaan “Di daerah manakah Kampung Keling itu?” Seperti itulah Narain Sami, Ketua perkumpulan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumatera Utara mengambarkan betapa melekatnya nama perkampungan itu dalam kesadaran kolektif masyarakat kota Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Keling ini adalah jantung kebudayaan India di Medan. Warga kota Medan mengenal kampung ini dengan nama Kampung Keling walaupun kecamatannya bernama Madras. Selama beberapa dekade, Kampung Keling dikenal sebagai pemukiman masyarakat etnis India Tamil di Medan. Mereka berkumpul di daerah sekitar jalan Zainul Arifin. Meskipun pemerintah kota Medan telah resmi mengubah nama Kampung ini menjadi Kampung Madras -karena keling berkonotasi dengan kulit gelap dan menimbulkan keberatan sebagaian masyarakat India setempat- areal seluas sekitar 10 hektar ini tetap dikenal sebagai Kampung Keling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan nama ini juga menimbulkan perbedaan pendapat. Sebagian menyatakan keberatan atas nama Kampung Keling, sebagian lagi merasa nama Kampung Keling sudah sangat melekat dan historical. R. Welayutham misalnya. Ia merasa keberatan dengan nama Kampung Keling . “Saya lebih setuju bila disebut sebagai Kampung Madras. Kata Keling itu berkonotasi penghinaan. Karena pada dasarnya tidak ada asal kata Keling itu. Kalau dibilang dari kata Kalingga, enggak juga. Sukunya pun tidak ada di India,” komentar salah satu pendeta Hindu di Kuil Shri Mariaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tidak berkeberatan dengan nama Kampung Keling, Kasturi, pemilik Toko Kasturi yang menjual berbagai kebutuhan bahan makanan, peralatan makan, peralatan sembahyang khusus India, ia mengaku lebih suka menyebutnya Kampung Madras. “Bukan masalah keling yang berkonotasi dengan kulit gelap ya, tapi kan namanya sudah diubah dan itu dulu berjuang untuk merubah namanya. Jadi pakai yang sah aja,” kata gadis cantik keturunan India ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narain Sami justru tidak sepakat dengan pergantian nama tersebut. “Itu sebuah identitas. Kenapa harus malu? Saya justru merasa bangga. Siapa orang Medan yang tidak tahu Kampung Keling? Etnis mana pula yang ada nama kampungnya seperti Kampung keling di kota Medan ini?” katanya. Rika Susanto, Sekretaris Badan Warisan Sumatera (BWS) menilai perubahan nama itu akan menghilangkan spirit of place sebuah kawasan bersejarah. “Nama itu sudah begitu melekat. Perubahan akan menimbulkan kesan yang berbeda. Kampung keling tetaplah Kampung Keling dengan suasananya yang tetap begitu. Kalau misalnya tidak ada lagi keturunan Tamil yang jualan martabak misalnya, tempat itu akan kehilangan spiritnya,” kata Rika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Datangnya India ke Medan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bangsa India, terutama Tamil datang ke Sumatera Utara pada akhir abad ke-19 semasa penjajahan Belanda. Mereka mengadu nasib dengan menjadi kuli perkebunan. Dalam catatan Badan WArisan Sumatera (BWS), rombongan pertama orang Tamil yang datang ke Medan sebanyak 25 pada tahun 1873.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dipekerjakan oleh Nienhuys, seorang Belanda pengusaha perkebunan tembakau, yang nantinya dikenal sebagai tembakau Deli. Tembakau yang membuat tanah Deli menjadi termasyur di dunia internasional. Hingga pada akhirnya dikenal sebagi “Tanah Sejuta Dollar” Setelah itu, semakin banyak saja para buruh dan tenaga-tenaga kerja yang didatangkan dari India untuk bekerja di Tanah Deli entah sebagai buruh perkebunan, supir, penjaga malam, sais kereta lembu, dan membangun jalan serta waduk. “Itu karena kaum Tamil terkenal sebagai pekerja keras yang patuh kepada atasannya,” kata Narain Sami. Hingga akhir 1975 jumlah kuli Jawa dan Tamil mencapai seribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain para kuli kontrak yang datang melalui Penang atau Singapura mereka datang juga melalui bangsa India lain. Seperti dari Punjab, India Utara yang pada umumnya menganut agama Sikh, Bombay, dan bangsa Chettyar yang pintar berbisnis. Mereka tidak bekerja sebagai kuli di perkebunan, melainkan membuka usaha sendiri dan bekerja di sektor lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Belanda membuka cabang De Jawasche Bank di Medan, sejumlah Sikh dipekerjakan sebagai penjaga pada tahun 1879. Melihat situasi dan kesempatan ekonomi di kota Medan, beberapa malah membuka usaha peternakan lembu karena meningkatnya permintaan pasokan susu dari Belanda. Banyak yang berhasil di usaha ini hingga sekarang pun masyarakat keturunan India terkenal sebagai produsen susu sapi murni. Pada akhir tahun 1930, penganut Sikh di Medan mencapai 5 ribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak istilah yang digunakan untuk memanggil warga keturunan India ini. Ada yang memanggil dengan istilah keling atau chulia yang biasanya diguanakan untuk memanggil keturunan Tamil. Selain itu ada juga istilah Benggali untuk menyebut mereka yang sesungguhnya penganut Sikh. Di luar itu, masyarakat umum memakai istilah orang bombai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, keturunan India yang ada di Medan bukanlah mereka yang datang langsung dari India. Mereka adalah generasi ketiga atau keempat dari pendatang awal yang kebanyakan menolak disebut sebagai bangsa India karena memang sudah lahir di Indonesia dan menjadi warga Negara Indonesia. Seeprti halnya Kasturi. “Kebudayaan saya memang india, tapi saya orang Indonesia,” katanya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Land Mark Kota Medan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila setiap kota harus memiliki sebuah landmark, maka tak diragukan lagi, kawasan ini bisa jadi menjadi landmark kota Medan. Kampung Keling. Banyak sejarah kota Medan terjadi di sini. Ia menjadi dan bukti peradaban yang pernah terbangun pada masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Keling menurut Rika Susanto, artsitek dan pengurus BWS adalah konstruksi bangunan dengan susunan dan batas-batas kota yang sangat jelas. Batas-batas wilayahnya sangat terdeliniasi dengan teratur. Di satu sisinya jalan Zainul Arifin dan Jalan Diponegoro dibatasi oleh bangunan-bangunan. Sementara di sisi yang lain jalan S. Parman dan Gajah Mada di tandai oleh batas alam, Sungai Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Blok-blok kota yang ada di perkampungan ini juga sangat menarik. Khas Inggris seperti juga fifth avenue di Inggris. Orang enggak akan bisa nyasar di Kampung Keling,” kata Rika. Tata kota yang menarik ini menurut Rika membuat Kampung Keling cocok dijadikan sebagai land mark kota Medan. Sebagai tempat wisata yang ramah untuk pejalan kaki. Selain memiliki nilai sejarah yang panjang, bangunan-bangunan yang unik, masih banyak hal-hal menarik lain yang ada di Kampung Keling. Sejarah peradaban dan perkembangan kota Medan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Eka Dalanta Rehulina)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-7745931909675484517?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/21/kampung-madras-sejarah-kecil-kota-medan/' title='Kampung Madras, Sejarah Kecil Kota Medan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/7745931909675484517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/kampung-madras-sejarah-kecil-kota-medan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7745931909675484517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/7745931909675484517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/kampung-madras-sejarah-kecil-kota-medan.html' title='Kampung Madras, Sejarah Kecil Kota Medan'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1_IetamrRI/AAAAAAAAAEY/U46xTOo8l-Y/s72-c/mariammam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-449011866924494047</id><published>2010-01-20T21:31:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:14:59.487-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Kuil Soepermanie-em Naggarattar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1fnIUFPtiI/AAAAAAAAAEE/53R6FQGGmoU/s1600-h/kuil+sri+subramaniam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1fnIUFPtiI/AAAAAAAAAEE/53R6FQGGmoU/s320/kuil+sri+subramaniam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429062005834102306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuil ini berlokasi di Jalan Kebun Bunga atau Jalan Kejaksaan No. 6 Medan.  Evawani Elisa dari Osaka University dalam tesisnya (1996) menulis bahwa kuil ini adalah kuil Hindu pertama yang dibangun untuk orang India di Medan. Pembangunannya diperkirakan berlangsung pada akhir abad ke-19, tepatnya pada 1892 di lokasi yang dekat dengan pemukiman masyarakat India, Kampung Madras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuil ini didirikan oleh Keluarga Chettyar yakni N.V. Muthaian Chettyar, S.M. ST. Muthukaruppan  Chettyar, SP. Palaniappa Chettyar, dan A.M. Muthukaruppan Chettyar.  Perkumpulan ini kemudian disahkan kembali pendiriannya dengan ketetapan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tanggal 12-12-1916. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kuil lain, Sri Mariaman misalnya, yang telah mengalami renovasi, kuil ini sampai sekarang masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Bangunan candi ini tersembunyi oleh dinding tertutup di sepanjang situs. Hanya bagian mahkota candi saja yang terlihat dari luar dinding. Untuk pintu masuk gerbang, sebuah gapura diletakkan di depan sebagai pintu masuk gedung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-449011866924494047?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/449011866924494047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/kuil-soepermanie-em-naggarattar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/449011866924494047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/449011866924494047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/kuil-soepermanie-em-naggarattar.html' title='Kuil Soepermanie-em Naggarattar'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1fnIUFPtiI/AAAAAAAAAEE/53R6FQGGmoU/s72-c/kuil+sri+subramaniam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-5842121809071263982</id><published>2010-01-20T21:30:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:15:15.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Dua Dunia Yos:  Menemukan Kenyataan Lewat Imajinasi</title><content type='html'>Ruangan berlantai dua itu tidak terlalu luas. Ukurannya mungkin hanya berkisar 8x7 meter. Di lantai dua rumah toko  yang berada di Jalan Cik Di Tiro No.26 tersebut, puluhan lukisan tangan perupa Yosrizal dipajang. Warna cokelat pelitur mendominasi ruangan yang diberi nama Galeri Lindi. Yosrizal sedang mengadakan pameran tunggal atau Solo Exhibition (10-24/12) lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumnus Jurusan Seni Rupa IKIP Medan ini tidak bisa dibilang baru di dunia seni. Sejak tahun 1992 ia sudah akrab dengan kanvas dan kuas. Berkali-kali pula ia telah mengadakan pameran tunggal ataupun pameran kelompok di Medan ataupun di kota-kota lain di luar Medan. Seperti Yogyakarta, Jakarta, Riau, Jambi, dan Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, lukisan di atur dalam beberapa sekat ruangan memanfaatkan setiap ruang yang ada. Dinding di atas tangga masuk, teras lantai dua, semuanya diatur menjadi ruangan pameran yang dikelompokkan berdasarkan citra lukisannya. Entah apa namanya tetapi ada kemiripan dalam setiap kelompok lukisan. Jiwa yang menyatu pada masing-masing kelompok lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memahami karya-karya Yosrizal. Ada sengkarut makna yang harus kita pahami. Memadukan pengalaman dan perbendaharaan seni dengan wawasan dunia si penikmat. Itu cara yang perlu kita lakukan untuk memahami lukisan Yos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja contoh lukisannya yang berjudul Dokter tolong aku…! Ada kengerian yang dikandung dalam goresan garis dan perpaduan warna Yos. Subjek bukanlah objek natural walaupun masih bisa ditebak objek seperti apa yang ia maksud. Bentuk wajah terlihat jelas. Setiap teksturnya mewujud kepada sosok yang mewakili “hitam”nya pesan yang ingin disampaikan. Bentuk-bentuk perlawanan dan ketidaksetujuan terhadap realitas kekinian manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia sejak lahir hidup dalam norma-norma yang mereka ciptakan sendiri. Coba seandainya sejak kecil seseorang tidak usah diajari menggunting rambut, memotong kuku, atau mandi. Mungkin tampilannya akan lebih menyeramkan dan gelap dibanding lukisan-lukisan saya,” kata Yos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna-warna gelap, putih, merah marun, merah menyala mewakili kemarahannya. “Bukan kemarahan,” bantah Yos. Tapi ini adalah sebuah persoalan pribadi. Kenyataan ideal yang ia mimpikan ternyata adanya di sebuah dunia tak kasat mata bernama imajinasi. Ketimpangan realitas antara dunia real dengan imajinasinya ia tuangkan lewat kertas dan cat karena dunia seni adalah dunia pembentukan sikap.  Inilah dua dunia Yos. Ia berusaha menemukan kenyataan lewat imajinasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai media lukis, Yos juga menolak terikat media konvensional. Ia tidak melulu menggunakan kanvas sebagai media lukisnya. Beberapa lukisan ia torehkan pada kertas-kertas bekas majalah. Tidak ada keterbatasan media dalam berkreasi. “Tidak ada alasan tidak melukis karena kanvas mahal,” komentar Yos. Bila melukis dan kegiatan seni lainnya adalah sebuah aktivitas spiritual maka berekspresi secara jujur dapat dilakukan di manapun. “Di tanah, di kayu, di pohon, apapun medianya, hasilnya akan tetap bagus. Rohani kita kalau mau makan kenapa harus ditahan karena keterbatasan media?” saran Yos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mengenal seni rupa, Yos telah berangkat dari surrealisme. Sampai kinipun nuansa itu masih kental terasa. Lewat karya-karya surrealisnya ia berharap apresiasi terhadap karya seni di Medan terus berkembang. Menjadi indikator kesejahteraan budaya masyarakat Tanah Deli ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita dukung terus seniman Medan! Hayuukkkk….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-5842121809071263982?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/5842121809071263982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/dua-dunia-yos-menemukan-kenyataan-lewat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/5842121809071263982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/5842121809071263982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/dua-dunia-yos-menemukan-kenyataan-lewat.html' title='Dua Dunia Yos:  Menemukan Kenyataan Lewat Imajinasi'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-3011370752946775979</id><published>2010-01-20T21:29:00.001-08:00</published><updated>2010-11-25T21:15:15.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Cantik Eksotis dalam Balutan Sari</title><content type='html'>Lekuk indah terbalut sempurna dalam lilitan kain aneka warna sepanjang 6 meter. Juntaian kain dan  lilitan memberi kesan eksotis, terbuka, namun tidak tersentuh karena terlihat estetis. Cantik eksotis dalam balutan sari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari, saree atau shari, jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Sari, pakaian yang terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang berkisar 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam gaya. Jenis yang paling umum adalah sari yang dililitkan di pinggang, dengan ujungnya yang disangkutkan dari bahu ke punggung belakang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari biasanya dipakai menutupi petticoat atau baju bagian dalam (pavada/pavadai di India Selatan, dan shaya India Timur), dengan blus choli atau ravika. Choli memiliki lengan yang pendek dan leher yang rendah untuk mengadaptasikan warga Asia Selatan dengan musim panasnya yang sangat panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain khas India sepanjang 6 meter ini selain dipakai sebagai pakaian biasanya digunakan untuk  hantaran saat pertunangan dan perkawinan. Setiap golongan masyarakat di India menerapkan cara pemakaian sari yang berbeda. Dari cara pemakaian ini, status maupun kedudukan pekerjaan seseorang akan terlihat. Seorang petani misalnya, mereka biasa memakai sari hingga bagian lutut dan biasanya menggunakan bahan nilon atau kapas. Sari sutera seperti kanchipuram dan banares biasanya dipakai wanita kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila berdasarkan keturunan, turunan Tamil meletakkan ujung selendang sari (mundane) ke  bahu kiri sedangkan kaum Telegu meletakkannya di sebelah kanan. Di India Utara lain lagi. Perempuan India Utara tidak mengenakan sari melainkan shalwar kameez—blus panjang dengan celana balon atau gembung—seperti celana wanita Pakistan. Baju ini dipadupadankan dengan selendang dupatta. Golongan Malayalam memakai dengan menyilangkan pada pundak kanan dari arah belakang, dengan corak neri di bagian dada. &lt;br /&gt;Meskipun berasal dari negara-negara India, sari cantik dipadupadankan dan dikombinasikan dengan gaya berbusana Indonesia. Seperti yang dilakukan di Sonayna Fashion yang berada di Sun Plaza level II A-15 Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di butik ini, para pencinta modifikasi fashion bisa mencoba kombinasi eksotisme sari dengan busana Indonesia. “Sari sangat cantik dipadupadankan dengan kebaya Indonesia,” kata Sonu Kapoor, desainer dan pemilik butik yang juga berada di Pondok Indah Mall, Jakarta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya kombinasi dengan kebaya Indonesia, sari juga cantik dipadukan dengan westernstyle maupun asiastyle. Kombinasi inilah yang ditawarkan oleh Sonayna Fashion. Pemilihannya tergantung kepada imajinasi dan kepribadian si pemakainya. &lt;br /&gt;Bayangkan bagaimana jadinya keindahan yang ditawarkan sari aneka warna yang dipadukan dengan kebaya Indonesia. Bila Anda tertarik tampil cantik dengan sari modifikasi dapat menghubungi: Sonayna Fashion, Sun Plaza Level II A-15, Medan. Telp: 061-450 1820.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-3011370752946775979?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/3011370752946775979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/cantik-eksotis-dalam-balutan-sari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3011370752946775979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3011370752946775979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/cantik-eksotis-dalam-balutan-sari.html' title='Cantik Eksotis dalam Balutan Sari'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-468418176188060914</id><published>2010-01-20T21:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:15:15.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Seni Melukis Kolem</title><content type='html'>Kolem atau yang biasa juga disebut sebagai rangoli adalah lukisan di atas lantai halaman rumah dan kuil. Kolem diambil dari bahasa Tamil yang berarti indah atau cantik.  Kesenian ini dianggap sebagai satu cara yang mudah untuk melakukan kebajikan seperti yang dikehendaki oleh agama Hindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolem menjadi perhiasan yang dilukis pada Tahun Baru dan Deepavali, atau pada hari-hari yang dianggap istimewa dan suci seperti pada hari Selasa dan Jumat. Tak ketinggalan kenduri dan perkawinan. Selain sebagai pembawa keberuntungan, kabarnya juga untuk menghalangi unsur-unsur jahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirancang dengan kombinasi yang indah dari berbagai warna, lukisan kolem menciptakan karya seni yang memikat. Pada dasarnya lukisan kolem dilantai berarti tanda selamat datang pada Dewi Laksmi, Dewi Kekayaan dalam perayaan Diwali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian ini dikenal dengan nama berbeda di berbagai daerah. Rangoli biasa digunakan di Maharashtra, Alpana di Bengal, dan Kolem di India Selatan. Meskipun memiliki asal-usul di Maharashtra, saat ini kesenian kolem dipratekkan di berbagai kelompok keturunan India di dunia. Ini merupakan salah satu seni yang paling popular di kalangan perempuan India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolem adalah kesenian tradisi dengan desain geometris dan proporsional. Pola-pola dibuat dengan jari menggunakan bubuk beras, dilumatkan batu kapur, atau kapur berwarna. Sebagai pelengkapnya bisa saja di atasnya dibeli biji-bijian, kacang-kacangan, manik-manik, atau bunga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain kolem umumnya didasarkan pada tema-tema. Tema umum yang sering digunakan adalah simbol surgawi seperti matahari terbit, bulan, bintang, tanda-tanda zodiac, simbol suci seperti Om, Mangal Kalash, swastika, cakra, Deepak, trisula, "Shri", teratai. Walau begitu, tema dan desain kolem tergantung kepada kretifitas dan imajinasi pelukisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bahan digunakan untuk membuat kolem. Dahulu warnanya diperoleh dari bahan-bahan tradisional pewarna alami seperti dari pohon, daun, dan nila, tetapi sekarang sudah menggunakan pewarna sintetis dengan berbagai warna cerah. Di India selatan negara seperti Kerala, bunga-bunga seperti marigold, krisan, dan daun-daunan digunakan sebagai pewarna kolem.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena proses pembuatanya dengan menggunakan serbuk beras berwarna dengan jari, proses pembuatan kolem sangat sulit dan melahkan. Diperlukan ketelitian untuk dapat menciptakan detail yang cantik dan rapi. Keluhuran seorang perempuan konon juga diukur dari karya kolem yang mereka hasilkan. Walau rumit, rasa lelah tersebut akan hilang begitu kolem tersebut sudah jadi dengan sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolem adalah seni budaya India yang menjunjung tinggi nilai-nilai lama, keramahan, kesempurnaan dalam seni, dan penghormatan bagi yang maha kuasa serta rasa takut melampaui pemahaman manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-468418176188060914?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/468418176188060914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/seni-melukis-kolem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/468418176188060914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/468418176188060914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/seni-melukis-kolem.html' title='Seni Melukis Kolem'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8113094274162159665</id><published>2010-01-20T21:13:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:15:15.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Gypsy Jazz untuk Kota Medan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1fpSBts4JI/AAAAAAAAAEM/SGBFXmwLdtc/s1600-h/pigale44-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1fpSBts4JI/AAAAAAAAAEM/SGBFXmwLdtc/s320/pigale44-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429064371725459602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempopulerkan musik jazz kepada masyarakat Medan, itulah misi yang dibawa oleh Reiner Voet dan grup bandnya Pigalle 44. Pertunjukan mereka digelar pada Selasa (08/12) lalu di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi music jazz yang mereka perkenalkan adalah jenis music jazz yang kini tengah popular di Eropa, Gypsy Jazz. Kehadiran pemusik jazz bernuansa Gypsy Jazz dari negeri kincir angin ini diprakarsai oleh Erasmus Huis/Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta dalam rangka kerjasama bidang budaya antar 2 negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, Reiner Voet (gitar solo) bersama ketiga rekannya di Pigalle 44, Hermine Deurloo (harmonika/saksofon), Jan Brouwer (gitar rythm), Jet Stevens (kontra bas) menampilkan 12 lagu. Dua paling menarik dari antaranya adalah Donce Ambiance dari Django Reinhardt dan La Deesse dari Reiner Voet. Donce Ambiance adalah sebuah lagu yang menerjemahkan seluruh perasaan manis yang menimbulkan sweet atmosphere bagi pendengarnya. Sedang La Deesse adalah musik yang dikemas dengan Bulgarian intro dan swing jazz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan tak henti membungkus antusias penonton yang hadir. ”Belum pernah saya melihat tepuk tangan seantusias ini,” kata Voet. ”Tapi saya suka. Di Eropa tepuk tangan itu baru diberikan setelah pertunjukan selesai. Di sini lebih meledak-ledak,” antusiasnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reinier Voet adalah pemusik jebolan Royal Conservatory di Den Haag sebagai gitaris jazz dan aktif sebagai gitaris selama 25 tahun. Ia memang terinspirasi gypsy jazz. Meski terilhami gaya orang gipsi, mereka tak ingin menjadi meniru total. Mereka ingin jadi Reinier Voet and Pigalle44 yang apa adanya. ”Saya tidak ingin meniru gaya bermusik orang, kami ingin tampil seperti musik yang kami sajikan di sini,” kata Voet. Baginya bermusik adalah menyampaikan “perasaan”. Ia tidak terlalu memikirkan pesan moral dalam musiknya. Musik adalah keindahan dan kebebasan, itu saja yang ingin ia berikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Pigalle44 telah merilis CD mereka dengan nama mereka sendiri. Album mereka yang pertama adalah ‘Our Gypsy Rhapsody’ yang dirilis pada tahun 2000. Dalam repertoir ini ada karya dengan bergaya Django klasik seperti Douce Ambiance, I can’t give you anything but love dan beberapa karya komposisi Reinier. Untuk mengenal mereka lihat facebook mereka di lookfor Pigalle44.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8113094274162159665?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8113094274162159665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/gypsy-jazz-untuk-kota-medan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8113094274162159665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8113094274162159665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2010/01/gypsy-jazz-untuk-kota-medan.html' title='Gypsy Jazz untuk Kota Medan'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/S1fpSBts4JI/AAAAAAAAAEM/SGBFXmwLdtc/s72-c/pigale44-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-1478250888503937479</id><published>2009-03-11T01:38:00.000-07:00</published><updated>2011-02-21T19:42:05.034-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hobby'/><title type='text'>Ketika Jeram Jadi Tantangan</title><content type='html'>Tak jauh dari tempat kami berdiri, suara gemericik air sudah kedengaran. Dari kejauhan sayup terdengar suara jeram memanggil-manggil. Suara air yang jatuh beradu dengan batu-batu sungai, menghantam kelokan jeram. Wah… ini dia yang dicari-cari. Para peserta rafting sudah tidak sabar untuk uji nyali dan kemampuan. Menghempas-hempas badan di arus nan tak tenang. Inilah jeram yang dicari-cari para rafter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olah raga arung jeram belakangan ini memang kian populer di Sumut. Tidak seperti di awal tahun 2000an, arung jeram saat ini bukan milik para anak-anak muda pencinta alam lagi, tapi olah raga menantang ini sudah menjadi semacam rekreasi di hutan tropis bagi para pekerja urban, turis lokal, dan turis manca negara. Tak heran jumlah tempat rafting semakin bertambah. Di Sumut saja saat ini , untuk berarung jeram, para rafter dapat memilih di Sei Asahan, lokasi ini disarankan bagi para rafter berpengalaman, Sei Wampu, dan Sei Binge yang cocok untuk pemula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, arung jeram ini sebenarnya telah populer sejak tahun 1990an dan ramai menjadi objek wisata turis lokal sejak adanya lokasi arung jeram di Sungai Citarik, Sukabumi pada tahun 1995. Beberapa lokasi lain yang populer bagi para rafter adalah Sungai Ayung di Bali dan Sungai Sadang di Sulawesi. Seperti papar Joni Kurniawan, Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia, Sumut dan Ketua Rapid Plus, pengelola rafting di Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan olah raga arung jeram menjadi tujuan wisata tropis di Sumut tentu tidak terlepas dari keberanian dan kelihaian orang-orang seperti Joni untuk membidik pasar. “Apa yang bisa kita jadikan sebagai objek wisata di Sumut? Yang menarik, tetapi tidak juga jauh dari pusat kota. Orang-orang sudah bosan dengan wisata yang konvensional,” kata Joni. Jadilah Joni dan kawan-kawannya membentuk Rapid Plus yang sudah dipasarkan sejak tahun 2002. Yang mereka tawarkan adalah paket wisata Tropical Adventure, berpetualang di sungai tropis. Alhasil, tak kurang dari 1500 orang telah berpetualang di Binge Rafting yang baru dibuka pada awal tahun 2008 lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya Joni optimis arung jeram akan semakin populer beberapa tahun ke depan. Binge rafting misalnya, lokasi rafting satu ini berada tidak jauh dari pusat kota Medan, sekitar 15 km dari pusat kota Binjai, 45 menit perjalanan dari kota Medan. Kedekatan lokasi ini membuat orang tidak enggan memilihnya sebagai tempat berlibur. Apalagi dibandingkan dengan tawaran untuk berpetualang dan memicu adrenalin, para penikmat tantangan tentu enggan berkat tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan pula harga yang harus dibayar untuk kelengkapan rafting yang sebenarnya cukup mahal, tidaklah seberapa, hanya Rp195 ribu per paket. Hem… mau apa lagi coba? Toh semuanya ini telah lengkap, untuk transport ke lokasi, menu makan siang, jalan-jalan di seputar lokasi, peralatan rafting, plus jasa para instruktur yang akan memastikan kenyamanan berarung jeram Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu di pertengahan bulan Januari, Luxo berkesempatan menikmati petualangan di Binge Rafting yang belokasi di Taman Alam Jaya Baru, Desa Namotating, Kec. Binge, Kab. Langkat. Sungai ini memiliki 12 jeram yang aman bagi para pemula. Jadi sekalipun Anda belum berpengalaman berarung jeram, tak usah khawatir! Asalkan mengikuti semua petunjuk dari instruktur, Anda akan baik-baik saja! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal resiko lecet, digigit pacet, makanan yang sederhana di lokasi arung jeram, itu bukanlah apa-apa. Bukankah bagi para petualang resiko adalah nama tengah mereka? “Lagi pula bukankah itu yang disebut sebagai adventure?” tantang Joni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, setelah melintasi jalanan perkampungan penduduk yang cukup membuat perut berguncang, para peserta rafting telah siap untuk memulai petualangan air kali ini. O ya… di Binge rafting ini, para peserta rafting kerap berasal dari satu komunitas yang sama, misalnya karyawan satu perusahaan atau satu organisasi. Joni dan manajemen Rapid Plus memang tengah menawarkan petualangan air ini sebagai tujuan wisata komunitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siap dengan segala atribut keselamatan sebagai perlengkapan rafting seperti rompi pelampung, helm dan paddle (alat dayung), kami pun menghempaskan badan di atas rubber boat (perahu karet) berukuran 4x2 meter. Perahu ini berkapasitas tujuh sampai sembilan orang. Karena masih pemula, setiap perahu dikomandoi oleh satu hingga dua orang pemandu profesional binge rafting. Jeram di Binge ini terkenal dengan grade jeram yang cukup menantang 2-3+. So… sekira  seratus meter menempuh perjalanan air, kami sudah siap menyambut jeram pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aaaa… ada sedikit rasa takut ketika melihat derasnya arus yang telah menanti. Teriakan histeris pun terdengar saat perahu melintas cepat menghantam derasnya arus melewati jeram. Itu untuk pertama saja. Ketika melewati jeram berikutnya, tidak ada lagi rasa takut, yang ada tinggal rasa penasaran, bagaimana ya jeram berikutnya, sedahsyat apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualangan yang paling ditunggu-tunggu di Sei Binge ini adalah saat perahu akhirnya tiba di jeram Bendungan Namo Sira-Sira. Ini adalah detik-detik paling mendebarkan. Wuih… bagaimana tidak, bayangkan bagaimana rasanya harus terjun bebas melewati tingginya jeram bendungan ini yang mencapai 10 meter. Serrrr… darah serasa meresap ke jantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di situlah letak serunya. Pengalaman menghadapi jeram-jeram sebelumnya telah membuat para peserta cukup mahir melewati jeram satu ini. Apalagi sebelumnya para instruktur telah mengajarkan teknik melewati jeram bendungan ini. Perjalanan hingga ke finish kali ini benar-benar membuat setiap peserta tersenyum puas penuh kemenangan. Kemenangan menaklukkan jeram-jeram alam, kemenangan ketika jeram jadi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarung jeram di Binge Rafting memang hanya dua resikonya,  pertama, kalau tidak teriak maka uang kembali, kedua, resikonya ketagihan. “Terserah mau resiko yang mana?” tanya Joni. (Eka Rehulin)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-1478250888503937479?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/1478250888503937479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/03/ketika-jeram-jadi-tantangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/1478250888503937479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/1478250888503937479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/03/ketika-jeram-jadi-tantangan.html' title='Ketika Jeram Jadi Tantangan'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-5393053271165329809</id><published>2009-03-11T01:33:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T01:35:49.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Facebook: Musuh Baru Para Bos di Kantor</title><content type='html'>Ada satu fenomena yang menarik dicermati belakangan ini. Demam facebook. Setelah sebelumnya demam friendster melanda tanah air, kali demam facebook menderu lebih kencang. Reaksi yang ditimbulkan pun tak tanggung-tanggung. Bagi sebagian perusahaan, facebook dianggap sebagai sebuah ancaman produktivitas kerja. Akibatnya, tak sedikit perusahaan memblokir jaringan ini dan memfatwa haram facebook di kantor. Facebook menjadi musuh baru para bos di kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, tak sedikit karyawan ”keras kepala” yang rela bermain kucing-kucingan dengan para bos. Mencuri-curi waktu berselancar ria di jagad web facebook. ”Asal jangan sampai ketahuan ajalah, selebihnya aman,” kata Fitri, karyawan swasta yang di kantor tempatnya bekerja melarang akses facebook, friendster, dan berbagai jaringan sosial lainnya. ”Alasannya takut mengganggu produktivitas kerja karyawan,” kata Fitri lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebenarnya facebook itu menurutku bukan ancaman bagi dunia kerja, asal dimanage dengan baik. Malahan itu bisa jadi sarana pengembangan diri. Memperluas jaringan. Apalagi buat kantor pelayanan publik, media, event organiser, atau yang sejenisnya,” kata Denu, karyawan perusahaan kontraktor di Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan ini sebenarnya sangat beralasan. Facebook merupakan jaringan pertemanan yang paling populer saat ini. Facebook yang baru launch tahun 2004 ini memang bisa dikatakan fenomenal. Pertumbuhannya terbilang sangat pesat, menyentuh 135% per tahun. Walaupun di Indonesia, facebook masih kalah tenar dengan friendster. Padahal di luar Indonesia, facebook adalah situs pertemanan nomor satu alias situs paling populer. Rank Alexa saat ini menunjukkan posisi facebook menempati urutan 5, sedangkan saingannya, friendster, menempati posisi 44.&lt;br /&gt;Tak dipungkiri, popularitas situs jejaring sosial Facebook mampu membius jutaan orang di dunia maya. Orang rela menghabiskan berjam-jam waktunya ber-facebook ria. Fenomena Facebook telah menjadi semacam kebutuhan bagi para anggotanya untuk menjadi media komunikasi paling efektif antar teman, keluarga, bahkan rekan bisnis.&lt;br /&gt;Beberapa psikolog dari UCLA mencoba mencari tahu tentang motivasi pengguna internet untuk menjadi anggota situs jejaring sosial tersebut. Para psikolog itu berpendapat, para mahasiswa pengguna Facebook dan jaringan sejenis mencoba untuk menunjukkan identitas ‘aslinya’ kepada ratusan teman yang terhubung dengannya. Keinginan untuk memunculkan jati diri yang sebenarnya secara virtual juga memengaruhi perkembangan kehidupan nyata seorang anggota Facebook atau situs petemanan lainnya. &lt;br /&gt;“Orang dapat menggunakan situs jejaring sosial dengan memposting gambar, atau teks sesuai dengan keinginannya sebagai bentuk ekspresi,” kata psikolog UCLA, Adriana Manago Seperti dilansir Big News Network. Menurut Manago, situs jejaring sosial membuat generasi muda mengekspresikan diri sesuai yang mereka inginkan sehingga dapat mempengaruhi perkembangannya.&lt;br /&gt;“Dalam kehidupan sosial kita selalu menginginkan yang terbaik, dan situs jejaring sosial membawa kita ke dalam suatu level baru dimana kita bisa mengubah tampilan pada diri kita, mengubah wajah dengan Photoshop, dan mampu mengeksplorasi kehidupan kita secara virtual,” ujarnya.&lt;br /&gt;Selain itu, Manago menambahkan, ekspresi yang ditunjukkan seorang anggota jelas memiliki penonton setia, yakni pengunjung situs jejaring sosial itu sendiri. Untuk itulah, anggota Facebook berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda untuk mendapatkan komentar-komentar mengenai dirinya. &lt;br /&gt; “Pengguna online tetap lebih banyak anak muda dibandingkan yang lebih tua dengan 75% 18-24 menggunakan jaringan ini, dibandingkan hanya 7% bagi yang sudah berumur di atas 65 tahun,” kata periset senior Pew Amanda Lenhart. “Dalam intinya, penggunaan jaringan sosial online masih menjadi fenomena bagi anak muda,” tambahnya.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan orang dewasa cenderung menggunakan jaringan sosial untuk alasan pribadi dan bukan urusan pekerjaan. Lenhart mengatakan hanya kurang dari sepertiga yang menggunakan jaringan sosial untuk urusan bisnis. Porsi paling besar adalah menggunakan jaringan sosial untuk berhubungan dengan sahabatnya. So, asal dimanage dengan baik, adakah facebook menjadi sebuah ancaman di kantor? (Eka Rehulin/ diterbitkan di Luxo Magazine edisi Maret 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan facebook :&lt;br /&gt;1. Desain situsnya simple, clean, dan uncustomizeable, tidak seperti social network lain yang mengizinkan usernya meng-customize css yang malah membuat tampilan profile dengan warna yang menusuk mata sehingga isi website lebih seimbang.&lt;br /&gt;2. Facebook Application. Menggandeng developer pihak ketiga untuk membuat applikasi merupakan ide brilian dan edan. &lt;br /&gt;3. User facebook mengisi profile mereka dengan informasi yang tepat adanya, tidak seperti friendster yang berisikan profile - profile mencolok mata yang centil. &lt;br /&gt;4. Privacy Settingnya memungkinkan penggunanya mengeset siapa yang diperbolehkan mengakses informasi di profile tersebut dan siapa yang tidak. Hal ini jugalah yang menyebabkan banyak public figure merasa nyaman memiliki account facebook dengan namanya sendiri.&lt;br /&gt;5. Facebook Chat. Aplikasi yang tak dimiliki situs pertemanan lain. Chatting dengan kawan lama atau baru yang sedang online tanpa harus mengetahui account IM messangernya. &lt;br /&gt;6. Sistem anti SPAM-nya. Captcha nya dengan efektif membuat spammer tidak berkutik disana. Dan masih banyak lagi, seperti groupnya, fitur video nya, photo taggingnya, people who may you know-nya yang sangat membantu menemukan teman lama, dan masih sangat banyak lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-5393053271165329809?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/5393053271165329809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/03/facebook-musuh-baru-para-bos-di-kantor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/5393053271165329809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/5393053271165329809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/03/facebook-musuh-baru-para-bos-di-kantor.html' title='Facebook: Musuh Baru Para Bos di Kantor'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-3102043120970266877</id><published>2009-03-10T23:01:00.000-07:00</published><updated>2010-11-25T21:19:39.413-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveloge'/><title type='text'>Peu Haba Meulaboh? Apa Kabar Meulaboh?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SbdVGva7R9I/AAAAAAAAADc/H1KU5gfofFU/s1600-h/meulaboh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SbdVGva7R9I/AAAAAAAAADc/H1KU5gfofFU/s320/meulaboh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311807859803768786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, saya berkesempatan menapaki keindahan pantai Meulaboh. Pantai yang pernah  diterpa arus bergulung-gulung setinggi gunung pada Desember 2004 lalu. Walau rusak paling parah, puing tsunami itu tak lagi banyak terlihat kini. Kenanganlah yang masih melekat pada ingatan. Kengerian tsunami itu tersisa pada rasa kehilangan, perkuburan massa korban tsunami, dan bibir pantai yang tak lagi landai. Apa kabar Meulaboh hari ini? Yuk.. ikuti perjalanan Luxo menikmati keindahan pantai di kota Meulaboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meulaboh terletak 175 kilometer dari kota Banda Aceh, tergabung di Kabupaten Aceh Barat. Anda dapat menempuh perjalanan darat dan udara dari Medan. Melalui perjalanan udara, hanya dibutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sedangkan bila melalui perjalanan darat dibutuhkan waktu sekitar 13 jam. Huih… lama sekali ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tak ada salahnya jika Anda punya banyak waktu dan ingin menikmati panorama  alam yang masih asri, sederhana, dan hijau. Itu tersedia sepanjang perjalanan ke Meulaboh. Banyak tempat yang bisa Anda lihat. Keindahan pantai, pematang-pematang sawah, pinggiran hutan yang masih hijau, monyet-monyet yang berkeliaran bebas di pinggiran perkampungan, dan rehat sejenak menikmati bagusnya matahari terbit di Kota Tapak Tuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Tapak Tuan, daerah ini memang terkenal dengan pantai dan pemandangannya yang bagus. Daerah ini terletak sekitar 3-4 jam perjalanan lagi dari Meulaboh. Karena itu, bila ingin menikmati keindahan matahari terbitnya, mulailah perjalanan darat Anda di malam hari dari Medan. Kami juga menyempatkan diri lho menikmati panoramanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem… bila memilih perjalanan darat, Anda harus berhati-hati menyetir. Bukan saja karena jalannya yang berliku, tikungan-tikungan tajam ganda, jurang di salah satu sisi atau kedua sisi jalan, tapi juga kerbau yang bebas berkeliaran sepanjang hari. Nah, untuk yang satu ini hindarilah rem mendadak karena terlalu mengebut saat tiba-tiba satu atau dua ekor kerbau muncul di tengah jalan. Konyol sekali bila mobil menjadi penyok gara-gara menabrak kerbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan 15 jam, huh… sialnya kami harus menghabiskan waktu lebih dari 15 jam di jalan, pasalnya, mobil yang kami tumpangi rusak di jalan, akhirnya kami tiba di Bumi Teuku Umar ini. Untuk yang satu ini, saran kami, berhati-hatilah menyetir, jangan sembarangan menyalib dan jangan tak sabaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugu Pelor, tugu khas kota ini telah menyapa kami, ia berteriak lantang, menyerukan semangat juang Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, mengucapkan selamat datang di Negeri di Ujung Karang. Panas matahari terasa sangat terik. Pukul 11 siang. Lelah sudah tak tertahan. Otot-otot yang tertekuk sepanjang perjalanan menuntut diluruskan, merentangkan badan, mengembalikan energi untuk berkenalan dengan kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Danau Geunang Geudong dan Makam Teuku Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/Sbd1BwMfbOI/AAAAAAAAADk/E0y3dBrKLf4/s1600-h/gampong+aneuk+by+khairulid+(11).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/Sbd1BwMfbOI/AAAAAAAAADk/E0y3dBrKLf4/s320/gampong+aneuk+by+khairulid+(11).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311842958484401378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang tahu dengan daerah wisata satu ini. Berada di Desa Putim Kecamatan Kaway XVI, Danau Geunang Geudong ini menjadi terkenal sejak adanya perhelatan akbar Gampong Aneuk yang diadakan oleh salah satu lembaga perlindungan anak pada Januari lalu, yang dihadiri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Meutia Hatta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geunang  Geudong, artinya genangan air. Geunang dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai air yang tergenang, Geudong artinya besar atau berdinding. Geunang Geudong memang seperti cekungan raksasa, memancarkan mata melimpah hingga membentuk sebuah danau. Sebuah danau raksasa berair payau. Aneh memang karena danau ini  tidak berada di pinggiran pantai tetapi berair payau. Dahulu, sekelilingnya adalah perkebunan karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tahu persis bagaimana terjadinya danau seluas 5 kilometer ini. Ia juga tidak populer menjadi tempat wisata. Syarifah, pemilik penginapan tempat kami menginap bercerita bahwa puluhan tahun silam danau tersebut hanyalah sebuah kolam kecil. Bertahun-tahun, luasnya terus bertambah. Ia masih ingat betul, waktu kecil ia sering bermain ke sana. ”Aneh juga, luasnya terus bertambah, tapi tidak tahu apa sebabnya,” kata Syarifah. Senada dengannya, Mulyadi, salah seorang pegawai Dinas Pariwisata Aceh Barat juga mengatakan demikian. ”Dulu sekelilingnya ini adalah kebun karet rakyat,” katanya seraya menunjuk ke batas selatan Danau ini. Hamparan pohon karet terlihat di kejauhan, mencoba mengalahkan pekatnya warna air payau danau ini. &lt;br /&gt;Hamzah, salah satu masyarakat di Desa Putim, punya cerita lain tentang asal usul danau ini, menurutnya dahulu kala, adalah tiga orang pawang yang datang ke daerah tersebut. Mereka kehausan. Untuk memuaskan dahaga, mereka menggali tanah untuk mendapatkan air. Saat itulah munculan mata air dari lubang-lubang tanah yang mereka gali. ”Jadilah seperti sekarang, makin luas dan makin luas,”katanya lagi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak populer, danau yang berjarak 20 kilometer dari pusat kota Meulaboh ini, sangat menarik untuk dijadikan objek wisata. Hamparan padang rumput hijau berbukit, capung-capung yang berterbangan menantang birunya langit Meulaboh, Danau yang tenang, pemandangan yang hijau, layak untuk diperhitungkan. Sayangnya belum ada penanganan yang serius. ”Memang belum ada penanganan yang serius,” kata Mulyadi. ”Tapi kami dari dinas pariwisata melihat tempat ini sangat potensial,” tambah Mulyadi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, daerah-daerah yang berpotensi wisata di meulaboh dapat dikembangkan tanpa melanggar syariat Islam. Menjadikan daerah wisata di kota ini sebagai daerah wisata keluarga. ”Daerah wisata kan tidak selalu identik dengan perbuatan maksiat,” kata Mulyadi lagi. Meulaboh kaya dengan berbagai keindahan. Tarian Lanup Rampuannya, tari Saman, sampai pertunjukan cerita rakyat PMTOH yang juga sempat kami saksikan. &lt;br /&gt;Tak jauh dari danau ini, di Desa Meugo Rayeuk, sekitar 35 km dari Kota Meulaboh, terdapat makam pahlawan Nasional asal Aceh, Teuku Umar. Teuku Umar Johan pahlawan gugur di Daerah Suak Ujong Kalak dan dimakamkan di desa Meugo Rayeuk, yang merupakan kawasan hutan lindung. Makam Teuku Umar ramai dikunjungi oleh wisata dan wisatawan asing sebagai tempat bersejarah. Di dalam lokasi makam Teuku Umar ini terdapat pohon besar yang mengeluarkan air tiada hentinya. Air itu bisa diminum oleh siapapun. Daerahnya sangat aman, nyaman dan sejuk dengan udara yang segar dan masih sangat alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menurut juru kunci di makam ini, batu yang berada di makam Teuku Umar juga manjur dijadikan obat. Tetapi hanya bila diberikan oleh penjaga kunci, merekalah yang benar-benar membutuhkan. Bila diambil sendiri, tidak akan bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/Sbd1rzhcQMI/AAAAAAAAADs/w0s4H7F77t0/s1600-h/Makam+Teuku+Umar+23.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/Sbd1rzhcQMI/AAAAAAAAADs/w0s4H7F77t0/s320/Makam+Teuku+Umar+23.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311843680932085954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pantai Ujung Karang dan Suak Ribe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat dengan kalimat pertama tukang cerita khas Meulaboh, Agus PMTOH yang terkenal itu? Sebuah kisah tentang negeri di Ujung Karang. Di sinilah kini kami berada. Di Pantai Ujung Karang. Tak jauh dari pusat kota, hanya 10 menit mengendarai motor. O... ya dengan modal Rp50 ribu, Anda sudah bisa menyewa sebuah beca bermotor untuk berkeliling kota Meulaboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai yang tak kalah indahnya adalah Suak Ribe, artinya seribu sungai. Pantai di daerah ini tak lagi landai, sehingga tidak bisa dijadikan lokasi berenang. Kalau mau berenang di pinggir pantai, pilihlah Ujung Karang. Kelebihan pantai Suak Ribe ini adalah pemandangan pantai yang indah. Angin semilir segar saat Anda bersantai di cafe-cafe di pinggir pantai. Kursi ayunan, rujak, air kelapa, dan kopi tubruk khas Meulaboh siap menemani  saat santai Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem... baru kali ini saya menikmati kopi dengan cara yang aneh. Kopi terbalik. Di sini kopi tubruk disajikan dengan cara yang istimewa. Biji  kopi yang ditumbuk kasar dan besar diseduh dalam sebuah gelas yang ditelungkupkan. Lalu bagaimana cara minumnya? Itu pertanyaan pertama saya saat disajikan minuman ini. Ternyata caranya cerdas dan sederhana. Sepotong sedotan disusupkan ke bagian bawah gelas yang telah ditelungkupkan, perlahan-lahan, jangan sampai tertumpah. Prinsip Fisika bermain di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila telah berhasil, tiuplah sedotan tersebut, sampai air kopi keluar meluap ke alas gelas. Kemudian tariklah sedotan itu keluar gelas perlahan. Dan... mulailah menikmati ”kopi terbalik” Anda. Begitulah seterusnya. Rasanya? Hem... nikmat sekali. (Teks by:Eka Rehulin di terbitkan di Luxo Magazine edisi Maret 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-3102043120970266877?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/3102043120970266877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/03/peu-haba-meulaboh-apa-kabar-meulaboh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3102043120970266877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/3102043120970266877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/03/peu-haba-meulaboh-apa-kabar-meulaboh.html' title='Peu Haba Meulaboh? Apa Kabar Meulaboh?'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SbdVGva7R9I/AAAAAAAAADc/H1KU5gfofFU/s72-c/meulaboh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8257776391126712645</id><published>2009-02-23T01:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T21:15:43.015-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gaya Hidup'/><title type='text'>A Magic of Wine: Kenikmatan dalam Ciuman, Mulut, dan Pejaman Mata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJutgjTl7I/AAAAAAAAADI/IkYbttmkzQo/s1600-h/_DRI0010.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJutgjTl7I/AAAAAAAAADI/IkYbttmkzQo/s320/_DRI0010.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305925039107053490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ritual minum wine. Itulah alasan bagi sebagian besar winers (penikmat wine) untuk jatuh cinta dan tergila-gila pada wine. “Mabuk” kepayang, not to mabuk beneran, begitu kata Indra Halim, salah seorang pengusaha wine di Medan. Kepuasan minum wine adalah kenikmatan dalam setiap tarikan aromanya. Memutar gelas perlahan… menghirupnya… menahan nafas sesaat… meneguknya… rasakan esensi di dalamnya, di lidah, pada langit-langit mulut, di sela-sela gigi… menebak kandungannya… aroma kayukah, tanahkah, sepatkah, maniskah, atau fruity… membiarkan mengalir ke tenggorokan… nikmati hangatnya… berdiam sejenak… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putar lagi gelasnya… pejamkan mata lagi… nikmati lagi… Penikmat wine bercengkarama dengan diri sendiri. Wine seperti makhluk hidup, punya karakter khas, umur hidup, dan daya magis masing-masing untuk “menjebak” para winers dan membuatnya tergila-gila. “Wine itu seperti wanita,” kata Indra pula. “Kita harus mengenalnya, caranya, lihat dia, nikmati warnanya, ciumi dia, kecap dia, nikmatilah,” ujar Indra berandai-andai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wine memang punya daya magis. Daya magis bernama image yang telah dibangun manusia ratusan tahun silam. Ngewine (minum wine-red) lekat dengan kemewahan. Suasana yang cozy di lounge atau wine shop semakin membuat ngewine terkesan mewah. Inilah yang banyak dibeli orang, gaya hidup urban. Tak heran kebanyakan penikmatnya adalah para eksekutif muda berusia 25-45 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra Halim tak setuju dengan pendapat bahwa wine itu mahal. Seseorang yang ingin menikmati wine tak harus merogoh kocek jutaan atau ratusan ribu rupiah. Puluhan ribu pun cukup. “Wine itu sebenarnya enggak mahal kok. Kalau minum sama teman-teman, dalam kelompok social drink, harganya paling-paling 50 ribu perorang. Itu setara secangkir kopi di kafe. So wine itu enggak mahal kok,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma mewah, wine juga identik dengan kesan romantis nan elegan. Tengoklah adegan-adegan romantis dalam literatur-literatur, melodrama-melodrama, dan berbagai pertunjukan visual lainnya. Di meja makan malam spesial pasangan yang sedang fall in love terhidang wine. Wine di branding kesan mewah dan romantis. Penuh cinta dan kasih sayang yang agung. Tidak norak, apalagi nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak nakal, sebab pasalnya, kadar alkohol dalam wine rata-rata tak lebih dari 20 persen. Bahkan wine dideklarasikan oleh WHO baik untuk kesehatan. Pastinya dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. “Not too much lah, apapun kalau kebanyakan enggak bagus,” komentar Indra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“One glass wine the day,  keep you away from doctor,” statement ini agaknya kian populer sekarang. Memang tak dapat dipungkiri segelas wine sehari baik untuk mencegah penyakit jantung, pembengkakan pembuluh darah, menjaga kesehatan hati, memperkuat imun, membangun ingatan lebih kuat, bahkan menurunkan berat badan.&lt;br /&gt;Statement ini pulalah mendongkrak popularitas wine beberapa dasawarsa ini. Orang-orang sudah mengenal manfaat wine. Wine bukan barang langka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya ngewine memang bukan budaya Indonesia, kalau boleh dibilang budaya Barat. Banyaknya orang-orang Indonesia yang telah belajar ke luar membawa budaya ngewine ke Indonesia. Termasuk Indra, ia mengenal wine sejak menimba ilmu di Austaralia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke Indonesia, ia melihat peluang bisnis wine di Medan. Tiga tahun belakangan ini ia mengembangkannya. Sebuah gebrakan wine shop di Medan, Vintage Wine Shop yang berada di gedung Hotel Grand Angkasa, Medan. Selain itu ia juga menjadi distributor wine di Medan dan Indonesia. Di Medan saat ini, ada beberapa Horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang menyediakan wine. Sebut saja, Vintage wine shop dan The Kitchen di The Aryaduta Hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Medan, memilih dan menikmati anggur, sebenarnya bukan perkara mudah. Masyarakat kita kebanyakan awam terhadap minuman ini. Setiap jenis wine yang sebenarnya memiliki rasa berbeda-beda, seringnya malah dianggap sama saja. Kalaupun semua rasa itu tidak dianggap sama, namun para pencoba minum anggur akan dibingungkan oleh jenis-jenis anggur yang beragam. Apakah itu berdasarkan jenisnya, merek, tahun pembuatan, ataupun tempat wine diproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tetang wine paling baik dan paling enak juga membingungkan. Banyak yang mengatakan Perancis adalah negara penghasil wine terbaik, walaupun Australia juga pernah menyandang gelar itu pada tahun 2000, wine Genesis Chardonnay. &lt;br /&gt;Indra punya tips tersendiri. Wine itu punya karakter masing-masing. Sesuaikanlah karakter rasanya dengan lidah Anda. “Kalau saya yang pas sama lidah dan selera saya saja,” saran Indra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang minum wine bukan sekadar minum, memasukkan cairan ke dalam mulut. Glek… selesai! Ngewine adalah sebuah ritual. Itulah sebabnya para winers lebih suka menikmati wine bersama-sama ketimbang sendirian. Ini disebut social drink. Minum bersama-sama dalam sebuah ritual minum yang fantastis. Ada waktu berdiam diri, merenung, menikmati tiap tetes pada mulut, mengenalinya, the magic of wine. Kenikmatan dalam Ciuman, Mulut, dan Pejaman Mata. Cheers…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A Colour of Wine &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak jenis-jenis wine. Secara umum wine dikelompokkan ke dalam Red Wine, White Wine, Sparkling Wine, dan Sweet Wine. Red wine dapat dinikmati sesuai suhu ruangan sedangkan white wine biasa disajikan dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Red Wine,&lt;/span&gt; dibuat dari anggur yang kulitnya tidak dikelupas sehingga rasanya lebih kelat dibanding white wine. Beberapa jenis anggur merah yang dikenal penikmat wine di Indonesia adalah merlot, cabernet sauvignon, syrah/shiraz, dan pinot noir. Syrah atau Shiraz nikmat di minum dengan steak, daging-dagingan, masakan hotplate atau rebus-rebusan. Merlot dapat di kategorikan untuk peminum wine pemula. Rasanya lembut dan dapat dinikmati dengan makanan apa saja. Cabernet sauvignon adalah salah satu jenis yang sangat popular di seluruh dunia. Sangat nikmat di minum dengan makanan jenis daging merah seperti roast beef ataupun medium rare steak. Pinot noir, dengan rasa menyegarkan dan beraroma buah-buahan, sangat nikmat di nikmati dengan makanan seperti grilled salmon, ayam ataupun kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;White Wine&lt;/span&gt; adalah wine yang dibuat dengan mengelupas kulit anggur. Beberapa jenis white wine yang terkenal di kalangan peminum wine di Indonesia adalah chardonnay, sauvignon blanc, semillon, riesling, dan chenin blanc.Chardonnay sangat beraroma buah-buahan. Chardonnay bisa menjadi jenis Sparkling yang sangat nikmat di minum dengan makanan seperti ayam dan ikan. Sauvignon Blanc, jenis ini berasal dari Bordeaux perancis. Rasa rempah-rempahnya yang khas dan hangat sangat tepat di nikmati dengan makanan seperti seafood, salad atau makanan pedas lainnya. Riesling, rasanya sangat kuat dengan buah-buahan seperti Apel dan peach, sangat tepat dinikmati dengan ayam, ikan atau daging-dangingan yang lainnya. Chenin Blanc sangat tepat dinikmati dengan daging-dagingan, seafood dan makanan lainnya yang pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sparkling Wine&lt;/span&gt; adalah wine yang mengandung soda. Sparkling Wine yang paling terkenal adalah Champagne dari Prancis. Hanya Sparkling Wine yang dibuat dari anggur yang tumbuh di desa Champagne dan diproduksi di desa Champagne yang boleh disebut dan diberi label Champagne. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sweet Wine&lt;/span&gt; adalah wine yang masih banyak mengandung gula sisa hasil fermentasi (residual sugar) sehingga membuat rasanya menjadi manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tips Minum Wine&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wine memang keindahan. Jatuh cinta padanya adalah resiko. Resiko menikmati keindahan tersebut dengan kompleksitas indera Anda. Menikmati wine membutuhkan perhatian beberapa indera manusia. Dimulai dari mata, jatuh ke penciuman, dan mendarat di pengecapan. Nikmati lah wine dengan ketiga indera ini. &lt;br /&gt;Nah, bagi Anda para penikmat wine, kami berikan tips menikmati wine. Selamat mencoba. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Swirl&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Putar gelas perlahan. Putaran ini ini akan mengalirkan oksigen ke wine untuk menghasilkan aroma dan rasa terbaik. Amati, apabila wine terlihat kental dan berdensitas, artinya wine tersebut memiliki kadar alkohol cukup tinggi. Jika terlihat endapan, artinya wine tersebut sudah berumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Sniff&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengendus, hirup aroma wine sesaat setelah dituang ke dalam gelas. Hirupan ini untuk mendapatkan impresi pertama. Setelah itu, coba bayangkan rasa apa yang muncul setelah meminumnya. Kemudian, untuk mendapatkan aroma lebih kuat, putarlah gelas perlahan (swirl) sambil sedikit menutup lubang gelas dengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Slurp&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu tegukan, jangan langsung menelan wine! Aliri wine dengan udara, caranya buka mulut sedikit dan tarik udara masuk seperti bernafas. Harusnya Anda dapat merasakan aroma seperti yang Anda cium di langkah sebelumnya. Nikmatilah kompleksitas rasa yang ada. Adakah rasa yang dominan atau semua seimbang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Swallow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telanlah perlahan-lahan dan rasakan bagaimana rasanya wine tersebut melintasi tenggorakan. Pejamkan mata, ini akan sangat membantu Anda menikmatinya. Jika tengah merasakan berbagai macam wine, bukanlah hal yang tidak sopan untuk meludahkan wine tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FYI:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wine termahal yang pernah dijual adalah 1787 Chateau Lafite, terjual di Christie’s London di bulan September 1985. Pembelinya adalah Malcolm Forbes, pendiri majalah Forbes. Wine ini adalah wine dari tempat penyimpanan Thomas Jefferson, mantan Presiden AS. Wine ini memiliki inisial Th.J etched into the glass bottle. Harganya US$ 160.000 atau berkisar Rp16 miliar. (Eka Rehulin/Dimuat di LuxoMagazine edisi 7)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8257776391126712645?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8257776391126712645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/magic-of-wine-kenikmatan-dalam-ciuman.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8257776391126712645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8257776391126712645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/magic-of-wine-kenikmatan-dalam-ciuman.html' title='A Magic of Wine: Kenikmatan dalam Ciuman, Mulut, dan Pejaman Mata'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJutgjTl7I/AAAAAAAAADI/IkYbttmkzQo/s72-c/_DRI0010.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2570997521272226556</id><published>2009-02-23T00:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T23:24:18.891-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gaya Hidup'/><title type='text'>Mari Ber-Spa Ria</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJmpdeidcI/AAAAAAAAACw/_-CHkaCW2T4/s1600-h/spa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJmpdeidcI/AAAAAAAAACw/_-CHkaCW2T4/s320/spa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305916173469251010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bau aroma terapi natural, bunga lavender, sandalwood, atau lemon grass tercium, menyeruak, memenuhi indera penciuman manusia. Interior dekorasinya menenangkan jiwa, landscapenya natural, di dalam ruangan tersedia kolam renang, garden, lemari penyimpanan, shower, dan jacuzzi. Para pengunjungnya siap untuk memanjakan diri, mencharge ulang jiwa, pikiran, tubuhnya. Gambaran ini adalah deskripsi umum sebuah spa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang cari orang di Spa kalau bukan relaksasi, refresh, melepaskan penat di seluruh tubuh atau sekadar menyegarkan punggung dan leher yang kerap pegal-pegal. Tidak memakan banyak waktu, cukup 30 sampai 60 menit, Anda sudah dapat merasakan manfaatnya. Entah itu tradisional spa, dengan menggunakan baby oil atau spa aromaterapi dengan massage oil sesuai dengan mood Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi spa merupakan perawatan holistic. Tidak hanya mencakup perwatan fisik dari ujung kaki sampai ujung rambut, tetapi juga perawatan jiwa. Salah satu pemicu kebutuhan masyarakat urban akan spa adalah karena rutinitas masyarakat yang menyebabkan semakin tingginya level stress masyarakat. Kalau mau mengasumsikan, spa itu ibarat makanan bagi tubuh dan jiwa manusia. Memberikan relaksasi bagi jiwa dan kesegaran bagi tubuh. Apalagi perlengkapannya sebagian besar dari aromaterapi dan herbal yang berbahan dasar natural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terdapat pada Angkasa Spa dan fitness centre yang berada di Hotel Grand Angkasa Medan. Di sini Anda akan ditawarkan pada kesenangan rahasia dari Bali-Asia dengan fasilitas yang efisien dan suasana yang kondusif. Angkasa spa menggabungkan seni perawatan wajah dan tubuh secara total dengan bahan-bahan alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyediakan safety boks di kamar Anda, spa ini juga menyediakan kimono, handuk, sarung, sandal, ruang ganti, dan kalau Anda memerlukan juga disediakan celana dalam sekali pakai. Para terapisnya juga terlatih untuk menutupi daerah sensitif dengan kain atau handuk untuk menjaga privasi para klien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan komplit ditempat ini mulai dari pijat, traditional body treatment, dan face treatment. Pijat (massage) terdiri atas pijat tradisional, bagus untuk menghilangkan lelah dan meperlancar peredaran darah, pijat aroma terapi untuk membuat tubuh terasa nyaman dan santai dengan berbagai pilihan aroma terapi sesuai keinginan Anda, dan pijatan daerah leher dan panggung. Pijatan ini lebih memfokuskan pada leher dan punggung untuk menghilangkan letih atau urat yang tegang sekitar leher. Pijatan ini juga menggunakan aroma terapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan tubuh tradisional terdiri atas lulur dan enzim papaya. Bahan lulur terbuat dari beras sebagai scrub untuk menghilangkan sel kulitt mati, kunyit sebagai antiseptic dan pencerah warna kulit, dan sari pati kayu cendana sebagai pengharum kulit. Selanjutnya giliran bengkoang dan yoghurt sebagai pelembut kulit. Enzim papaya terbuat dari buah papaya dan rumput laut. Vitamin E-nya berfungsi untuk menghaluskan kulit serta Lumpur putih untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan wajah dilakukan dengan anti aging facial, untuk mencegah garis-garis penuaan di sekitar wajah, membuat wajah tampak lebih muda dan revitalizing facial untuk membuat kulit tampak lebih lembut, segar, dan berseri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, selain spa untuk perawatan tubuh dan wajah, saat ini berbagai inovasi spa ditawarkan. Mulai dari red wine spa khusus untuk wanita, v spa sampai spa untuk mempercantik area alat kelamin wanita. V spa adalah spa khusus untuk vagina. Dalam v-spa ini digunakan teknik pengasapan atau penguapan, taknik pijat akupresur yang diterapkan di seluruh tubuh, terutama vagina. Ada pula meditasi gerak, semacam senam kegel untuk vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Indonesia, terutama di kota besar, tren spa terbaru adalah semacam v-spa di New York kini ada spa khusus untuk memperkuat dan mempercantik area alat kelamin wanita. Nama spanya adalah Phit, untuk pengujian ginekologikal dikenakan biaya sebesar US$150. Seperti ditulis New York Times, untuk mengujinya klien disuruh dokter mengerutkan otot kelaminnya untuk ditentukan kekuatannya. Bila dinilai lemah maka selanjutnya, si klein dianjurkan mengambil paket perawatan lanjutan, misalnya latihan menggunakan mesin elektrostimulasi, mesin untuk melatih otot kelamin, semacam senam kegel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem… ada banyak macam jenis spa, bahkan ada untuk menaikkan prestisenya menyebut diri spa, walau tak terlalu memenuhi criteria. Its okelah, yang pasti jika Anda memiliki uang lebih berkisar Rp150 ribu, Anda sudah bisa ber-spa ria. Tapi jangan lupa kalau Anda ingin ber-spa ria, sebaiknya Anda melakukan reservasi dahulu untuk memastikan Anda mendapatkan pelayanan terbaik. Yuk… mari ber-spa ria. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Spa, Kesehatan dari Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJm4m-715I/AAAAAAAAAC4/Yz7wJVVWpVk/s1600-h/spa2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJm4m-715I/AAAAAAAAAC4/Yz7wJVVWpVk/s320/spa2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305916433719089042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Spa… istilah ini sudah begitu terkenal. Ia menjadi ikon gaya hidup para eksekutif modern. Leisure time dihabiskan untuk merawat dan memanjakan diri di tempat-tempat seperti mall, music lounge, café, klub, salon, dan tentu saja Spa. Spa telah menjadi kebutuhan tertier bagi mereka yang memiliki uang berlebih berkisar Rp150 ribu di kantong. Tetapi tahukah Anda apa sebenarnya Spa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spa sebenarnya singkatan dari Solus per Aqua. Artinya kesehatan dari air. Dalam bahasa Inggris disebut Hydrotherapy. Secara tradisional defenisi ini mengacu kepada sebuah tempat yang terdapat air yang diyakini memiliki sifat menyehatkan. Biasanya adalah sebuah pemandian air panas atau mineral. Istilah spa ini berasal dari kota Spa di Belgia. Tetapi secara modern, spa adalah sebuah resor mewah atau resor hotel yang menawarkan pemandian air panas, dingin, steam, sauna serta fasilitas pijat, pijat refleksi hingga menicure, pedicure, scrubbing, dan seterusnya. Intinya adalah perawatan tubuh dan pemanjaan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, cara memanjakan diri dengan cara ini sudah ada sejak 8000 tahun SM. Cerita legenda pertamanya ditemukan Bladut yang kemudian didokumentasikan oleh Geoffrey of Monmouth dalam bukunya History of The Kings of Britain di tahun 1136. Jadi jika Anda menganggap ritual spa ini sebagai sesuatu yang sangat baru, maka Anda salah besar. Orang bijak bilang, tidak ada sesuatu yang baru pun di bawah matahari, nil novi sub soli. Bangsa romawi pun sudah mengenal spa lebih dari 2000 tahun lalu. Sekitar tahun 25 SM, Raja Agripa membangun Roman Thermae pertama. Ini adalah spa pertama dengan skala besar dalam peradaban manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau spa sekarang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, thermae ini juga memiliki banyak fasilitas layaknya spa modern zaman sekarang. Pengunjung thermae juga menjalankan kegiatan-kegiatan olahraga, sauna, berndam, pijat dengan minyak rempah, scrubbing, dan relaksasi di ruang duduk atau ruang perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hem… tahu tidak, spa semakin menyebar di seluruh dunia karena pengaruh ratu kecantikan Cleopatra di abad ke-16. Konon ceritanya nih, sang ratu kecantikan ini biasa berendam air panas yang dicampur dengan minyak astiri dan aneka wewangian. Habit satu ini menyebar bersama kecantikannya yang terberitakan ke seluruh dunia. Mungkin ini juga yang menyebabkan spa menjadi identik dengan kelas sosial tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Asia pun, spa ini sudah lama dikenal. Pernah dengar kan Spa dengan konsep Zen yang saat ini banyak digunakan di seluruh dunia? Nah… spa jenis ini pertama sekali dibangun di Izumo, Jepang pada tahun 737 M. Bentuknya waktu itu masih sederhana sekali, masih sekadar pemandian air panas untuk relaksasi. Sesuai namanya, spa ini mengadopsi konsep akar Zen dari China, esensinya adalah mencapai esensi dasar alam untuk mencapai ketenangan dan pencerahan jiwa. Sekarang konsep ini biasa diterapkan spa-spa modern lewat desain interior, landscape, dan metode perawatannya. Tujuannya, tentu saja mencapai ketenangan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, perawatan dengan bahan-bahan alami tradisional ini juga sudah sangat lama dikenal. Di kebudayaan raja-raja Jawa ada ritual mandi kembang dan mandi rempah. Bahkan beberapa ramuan tradisional untuk merawat tubuh ini tetap populer di kalangan wanita modern lewat spa. Seperti luluran, ratus, masker bengkoang, dan pemanfaatan beberapa bumbu masak untuk terapi kesehatan. Seperti sereh untuk rematik, infeksi kulit, dan urat-urat mengencang. Jahe untuk menghilangkan demam, kedinginan, dan hilangnya nafsu makan. Biji pala mengobati rematik, artritis, sakit dalam perut. Marjoram untuk menyembuhkan darah tinggi, dan migren, dan cengkih untuk mengobati sakit gigi dan sakit perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini boleh dikatakan pemakai jasa spa di kota-kota besar, temasuk Medan, sangat banyak jumlahnya. Tingkat kesibukan dan rutinitas telah membelenggu kehidupan masyarakat kota, stres di samping pola makan yang tidak sehat serta jarangnya berolahraga merusak kesehatan banyak orang di kota-kota besar. Tak dapat dipungkiri, spa terus melaju menjadi sebuah fenomena melahirkan sebuah tren masa kini. Akibatnya penawaran berbagai paket kesehatan pun menjamur. Setiap orang dapat memilih, bergantung tempat dan kemampuan para tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tak Hanya Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJnDKivn1I/AAAAAAAAADA/duj18V8KKR4/s1600-h/spa3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 78px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJnDKivn1I/AAAAAAAAADA/duj18V8KKR4/s320/spa3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305916615063215954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang spa dikhususkan hanya untuk wanita? Biasanya aktivitas memanjakan tubuh ini didominasi kaum perempuan. Alih-alih untuk kesegaran dan kebugaran tubuh, banyak kaum perempuan serta eksekutif perempuan menjadikan spa sebagai bagian life style mereka. Seperti halnya salon, saat ini spa juga menjadi salah satu tempat yang biasa dikunjungi para pria eksekutif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa  kaum pria bisa betah menghabisakan sedikit sisa hari di spa? Bagi masyarakat super sibuk seperti sekarang, sedikit liburan dan waktu senggang seperti pemberian sangat berharga. Harus dimanfaatkan dengan sangat baik. Hal yang terbaik yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu-waktu emas tersebut adalah sedikit memanjakan diri untuk membuat hidup menjadi lebih indah. Menghabiskan sisa hari, menikmati waktu-waktu senggang dengan pijatan, ketenangan, kemewahan, berendam air hangat, memberi ruang kepada pikiran melepaskan beban, aroma terapi yang menyegarkan hidung. Hem… nikmatnya hidup. Itulah sebabnya, saat ini spa-spa semakin menjamur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir pekan, usai bekerja keras selama sepekan, kaum pria kini lebih memilih melakukan relaksasi di tempat-tempat perawatan spa. “Nggak harus keluar kota untuk relaksasi. Ke spa aja,” kata James, karyawan sebuah perusahaan jasa di Medan. Sebagai ganti liburan ke luar kota adalah perawatan melalui shaving dan head massage atau pemijatan pada kepala untuk mengurangi rasa penat. Biasanya, perawatan spa untuk pria didahului dengan body scrub dan masker perawatan kulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, kunjungan kaum pria ke spa meningkat 300 persen dibanding 10 tahun lalu. William Morris, orthoterapoist dan ahli master di Carmichael Inn and Spa di Ottawa, Canada, menegaskan bahwa pria juga butuh relaksasi seperti yang didapatkan wanita di spa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinergyday Spa adalah salah satu spa khusus pria di Medan. Spa ini sudah ada sejak dua tahun lalu dan berada di pusat perekonomian kota Medan. Penawaran di spa  ini mulai dari macam-macam pijatan (relaxing massage, chinergy massage, shiatsu, dan hot stone massage), whirlpool, sauna, dan steam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing pemijatan ini punya keasyikan tersendiri. Utnuk pemijatan shiatsu, sebelum pemijatan biasanya para tamu yang tadinya berpakaian biasa dikenakan pakaian semacam daster (kamerjas) agar lebih santai selama terapi berlangsung. Dari situ tamu diantar ke ruangan untuk mulai dengan terapi Spa. Setelah mencuci badan tamu, bisa mengikuti petunjuk terapis pria untuk mulai masuk ke ruang steam (uap) atau ke ruang Spa sebelum masuk di kolam air hangat dan air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ruang steam yang dipenuhi uap air ini tercium wewangian campuran rempah sedangkan di ruang Spa hanya panas dalam batas ukuran tertentu, kadang sesuai dengan permintaan tamu. Dari sana tamu langsung masuk dalam kolam air dingin dan panas. Dengan proses inilah banyak macam penyakit dapat terobati atau paling tidak cara demikian bisa menguatkan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit musiman. (Eka Rehulin/LuxoMagazine edisi 6/photo:int)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2570997521272226556?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2570997521272226556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/mari-ber-spa-ria.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2570997521272226556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2570997521272226556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/mari-ber-spa-ria.html' title='Mari Ber-Spa Ria'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJmpdeidcI/AAAAAAAAACw/_-CHkaCW2T4/s72-c/spa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-8495512961009015429</id><published>2009-02-23T00:35:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T23:26:38.745-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fenomena'/><title type='text'>Homoseksual  Bukanlah Takdir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJhPCCtbgI/AAAAAAAAACg/2vPVC5JDxNE/s1600-h/gay.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJhPCCtbgI/AAAAAAAAACg/2vPVC5JDxNE/s320/gay.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305910221870034434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan pungkiri fakta ini! Setiap orang, entah itu laki-laki ataupun perempuan pastilah pernah mengagumi atau menyukai seseorang yang satu gender dengannya. Seorang perempuan misalnya, mengagumi wanita lain yang cantik dan seksi. Atau seorang laki-laki yang kagum melihat laki-laki yang tampan dan boyd perfect. Ups… ternyata… menurut psikolog Mustika Tarigan, pikiran ini membuktikan bahwa setiap orang memiliki potensi homoseksual di dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eits… jangan dahulu menjustifikasi macam-macam! Penelitian ilmiah justru membuktikan bahwa sesungguhnya setiap individu mempunyai potensi menjadi homoseksual. Hanya saja tingkatan kecenderungannya berbeda dan karena kecilnya kecenderungan ini sehingga tidak dirasakan. Lain halnya jika kecenderungan itu tidak sebatas mengagumi. Jika seseorang sampai tertarik dan terangsang terhadap sesama jenis  setelah mengagumi, maka orang tersebut dapat dikategorikan sebagai homoseksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas Minggu (24/8) menulis bahwa pribadi homoseksual ditandai dengan orientasi psikoseksual yang bersamaan dengan kondisi seks-biologis. Artinya kepekaan erotik seksualnya tertuju kepada pasangan sesama jenis sehingga kepuasan erotik seksualnya pun baru bisa diperoleh bila mereka melakukan relasi seksual degan pasangan sejenis. Bila kasus ini terjadi pada laki-laki disebut homoseksual (gay) dan pada perempuan disebut lesbian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya adalah paduan dari faktor hormonal di satu sisi dan faktor lingkungan di sisi lain. Seperti pola asuh, pergaulan, dan pengalaman erotik terdahulu yang mengesankan bagi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu kepada penyebab utamanya, homoseksual dikelompokkan menjadi homoseksual eksklusif dan homoseksual fluktuatif. Homoseksual eksklusif adalah homoseksual yang benar-benar tidak mampu mengendalikan ketertarikan erotik-seksual terhadap sesama jenis kelamin sedangkan homoseksual fluktuatif adalah homoseksual yang ketertarikan erotis-seksual terhadap sesama jenisnya terjadi karena keterbatasan kehadiran lawan jenisnya. Kasus seperti ini misalnya terjadi pada tahanan Lapas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan seksual dan cinta erotis sesama telah ada dalam kebanyakan budaya dan telah dikenal sejak lama. Tidak yang tahu pasti sejak kapan homoseksual sudah ada. Namun dalam pengetahuan agama, homoseksual sudah ada sejak zaman Sodom dan Gomora. Di abad ke-19 tindakan dan hubungan ini dilihat sebagai oreientasi seksual yang bersifat stabil. Kata homoseksual sendiri   tercatat dalam sejarah dipergunakan pertama sekali oleh Karl-Maria Kertbeny. Kemudian dipopulerkan Richard Freiherr von Krafft-Ebing dalam bukunya Psychopathia Sexualis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian ilmiah menunjukkan beberapa penyebab seseorang menjadi homo seksual. Penyebab pertama adalah faktor genetik. Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosom yang berbeda. Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pria mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah. Kromosom y adalah penentu seks pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak apapun kromosom x terdapat, jika terdapat kromosom y, orang tersebut tetap berkelamin pria. Seperti terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter, memiliki tiga kromosom seks, xxy. Kemungkinan terjadinya 1:700 kelahiran bayi. Pada orang dengan kasus seperti ini, meskipun berkelamin pria, ia mengalami kelainan pada alat kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kedua adalah ketidakseimbangan hormon. Seorang pria sealin memiliki hormon testoteron juga mempunyai hormon yang dimiliki wanita yaitu estrogen dan progesteron. Hanya saja kadar hormon wanita tersebut sedikit. Nah… bila pada seorang pria kadar hormon esterogen dan progesteronnya cukup tinggi, maka ini dapat menjadi penyebab perkembangan seksual pria mendekati karakteristik wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor berikutnya adalah struktur otak. Terdapat perbedaan pada struktur otak pada straight females, straight males, gay females, dan gay males.  Otak bagian kiri dan kanan straight males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. Pada gay males, struktur otaknya sama dengan straight females. Struktur otak gay females sama dengan straight males. Gay females ini biasa disebut lesbian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelainan susunan syaraf juga menjadi penyebab homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan syaraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. DR. Wimpie Pangkahila (Pakar Andrologi dan Seksologi) menambahkan bahwa selain faktor biologis (kelainan otak dan genetik) ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi kecenderungan seksual seseorang. Faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikseksual pada masa anak-anak, faktor sosiokultural, yaitu adanya adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan yang tidak benar, dan faktor lingkungan yang memungkinkan dan mendorong hubungan para pelaku homoseksual menjadi erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor sosiokultural ini seperti terdapat pada kesenian Warok di Jawa Timur. Lingkungan Warok Ponorogo di Jawa Timur dapat membentuk seseorang menjadi seorang homoseksual. Pasalnya Warok tidak boleh berhubungan intim dengan wanita karena menyebabkan kesaktiannya luntur. Maka untuk menyalurkannya dipeliharalah seorang atau beberapa anak laki-laki yang mereka sebut gemblak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustika Tarigan juga mengaminkan, bahwa secara psikologis, faktor lingkungan, sosio budaya, pengalaman masa lalu, trauma atau sakit hati dapat memicu seseorang menjadi homoseksual. Menurutnya secara medis homoseksual karena faktor biologis dan psikodinamik lebih sukar disembuhkan dibanding homoseksual karena faktor sosiokultural, lingkungan, dan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, apapun faktor penyebabnya, bukan berarti homoseksual tidak dapat disembuhkan. Seperti kesaksian Samuel Mulya, pengasuh rubrik Parodi pada harian Kompas Minggu. Ia adalah bekas homoseksual karena faktor biologi, bahkan sampai sekarang, ia belum juga mampu mencintai wanita. Tapi bukan berarti  homoseksual tidak dapat disembuhkan. Ia tidak lagi tertarik kepada sesama jenis. Menjadi homoseksual adalah suatu pilihan bukanlah takdir. Jenny, seorang homoseksual mengaminkannya. Ia menceritakan, menjadi homoseksual adalah pilihan yang telah ditimbangnya secara matang sebelum membasahkan diri dengan dunia ini. “Bukan takdir, tapi pilihan hidup dan keputusan,” kata Jenny (25). Kecenderungan besar manusia kembali ke kehidupan normal adalah kekuatan terpenting untuk sembuh. “Yang terpenting adalah kemauan untuk sembuh,” kata Psikolog, Mustika Tarigan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum homoseksual dari masa ke masa akan selalu ada, kasat mata, dan setiap orang pun berpotensi menjadi bagian mereka. Pilihan tetap di tangan kita, memilih tetap menjadi normal atau menyerah pada potensi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;It’s Complicated&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dekade belakangan ini, keberadaan kaum homoseksual secara signifikan patut diperhitungkan. Survei di Amerika Serikat saat pemilu 2004 dilangsungkan menjukkan bahwa 4% dari seluruh pemilih pria menyatakan dirinya seorang gay. Di Kanada, berdasarkan statistik Kanada, di antara warga Kanada yang berumur 18 sampai 59 tahun, terdapat 1% homoseksual dan 0,7% biseksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, di mata para ilmuwan keberadaan kaum homoseksual bukan lagi dianggap sebagai sebuah penyimpangan seksual. Ini bermula dari tindakan American Psycological Association (APA) yang pada tahun 1970-an menghapus kriteria deviasi seksual terhadap homoseksual dalam jurnal ilmiah terbitan mereka. Artinya kaum homoseksual dipandang normal dan sebagai sebuah kewajaran. Berhubungan seks dengan sesama jenis tidak lagi tabu atau sebuah aib. Sejak saat itu homoseksual dipandang sebagai fenomena yang wajar. Para peneliti, calon dokter, psikolog, dan psikiater dididik dengan pemahaman bahwa homoseks adalah normal, senormal perkawinan antara pria dan wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, pandangan ini tak sepenuhnya melekat pada masyarakat. Di kalangan para peneliti, akademisi, aktivis, homoseks sudah diakui keberadaannya. Tidak demikian halnya dengan masyarakat kebanyakan. Homoseks tetaplah sebuah penyimpangan, dosa, kutukan, dan menjijikkan. Bona misalnya, desain grafis lepas ini mengaku enggan bersahabat baik dengan homoseksual. “Geli ah, lagipula aku takut ketularan. Kata orang sih, homoseksual itu menular. Kalau ber-say halo aja sih ga papa,” kata pria berambut cepak ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh aja pacaran dan berinteraksi seksual sama cowok, Errrgh…” komentar Dede (25). Meskipun merasa aneh, Dede dan Bona menganggap itu adalah hak dan pilihan seseorang. “Setiap orang kan boleh milih, tapi jaga nularin ke orang lain dong,” kata Bona lagi. “Harusnya mereka bergaul sebagai homoseksual hanya pada komunitasnya saja, kalau di masyarakat, ya… dia bersikap sebagai orang kebanyakanlah, biar bisa diterima,” tutur Dede. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benny, seorang homoseksual tak sepenuhnya membenarkan pendapat Dede. Pria karyawan sebuah bank swasta di Medan ini mengaku sudah enam tahun menjadi homoseksual. Ia mengaku tidak mau eksklusif. “Saya justru tidak mau gabung dengan komunitas gay. Saya maunya hidup normal di masyarakat. Saya kan normal, jadi ngapain membatasi diri, kalau di masyarakat ya saya bersikap biasa saja” cerita Benny. Justru dengan membatasi lingkungan pergaulan inilah kaum homoseksual semakin tidak mendapat tempat di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Benny, orientasi seksualnya saja yang berbeda dengan orang kebanyakan, selebihnya ia adalah warga masyarakat yang punya hak sama untuk hidup, bekerja, bergaul, dan berkarya. “Saya juga tidak memaksakan seseorang jadi gay. Kalau cari pasangan gay, saya pasti pilih yang gay juga. Lagipula saya penganut paham monogami,”sambungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan homoseksual memang permasalahan sangat kompleks. Mereka ada, mengalami tekanan, di tolak lingkungan, rentan terhadap penyakit seksual, dan harus selalu siap menghadapi bom waktu yang pasti meledak. Benny megaku beryukur berada di lingkungan yang menerima dirinya apa adanya. Teman-teman baiknya tidak mempermasalahkan oreintasi seksualnya, pun rekan-rekan sekantornya. Mereka tahu, mereka lihat, dan mereka dapat menerima. Walau begitu Benny sudah siap untuk menghadapi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak, entah akan menghempas sejauh mana dari kehidupan keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua dan keluarga pencinta warna putih ini tidak mengetahui aktivitas seksual yang sudah enam tahun dilakoninya ini. “Enggak tahu reaksi mereka nantinya seperti apa, tapi saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Tidak diakui anak misalnya,” tawa Benny ironis. “Saya juga tidak tahu bagaimana ke depannya, saya jalani saja dulu,” pria jangkung ini memastikan tekadnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang memang masih belum menerima kehadiran kaum homoseksual. Ketidakberterimaan masyarakat ini, menurut Psikolog, Mustika Tarigan, justru menyebabkan kaum homoseksual semakin tertekan dan terpuruk. Apalagi kalau sampai dipojokkan. Karena takut dihindari, tak sedikit yang menutupi identitas diri, tidak berani menujukkan orientasi seks yang berbeda tersebut. Mereka justru menikah dengan lawan jenis. Inilah yang lebih berbahaya. “Akan ada korban. Saran saya untuk para kaum gay dan lesbian, jangan lakukan itu! Selesaikan dulu masalah Anda kalau Anda anggap itu masalah, kalau tidak menikahlah dengan pasangan homoseksual Anda,” tegas Mustika Tarigan. Lain halnya di kota besar, mereka lebih berani mengakui “kehomoseksualannya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog alumnus UGM ini menyarankan, agar dapat diterima masyarakat, para kaum homoseksual harus berkarya. Menunjukkan bahwa mereka berprestasi dan berguna bagi masyarakat. Sehingga pikiran masyarakat tidak terfokus kepada orientasi seksual mereka tetapi kepada prestasi-prestasi dan tindakan kemanusiaan yang mereka buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aku Telah Memilih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJhmnJzHGI/AAAAAAAAACo/7Btu0mojNrc/s1600-h/gay2.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 123px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJhmnJzHGI/AAAAAAAAACo/7Btu0mojNrc/s320/gay2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305910626968869986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang homoseksual rentan terhadap berbagai penyakit seksual. Safe sex menjadi tuntutan. Tetapi Benny sudah memilih. Waktu usianya menginjak 20, ia sudah memutuskan. Keputusan ini bukan tanpa alasan dan berbagai pertimbangan. Bertahun-tahun, ia berusaha mencari tahu, mengumpulkan informasi, menimbang, sampai merasa cukup matang dan yakin dengan keputusan yang ia buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya cerita bermula dari belasan tahun silam. Kenangan masa kecil yang mencuat kembali ke ingatan. Benny tidak tahu pasti apa penyebab kecenderungan oreintasi seksualnya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Yang ia tahu, sejak kecil ia lebih tertarik kepada sesama jenis. Mengaku tidak pernah mengalami kekerasan seksual sejak kecil atau trauma terhadap lawan jenis, Benny kecil mengenang pengalaman masa kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingat benar, saat masih balita, ia lebih mengagumi pria tampan ketimbang kecantikan wanita. Kebetulan jarak usia penggemar fotografi ini dengan kakak perempuannya sangat jauh, delapan tahun. Ketika teman-teman remaja kakaknya ini bermain ke rumah, diam-diam Benny kecil mengagumi teman-teman lelaki kakaknya. “Waktu itu aku belum ngertilah, aku pikir biasa aja” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan sosial, tanda-tanda sosial pun membatasi pikiran tersebut. Masyarakat bilang itu salah. Agama juga tidak melegalkan. Tekanan sosial dan kengerian terhadap social punishment membuang pikiran ini jauh-jauh dari Benny. Hingga saat kuliah di Medan, jauh dari orang tua, tak ada lagi tekanan sosial, basic insting itu muncul kembali. Demikian ia menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian mengeksplorasi pun muncul. Benny juga merasa ia sudah siap mengambil keputusan. Usianya telah cukup dewasa membuat keputusan sendiri, 20 tahun. Tekadnya waktu itu, aku harus cari tahu! Berbekal rasa ingin tahu itu, ia mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Searching di internet, menemukan data, komunitas gay di internet, mencoba chatting. Hasilnya? Benny lega, ternyata ia tidak sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, satu kejadian membawanya ke kejadian berikutnya. Chatting, kenalan, lalu janjian kopi darat. Beberapa kali seperti itu. Tekanan seksual dari dalam diri membuat Benny memutuskan, “Harus coba!” Misi selanjutnya adalah menemukan orang yang tepat untuk pertama sekali. Hampir belasan kali kopi darat, Benny belum menemukan orang yang tepat. Cara menemukan orang yang tersebut pun sangat unik. “Aku pake insting,” kata Benny. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekali waktu, ia bertemu dengan seorang pria, seorang bapak 5 anak, berusia 42 tahun lewat chatting. Orangnya tampan, klimis, dan mapan. Dorongan hormon yang sedang mengalir deras membawa Benny ke pertemuan dengan pria asal Jakarta ini. Pertemuan ini membawa ke pertemuan kedua. Tapi Benny belum berani, ia menetapkan standar, no commitment dan no anal sex. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah pengalaman seksual Benny sebagai homoseksual berlanjut. Ia tidak ragu lagi. Pria berkulit putih ini sudah tidur dengan belasan pasangan homoseksualnya. Selama menjalani Benny tetap menetapkan aturan, tanpa komitmen dan one sex. Berkali-kali menjalin hubungan Benny akhirnya sampai pada satu kesadaran, ia telah menjerumuskan diri para pergaulan free sex yang membuatnya sangat rentan berbagai penyakit menular seksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, 14 kali lebih berganti pasangan, ia menarik sebuah korelasi hubungan sesama homoseksual. Mereka berada dalam lingkaran terbatas. “Orang-orangnya  di satu kota, itu-itu saja,” kata Benny. “Dapat dipastikan orang yang pernah tidur sama aku itu juga pernah tidur dengan pasangan tidurku sebelumnya dan begitu seterusnya,” cerita Benny ngeri. Kalau mau ditarik garis hubungan seperti itu, Benny telah berhubungan dengan lebih dari 100 homoseksual. “Aku jadi ngeri dan aku pikir aku harus safe sex,”ujar Benny. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Benny memutar arah kemudi hubungan erotis-seksualnya. Ia mulai menerapkan komitmen, monogami, safe sex, dan tidak bergabung dengan komunitas gay. Ia ingin hidup normal di tengah-tangah masyarakat meskipun sebagai gay. Menjadi gay adalah pilihan hidupnya saat ini. Sejak awal ia telah memutuskan dengan penuh pertimbangan. Sampai saat ini belum ada keinginan mengubah oreintasi seksualnya. Menurutnya ia tidak menyimpang. “Ini hanya masalah pilihan. Dan aku telah memilih,” kata Benny mengakhiri perbincangan dengan tersenyum.(Eka Rehulin/diterbitkan di Luxo Magazine edisi 6/photo:int)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-8495512961009015429?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/8495512961009015429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/homoseksual-bukanlah-takdir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8495512961009015429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/8495512961009015429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/homoseksual-bukanlah-takdir.html' title='Homoseksual  Bukanlah Takdir'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJhPCCtbgI/AAAAAAAAACg/2vPVC5JDxNE/s72-c/gay.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-498923676326579316</id><published>2009-02-23T00:29:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T23:30:06.557-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Teh Herbal Merusak Kesehatan Gigi (?)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJeyfTvtOI/AAAAAAAAACY/NJPbkmc-TWo/s1600-h/teh+nerbal.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJeyfTvtOI/AAAAAAAAACY/NJPbkmc-TWo/s320/teh+nerbal.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305907532486653154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi minum teh telah ada selama beberapa generasi. Pada masyarakat Cina ataupun Jepang dikenal budaya minum teh di sore hari. Pun di beberapa peradaban barat. Seperti bunyi iklan di Teve “Mari ngeteh, mari bicara” –mengutip slogan salah satu iklan produk teh di Indonesia- tradisi minum teh menjadi semacam mediasi untuk diplomasi kenegaraan maupun urusan bisnis. Teh menjadi semacam jembatan komunikasi. &lt;br /&gt;Itu pula yang terjadi ratusan tahun silam, saat kolonialis Amerika melakukan protes atas kebijakan sistem pajak negara iduknya, Britania Raya. Peristiwa 16 Desember 1773 itu tercatat dalam sejarah sebagai Boston Tea Party, sebuah peristiwa dibuangnya kotak-kotak berisi teh dari kapal di Pelabuhan Boston. Aksi sweeping terhadap teh ini adalah manifestasi semangat perlawanan. Dalam semiotik, teh di sini adalah simbol kekuasaan, membuang teh berarti perlawanan terhadap kekuasaan. Peristiwa ini pula yang menjadi salah satu pemicu timbulnya Revolusi Amerika pada tahun 1775.  &lt;br /&gt;Menembus ruang dan waktu sedemikian panjang itu, teh tetap menempati ruang khusus bagi banyak penikmatnya. Minuman hasil sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman semak Camellia sinensis dengan air panas. Rasanya yang sedikit pahit merupakan kenikmatan tersendiri. Apalagi minuman sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat, dan protein mendekati nol persen ini dinilai baik untuk keseimbangan tubuh. &lt;br /&gt;Selain teh yang terbuat dari bagian tanaman semak Camelia Sinesis ini, belakangan terdapat pula jenis teh lain yang terbuat dari ramuan bunga, daun,akar, biji, atau buah kering. Jenis teh satu ini dikenal sebagai teh herbal. Dalam bahasa Inggris disebut “tisane” atau herbal tea. Walaupun disebut teh, teh herbal tidak mengandung daun dari tanaman teh Camellia sinensis. Teh melati dan earl grey, walaupun mengandung ramuan bunga atau buah kering tidak termasuk dalam golongan the herbal. Campuran jeruk (bergamot) atau melati ke dalam teh ini sekadar membuat variasi aroma teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan minuman yang beraroma harum ini, teh herbal biasanya diseduh dengan air panas. Namun beberapa teh herbal dari bahan biji tumbuhan atau akar sering perlu direbus lebih dulu sebelum disaring dan siap disajikan. Saat ini, teh herbal semakin praktis, tersedia dalam kemasan kaleng, kantong teh, atau teh herbal siap minum dalam kemasan kotak. Teh herbal juga gampang diolah, bahan-bahan yang dikumpulkan dari kebun, seperti bunga kembang sepatu, seruni, atau kamomila, dan daun-daun beraroma harum seperti pepermint dan rosemary, setelah dikeringkan bisa diramu menjadi teh herbal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun disebut sebagai teh imitasi,  teh herbal sangat banyak manfaatnya, selain untuk keperluan pelangsingan tubuh. Jenis teh ini, tak hanya terbukti dapat mencegah tapi juga dapat menyembuhkan penyakit ringan seperti flu atau demam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda, pencinta teh herbal, sebuah penelitian terbaru dari Universitas Bristol Dental School, Inggris mengungkapkan fakta lain mengenai teh herbal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teh herbal dapat menyebabkan kerusakan pada gigi. Kandungannya dapat mengikis email gigi dan merusak lapisan terluar gigi seperti dimuat dalam Journal of Dentistry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukan kadar keasaman rata-rata yang berbeda pada  berbagai jenis teh herbal. Beberapa teh mengandung tingkat pH yang relatif rendah sehingga bersifat asam dan cenderung merusak gigi. Beberapa  lagi berpH tinggi, cenderung mengandung alkaline dan tidak berbahaya bagi kesehatan gigi. Sayangnya penelitian ini menunjukkan sebagian besar teh herbal cenderung dapat merusak email gigi, bahkan beberapa di antaranya memiliki dampak tiga kali lebih tinggi daripada jus jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Anda para pencinta teh herbal tidak perlu khawatir! Kabar baiknya adalah jika teh ini dikonsumsi dalam kadar yang normal, maka kadar asam yang menempel pada gigi akan dinetralisir oleh saliva dalam mulut.  Ah… agaknya apapun memang layak digunakan dalam jumlah seimbang. Obat sekalipun jika dikonsumsi dengan dosis berlebih akan menjelma racun. Kita memang dituntut bijaksana dalam memilih. (Eka Rehulin/diterbitkan di LuxoMagazine edisi 4/Photo:int)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-498923676326579316?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/498923676326579316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/teh-herbal-merusak-kesehatan-gigi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/498923676326579316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/498923676326579316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/teh-herbal-merusak-kesehatan-gigi.html' title='Teh Herbal Merusak Kesehatan Gigi (?)'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJeyfTvtOI/AAAAAAAAACY/NJPbkmc-TWo/s72-c/teh+nerbal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-2599515147141944872</id><published>2009-02-22T23:51:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T23:32:26.583-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='About Medan'/><title type='text'>Medan, Food Paradise</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJZQvCnoSI/AAAAAAAAAB4/q7w-Ym65JrA/s1600-h/IMG_2731.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJZQvCnoSI/AAAAAAAAAB4/q7w-Ym65JrA/s320/IMG_2731.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305901455036096802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Inilah warna kota yang sesungguhnya. Kala senja menyergap, cahaya matahari menjadi kemerah-merahan, lantas menghitam di langit barat, tiang-tiang listrik mengambil kuasa atas cahaya. Bumi tetap merona dengan warna buatan manusia. Di jalanan, di antara kegaduhan tuter mobil mengantar para pekerja migran pulang ke rumah, kota tetap menggeliat. Jalanan masih saja padat, orang-orang masih saja simpang siur. Di beberapa titik kota, keramaian terkonsentrasi. Warung-warung dan outlet-outlet makanan menjadi warna tersendiri di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak Medan. Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan punya cerita tentang geliatnya di malam hari. Denyut aktivitas dan kerja mengandalkan cahaya listrik, bulan, dan bintang. Sebuah cerita yang telah terberita tentang “ Medan sebagai surga makanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan memang surga kuliner. Pengakuan ini tidak hanya datang dari orang-orang Medan sendiri. Beberapa orang bahkan mengaku cinta Medan karena makanannya. Seperti Imelda, pendatang dari Jakarta ini mengaku tidak melewatkan mencicipi makanan Medan setiap kali bekunjung. Bondan Winarno, host “Wisata Kuliner” program food hunter di salah satu stasiun tv swasta pun mengakuinya. Dalam satu tulisannya Bondan mengatakan tidak hanya orang-orang di Indonesia, orang-orang luar negeri pun suka. Orang-orang Penang (Malaysia) dan Singapura banyak yang mengaku suka dengan makanan Medan. Seperti juga halnya orang Medan pun mengaku suka makanan Penang dan Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pusat-pusat jajanan di malam hari ini menjadikan Medan kian semarak, malam tidaklah selalu membosankan. Malam hari bisa jadi menjadi saat yang ditunggu-tunggu sebagian orang. Para pendatang di Medan misalnya. Malam hari ditunggu untuk menikmati jajanan-jajanan bercita rasa Medan yang hanya ada di malam hari. Malam hari juga kerap dinanti untuk sekadar hang out, membuang penat, atau berkumpul bersama keluarga sambil menikmati jajanan-jajanan bercita rasa Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan Medan memang punya keunikan. Pangaruh cita rasa kultur kuliner India dan Tionghoa terhadap kuliner Melayu dan Batak yang kaya dan unik. “Rasanya pas, tidak terlalu manis. Pedas dan asinnya, bumbunya… pokoknya beda banget,” kata Evi, karyawan Clipan Finance Jakarta yang sedang bertugas di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi kali ini Luxo menyajikan kepada Anda tempat-tempat makan di berbagai kawasan di seputaran Medan. Dari yang bertarif ratusan ribu rupiah hingga puluhan ribu rupiah. Bermodalkan puluhan ribu bukan berarti Anda harus mengabaikan cita rasa. Lidah Anda sendiri yang akan membuktikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lets no skip dinner, ayo kita keliling Medan, mencari makanan dan makanan. Lupakan rencana program diet Anda! Nikmati dulu mak nyuss-nya kuliner Medan. Karena masakan memang bukan sekadar makanan, tetapi juga cita rasa dan kenikmatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merdeka Walk&lt;br /&gt;Restoran Nelayan, Cita Rasa Ala Medan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJXWRh903I/AAAAAAAAABw/zHEiC3VuBnQ/s1600-h/IMG_2729.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJXWRh903I/AAAAAAAAABw/zHEiC3VuBnQ/s320/IMG_2729.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305899351170470770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling diminati orang di restoran ini? “Dingsum!” jawab Teng Un, Marketing Manager Restoran Sari Laut, Nelayan dengan pasti. “Orang kalau dengar Dingsum, pasti ingatnya langsung Restoran Nelayan,” katanya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingsum memang makanan khas Restoran Nelayan. Saat kru Luxo datang ke restoran ini, puluhan pengunjung memadati kursi-kursinya. Para pramusaji berkeliling dari meja ke meja menawarkan beragam makanan di atas nampan. Makanan berwadah bulat terbuat dari bambu. Inilah Dingsum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajian pertama yang ditawarkan kepada Anda begitu menjejakkan kaki di restoran ini. Hidangan-hidangan lain akan ditawaran menyusul, sebagai pelengkap santapan Anda. Dingsum adalah makanan seafood yang dibuat seperti siomay –biasa juga disebut siomay. Bahan dasarnya tentu saja bahan-bahan yang terbaik dari laut Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyajiannya biasanya di dalam wadah yang terbuat dari bambu. Ini hanya ciri khas Nelayan, tiak berpengaruh terhadap cita rasa. Wadah bambu untuk mengingatkan negara asal Dingsum, Negeri tirai bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingsum yang paling enak adalah Dingsum Rumput Laut, Hakai Udang, dan Siomay Ayam. Rasanya emhh… sedap. Sangat terasa seafood-nya. Makanan beraroma laut dibaluri bumbu yang tepat. Hasilnya… menggugah selera makan. Mau lagi dan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingsum Rumput Laut adalah dingsum yang dibungkus rumput laut, isinya cacahan daging udang segar. Dagingnya empuk, tiap kali gigitan mulut Anda akan penuh dengan nikmatnya daging udang segar. Cocolan sambalnya terasa pas pedasnya di lidah. Ada lagi Hakai Udang atau siomay udang. Sama-sama berisi udang, hanya saja bukan cacahan udang. Isinya udang utuh dengan ekor mencuat dipermukaan dingsum membuatnya tampak lebih menarik. Sedangkan Siomay Ayam, tentu saja bahan dasarnya adalah daging ayam. Jadi kalau Anda bukan seafood addict jangan kuatir, Anda dapat memesan makanan dengan bahan dasar daging sapi atau daging ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dingsum, di negeri asalnya, China bukanlah makanan segala suasana. Dingsum adalah menu untuk sarapan pagi. Dingsum dinikmati bersama semangkuk bubur seperti yang di sediakan Restoran Sari Laut Nelayan di Jalan Merak Jingga setiap hari Minggu atau hari libur. “Itulah Dingsum yang sebenar-benarnya,” kata Teng Un. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Medan, selain jago memplesetkan kata ternyata juga jago memplesetkan makna. “Semuanya kan kita sesuaikan dengan selera pasar. Dengan lidah orang Medanlah tentunya,” komentar Teng Un pria kelahiran kota kerang Tanjung Balai ini. Dingsum pun akhirnya di-set seperti selera pasar. Rasanya, isinya, dan variasinya. Dingsum bukan untuk sarapan saja tetapi untuk segala suasana. “Mau pagi, mau malam, kalau mau dingsum ya dimakan saja,” cerita Teng Un tertawa. Semua disesuaikan dengan cita rasa ala Medan, dingsum yang asli bahkan terasa hambar bagi masyarakat Medan. Keasinan, pedasnya benar-benar telah disesuaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lapar namun tidak ingin cepat kenyang –Anda masih ingin mencoba menu yang lain- Nasi Prang yang ditawarkan para waiter berkeliling sangat cocok menjadi pilihan. Nasi lemak porsi kecil sekali makan seharga Rp3500. Satu sendok nasi yang tidak akan membuat perut Anda kekenyangan. Aromanya gurih. Terserah mau pilih Nasi Prang Ayam atau Nasi Prang Telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidangan rekomendasi lain bagi Anda adalah Kaki Ayam Saos Tiram. Para pencinta ceker ayam, jangan kelewatan yang satu ini. Saos tiramnya… nikmat. Nasi goreng udang galah dan Mie Hot Plate Udang Galah Saos Pedas juga layak menjadi pillihan. Dengan harga Rp33 ribu Anda dapat menikmati satu porsi udang galah besar plus mie goreng dengan saos pedas. Rasanya? Jangan tanya lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran restoran ini selalu dipadati pengunjung. Bagi Anda pencinta makanan seafood restoran satu ini jangan sampai terlewatkan. “Restoran kita ini terjamin kehalalannya. Selain hidangan seafood kita juga sediakan masakan dengan bahan dasar daging. Yang halal pastinya, seperti ayam dan sapi,” jamin Teng Un. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma Nelayan, di Merdeka Walk, terdapat sekitar 35 outlet makanan yang lainnya yang buka hingga pukul sebelas malam. Seperti Pizza Hut, Hoka-hoka Bento, dan Mc Donald. Ester Rhani, Manager Public Relation Merdeka Walk mengatakan setiap outlet punya cita rasa tersendiri. “Tergantung kepada selera masing-masing,” kata Ester. Untuk menjamin kualitas makanan manajemen Merdeka Walk akan mengadakan food control setiap bulannya. Kualitas bahan makanan, cita rasa, dan kebersihan tak luput dari perhatian mereka. “Jadi pengelola outlet-outlet tersebut tidak bisa sembarangan dengan rasa,”  jamin Ester. “Untuk sekadar ngopi dengan teman-teman saya akan jatuhkan pilihan pada Killiney,” rekomendasi Ester. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pagaruyung &lt;br /&gt;Sate Padang di Medan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJZ9ff13UI/AAAAAAAAACA/pZZ743Uvhg4/s1600-h/IMG_2706.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJZ9ff13UI/AAAAAAAAACA/pZZ743Uvhg4/s320/IMG_2706.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305902223957810498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Merdeka Walk kita beranjak ke Pagaruyung. Daerah yang berlokasi di Kampung Keling, tak jauh dari pusat perbelanjaan Sun Plaza ini sudah ada sejak lebih kurang sepuluh tahun silam.Tempat jajanan satu ini lebih merakyat. Harganya lebih terjangkau. Namun tak kalah juga nikmatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pilihan makanan ditawarkan di sini. Mulai dari Nasi goreng, pecelele, Misop, Ayam baker, pempek, sup kambing, masakan seafood, ikan bakar, dan lain-lain. Namun jenis masakan yang paling terkenal dari cafe-café tenda dan kios-kios makanan di kawasan sepanjang 30 meter ini adalah Sate Padang dan Martabaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti namanya, Sate Padang, para pedagangnya yang biasa dipanggil Ajo, adalah peranakan Padang. Agar dapat menyantap gurihnya bumbu Sate Padang Luxo pun singgah di salah satu café tenda, Café Ajo Sayang. Satu porsi Sate disajikan. Rasanya tak mengecewakan. Aromanya juga sedap. Joni (27) pemilik café tenda ini membuka rahasia dibalik gurihnya bumbu yang membaluri empuknya sate kambing olahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasak bumbu padang, semacam pasta, bumbu utama yang tak boleh ketinggalan, diawali dengan memasak sup. Begitu cerita Joni. Yang perlu dilakukan adalah membuat kaldu terlebih dahulu. Terserah apakah kaldu ayam atau sapi. Kaldu yang telah jadi tersebut dicampur dengan tepung roti dan kunyit. Hanya itukah rahasianya? “Bukan itu saja,” kata Joni. Agar rasanya lebih gress Joni menambahkan hati lembu. Barulah aroma dan rasanya menjadi sangat nikmat. “Semakin banyak hati lembu yang kita masukkan akan semakin enak rasanya,” beber Joni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun  baru dua bulan mengambil alih usaha orang tuanya, Joni mengaku tak sepi pengunjung. Sekitar 200an orang perhari singgah untuk makan. “Apalagi hari minggu, hari libur, atau hari besar lainnya. Wuih… tumpah ruah,” lanjut Joni. Try, salah seorang pengunjung mengaku suka makan di pagaruyung. “Murah meriah,” kata Try. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sate ada juga Kwetiauw yang sangat nikmat di tempat ini. Kwetiauw yang disajikan oleh Akuang. Cara masaknya unik, masih mengikuti pakem tradisional, kwetiauw (biasa disebut juga mie tiauw) dimasak di atas tungku arang agar kering dan tidak lengket. Nikmatnya kwetiaw ini juga karena isinya yang beragam, udang dan bakso ikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selat Panjang&lt;br /&gt;Pilihan Non Muslim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJa3QwGLPI/AAAAAAAAACI/SVutaG8DnB0/s1600-h/IMG_2690.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJa3QwGLPI/AAAAAAAAACI/SVutaG8DnB0/s320/IMG_2690.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305903216431869170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila malam hari tiba, salah satu tempat favorit untuk mencari makan adalah tempat-tempat makan sepanjang Jalan Semarang dan Selat Panjang. Suasananya membuat kita serasa sedang berada di Hong Kong atau Singapura. Bukan saja karena sebagian besar pemilik dan pengunjung adalah warga keturunan Tionghoa, tetapi juga karena lokasinya yang merupakan daerah kota lama. Bangunan-bangunan di sekelilingnya sebagian besar adalah bangunan-bangunan tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini bisa jadi tempat pilihan bagi masyarakat non muslim. Memang juga disediakan masakan-masakan halal –tidak mengandung daging babi- seperti mie pansit ayam. Ragam makanan yang disajikan juga sangat unik. Kalau mau makan Kodok Goreng, Kodok Kecap atau Kodok Tauco, datanglah ke tempat ini. Pusat jajanan sepanjang 30 meter ini juga menyediakan Bistik Udang, Bistik Daging Babi, Nasi Hainan, Sate Babi, Sate Ayam, Sate Padang, Bihun Bebek, Mie Cing Cong Fen, Kwetiaw Hokkian, Bubur Babi, Watfen, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau makan makanan ringan, Anda bisa memesan Tau Kua He Ci yang juga disebut lap choy. Tau kua adalah tahu kuning padat sedangkan He ci adalah rempeyek udang. Hidangan Tau Kua He Ci ini juga memakai kangkung, tauge, cumi-cumi, dan kepiting, disiram kuah asam manis. Rasanya? Sedap… Harganya? Rata-rata berkisar Rp20 ribu per porsinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imelda, salah satu pengunjung mengaku suka makanan di tempat ini. “Enaknya pas,” kata dara keturunan asal Jakarta ini. Selain suka dengan masakan-masakan seperti Nasi Gorengnya, ia juga sangat suka dengan Bakpao Kacamata yang berada di ujung Jalan Semarang. Bakpao yang lembut. “Dagingnya segar. Ga ada duanya lah,” lanjut Imelda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jl. Dr. Mansyur&lt;br /&gt;Gardenia, Serasa Pesta Taman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin tempat makan yang nyaman dan jauh dari kebisingan? Maka, tak salah kalau Anda menjatuhkan pilihan pada Gardenia. Lokasinya strategis namun suasananya dijamin nyaman. Anda akan serasa berada di tempat lain, bukan di tengah hiruk pikuknya kota. Serasa berada di taman. Itulah konsep yang ditawarkan Gardenia. Back to nature, begitu Hadid, manager Gardenia menyebutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlokasi di Jalan SMTK Dalam, 500 meter dari Jalan Dr Mansyur. Begitu tiba di sana Anda akan disambut senyum manis para waiter yang sedia berdiri di pintu gerbang. Full oksigen. Hiruplah maka Anda akan mencium aroma rumput, daun-daun palem, dan tumbuhan tropis lainnya. Lihatlah berkeliling maka mata tertumbuk pada dekorasi segar. Tempat makan di antara tumbuhan hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan mungil dari kayu akan mengantar Anda ke dalam taman. Lilin-lilin kecil menjadi cahaya pendamping lampu temaran yang menenangkan hati. Tempat ini benar-benar cocok untuk Anda yang menginginkan makan malam yang tenang. Romantic dinner juga cocok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini menurut Hadid berawal dari kembalinya ia ke Medan, setelah beberapa tahun di Bali, Hadid tidak menemukan tempat hang out yang segar. Tercetuslah ide mendirikan Gardenia. “Kembali ke alam adalah terapi yang bagus untuk kehidupan modern sekarang,” cerita pria yang juga adalah salah satu owner Gardenia dan penyiar di salah satu radio di Medan. “Gua desain sendiri lho,” promonya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma kenyamanan dalam balutan kesederhanaan ini yang ditawarkan Gardenia. Menu-menunya pun tak kalah asiknya. Apa yang membuat Gardenia special? “Gardenia special karena ada saya, Mbak!” canda Hadid lagi. Gardenia menawarkan menu-menu lengkap yang lezat. Khas Gardenia. Mulai dari Oriental Food semisal sup, Western Food sejenis Steak, Tradisional Food, dan Bavarage special Gardenia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu andalan di resto ini adalah Tradisional Food, yakni Nasi Goreng Rempah. Kombinasinya adalah kari kambing yang dicampur bermacam rempah. Nasi goreng ini bukan nasi goreng biasa. Setelah memakan nasi goreng ini bila Anda punya kebiasaan merokok, rasa kari dan rempahnya masih terasa di ujung lidah dan bibir ketika Anda merokok. Hmmm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minumannya pun tak kalah sedap. Back to nature, konsep ini juga berlaku untuk minumannya Minuman andalan di resto ini adalah White Teratai, Green Garden Special, Yellow Tropical, dan Sahara. White teratai adalah minuman dengan campuran sirup lychee dan nenas. Green Garden Special terbuat dari sawi hijau, melon, apel hijau, dan nenas. Yellow Tropical dari buah mangga, jeruk, dan markisa. Sedangkan Sahara terbuat dari jeruk, selasih, peech, dan tak lupa soda yang menimbulkan sensasi nikmat di mulut. Semuanya terasa segar dan pastinya juga sehat. Kandungan buah dan sayuran hijaunya bagus untuk kesehatan. Rasanya seunik namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati makan di tempat ini memang tidak semurah beberapa pusat jajanan lain di Jalan Dr mansyur. Tapi harga tersebut tidaklah mahal untuk kepuasan yang diperoleh. Do you want eat in the natural restaurant? Tempat ini bisa jadi pilihan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Warkop Harapan&lt;br /&gt;Kocok Corner, Shake Your Night&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pusat-pusat jajanan yang lain hanya buka hingga pukul 12 malam, pusat jajanan yang berlokasi di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Jalan Haji Misbah, Jalan Gurila, dan Jalan Samanhudi ini tak kenal lelah. Pusat jajanan ini terjaga hingga pukul 6 pagi hari. Bagi para pejalan larut, mereka yang biasa begadang dan ber-dugem ¬ria pusat jajanan ini bukanlah barang baru. Puluhan café tenda berjajaran di empat lokasi ini. Harganya murah meriah, rasanya juga tak mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocok Corner adalah salah satu Café Tenda paling special di lokasi ini. Bukan saja karena tampilannya yang lebih menarik, desain yang lebih modern, pun menu yang ditawarkan lain dari yang lain. Benar-benar beda! Namanya pun terbilang unik. Kocok Corner, nama yang diambil dari istilah plesetan yang akrab di telinga para pedugem. Tujuannya tentu saja membangun brand dan image di pikiran para pelanggan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istimewanya tempat satu ini juga karena sajiannya. Penggemar nasi goreng wajib mencoba Nasi Goreng Kambing racikan Kocok Corner. Rendang kambingnya sangat berasa pada tiap butir nasi. Kerasnya nasi juga sangat pas di lidah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada lagi Martabak Indomie. Kalau tidak terlalu lapar, cobalah Martabak berisi mie instant ini. Minumannya juga lain dengan yang lain. Kopi yang disajikan adalah produk-produk Nescafe. Mulai dari Nescafe tarik, Nescafe Cappucino, Nescafe Float, hingga Nescafe Mochacino Float. Gimana ya rasanya Nescafe dengan setangkup es krim di atasnya? Nikmat sekali. Kopinya, krimnya, rasanya… sedap! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nongkrong di tempat ini sehabis dugem, lapar tapi ingin makanan enak? Kocok Corner will shake your night. Menu spesialnya sedia, sajian kopinya membuat Anda terus terjaga hingga pagi tiba. Atau sekadar hang out dengan teman-teman? Kocok Corner pun layak Anda masukkan dalam daftar tongkrongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya… kalau Anda tertarik membuka usaha sejenis, Anda dapat datang langsung ke Kocok Corner atau menghubungi 0819-820-557. (Eka Rehulin/dimuat di LuxoMagazine edisi4)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-2599515147141944872?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/2599515147141944872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/medan-food-paradise.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2599515147141944872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/2599515147141944872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/medan-food-paradise.html' title='Medan, Food Paradise'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJZQvCnoSI/AAAAAAAAAB4/q7w-Ym65JrA/s72-c/IMG_2731.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-349535121870064988</id><published>2009-02-22T20:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T23:33:11.686-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Craving'/><title type='text'>Pahit Manis Cokelat Hmmmhff…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJcHf4QwiI/AAAAAAAAACQ/ZwxLKcoffe0/s1600-h/chocolate.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJcHf4QwiI/AAAAAAAAACQ/ZwxLKcoffe0/s320/chocolate.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305904594882183714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vianne Rocher adalah seorang pembuat cokelat. Cokelat yang sesungguhnya seperti yang diminum oleh bangsa Aztec dalam ritual sakral ribuan tahun silam. Tercampur sempurna aroma cokelat, vanilla, dan kayu manis yang dipanaskan, aroma cokelat mentah dan tanah Amerika, aroma harum damar dari hutan tadah hujan. Itulah cerita tentang cokelat yang ditulis Joanne Harris dengan judul chocolat. &lt;br /&gt; Begitu nakal, begitu romantis, hangat, magis, dan menggetarkan hati. Cokelat adalah metafora indah tentang pertentangan yang sering terjadi dalam diri manusia. Bahkan bagi Lansquenet-sous-Tanes yang awalnya membangun nuansa permusuhan dengan toko cokelat La Caleste Praline-nya Rocher. Namun tak butuh waktu yang lama untuk kota yang muram dan diliputi nuansa kepalsuan ini untuk mencintai La Caleste Praline. Ramuan cokelatnya mampu membangkitkan energi kejujuran dalam diri manusia, dan La Caleste Praline telah menjadi ruang membisikkan segala rahasia itu. Remuk dalam adukan cokelat. Inilah daya magis cokelat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awalnya adalah Biji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari mana datangnya cokelat? Apakah ia datang dari mata lantas turun ke hati? Menurut kepercayaan suku Maya, cokelat adalah makanan para dewa. Ia dihasilkan dari proses pengolahan biji tanaman kakao, latinnya Theobroma cacao. Jenis tanaman ini diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah, sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa awal penemuannya, cokelat disajikan sebagai minuman, bukan batangan cokelat yang biasa kita makan sekarang. Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan suku Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika ini menyebutnya xocolātl yang berarti minuman pahit,  minuman olahan buah pohon kakawa. Untuk mengurangi rasa sangat pahitnya, biji kakao harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Rasa pahit pada minuman cokelat ini sebenarnya adalah akibat kandungan alkaloidnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Maya, cokelat menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Cairan itu dituang ke sebuah wadah di tanah dengan mengangkat wadah yang berisi cokelat setinggi dada. Diperkirakan suku Maya telah mengkonsumsi cokelat sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl selain dipercaya sebagai pencegah lelah -akibat kandungan theobromin juga konon dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji kakao tetap menjadi komoditas utama Meso-Amerika pun setelah keruntuhan peradaban Maya (sekitar tahun 900). Pada masa itu, masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Seperti halnya bangsa Maya, bagi mereka pun kokoa merupakan ''“makanan para dewa”, yang digunakan daalm upacara keagamaan. Cocoa bean atau biji kakao juga dijadikan sebagai alat tukar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal abad ke-17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di istana Spanyol. Cokelat lalu menyebar ke seluruh Eropa, di tahun 1657, rumah cokelat pertama, untuk menyimpan persediaan cokelat, dibangun. Di tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane, mengembangkan sejenis minuman susu cokelat di Jamaika dan kemudian dijual oleh Cadbury bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1847 cokelat padat ditemukan. Cokelat tidak lagi minuman baru. Orang Eropa tidak menggunakan semua rempah-rempah yang biasa digunakan oleh orang Meso-Amerika, hanya vanila yang dipertahankan. Bumbu-bumbunya pun disesuaikan dengan selera bangsa Eropa. Mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa Aku Ketagihan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengakuan “saya suka makan cokelat”. Apakah makan cokelat bisa menyebabkan seseorang ketagihan atau kecanduan? Sebenarnya makan cokelat tidak dapat menyebabkan ketagihan, hanya saja, makan cokelat yang rasanya enak membuat si pemakan rindu mengkonsumsinya kembali. Lagi dan lagi. Apalagi makan cokelat bikin susana hati lebih nyaman dan tergantung mood. Inilah yang biasa disebut chocolate craving. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pengakuan Indah. Karena kecintaannya tehadap cokelat, Indah dan kawan-kawan, Dede, Ade, dan Rika sepakat tak hanya menikmati enaknya cokelat sendirian. Sebagai chocolate craving, mereka ingin orang-orang dapat menikmati enaknya cokelat dengan harga lebih terjangkau. Cokelat yang enak tapi murah, begitu kita-kira. Alhasil empat cewek, alumni D3 Sekretaris USU ini membuka Rumah Cokelat. Awalnya mereka menjual cokelat olahan mereka hanya kepada teman-teman kampus, lalu ke sekolah-sekolah, dan kini dengan system pesanan lewat telepon. Cokelat yang mereka tawarkan juga unik, dengan bentuk-bentuk yang unik dan rasa yang special. Olahan dari 3 jenis cokelat yang mereka mix. Dark chocolate, white chocolate, dan milk chocolate. Setiap jenis cokelat ini punya karakteristik rasa tersendiri. Untuk pengolahannya dibutuhkan sense dan kecintaan akan cokelat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak cokelat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu cokelat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya, dan sebagainya. Pilihan cokelat juga tergantung suasana hati, begitu kata Indah. Sebagai penggemar cokelat sejak kecil, Indah tahu benar hal itu. Kalau sedang senang, Indah lebih suka white chocolate, rasanya yang sangat manis dan terasa lebih lemak, enak dinikmati dengan suasana hati berbunga-bunga. Lain cerita jika suasana hati yang sendu. “Lagi malam, terus sendirian, hati tidak karuan, kamu coba deh makan dark chocolate. Itu rasanya pas banget,” saran Indah antusias. Rasanya yang sedikit pahit dan rendah lemak, pas untuk suasana hati yang sedang galau. Jadi makan cokelat itu, tergantung suasana hati. “Cokelat ada untuk segala suasana, “ cerita Indah panjang lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chocolate craving yang tergantung mood ini karena kandungan phenylethylamine dalam cokelat. Phenylethylamine adalah substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak. Pada gilirannya akan menghasilkan dopamine. &lt;br /&gt;Dopamine berdampak menimbulkan perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta. Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam cokelat, yang dapat mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cokelat Juga Bermanfaat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa saja manfaat cokelat? Berikut beberapa manfaat makan cokelat.&lt;br /&gt;1. Cokelat menurunkan resiko serangan jantung.&lt;br /&gt;Seorang peneliti dari John Hopkins University School, USA mengungkapkan bahwa mengkonsumsi beberapa keping cokelat murni setiap hari dapat menurunkan resiko kematian akibat serangan jantung pada hampir 50% kasus. Pembentukan gumpalan darah/trombus pada pemakan cokelat jauh lebih lambat daripada yang tidak mengkonsumsi cokelat. Bentukan trombus yang terlalu besar akan menyebabkan pembuluh darah jantung tersumbat dan bisa menyebabkan serangan jantung.&lt;br /&gt;Flavanols yang terdapat dalam biji kakao juga mempunyai efek biokimia menurunkan pembentukan gumpalan darah yang mirip dengan cara kerja aspirin dengan efek lebih rendah dari aspirin. Cokelat juga dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler , menurunkan tekanan darah, menurunkan oksidasi LDL kolesterol, dan mempunyai efek anti inflamasi. &lt;br /&gt;2. Cokelat menurunkan tekanan darah dan menurunkan resistensi insulin.&lt;br /&gt;Menurut penelitian yang dilakukan di Italia dengan membandingkan 15 orang sehat yang diberikan cokelat yang mengandung flavanols dan coklat yang tidak mengandung flavanols untuk kemudian diamati selama 15 hari, ditemukan bahwa resistensi insulin (faktor resiko kencing manis) pada kelompok yang mengkonsumsi cokelat yang ber-flavanols, sangat jauh menurun. Tekanan darah sistolik juga menurun pada kelompok ini.&lt;br /&gt;3. Cokelat memperbaiki sirkulasi darah arteri.&lt;br /&gt;Konsumsi cokelat tinggi flavanols dapat membantu sirkulasi darah arteri. Kemampuan pembuluh darahnya untuk berelaksasi sangat tinggi. Ini akan sangat berguna untuk kesehatan jantung. Sayangnya tidak semua cokelat yang beredar di pasaran mengandung antioksidan flavanoid yang tinggi. Catatan penting untuk memilih cokelat yang baik adalah bahwa semakin banyak kandungan cokelat murni dalam suatu produk cokelat maka semakin tinggi kadar antioksidannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin mengalami sensasi ternikmat menikmati cokelat? Sekali waktu, ambillah sebuah kesempatan untuk bereksperimen. Tak perlu melihat kanan kiri. Lakukan sesuatu yang ingin Anda lakukan tanpa perlu memperhitungkan pendapat orang lain. Gila-gilaan mungkin. Tapi itulah yang perlu dilakukan untuk menikmati hidup sesungguhnya. Seperti esensi rasa cokelat, hangat, romantis, pahit, manis, magis, nakal, dan menggetarkan hati. Lakukan sesuatu yang tampaknya konyol dilakukan seseorang seperti Anda. Jadilah seorang bohemian borjuis.  Celupkan telunjuk pada secangkir cokelat kesukaan Anda, jilatlah, dan hmmmff… rasakan pahit manisnya cokelat menancap di ingatan.  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Eka Rehulin/diterbitkan di LuxoMagazine edisi 4/photo:int)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-349535121870064988?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/349535121870064988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/pahit-manis-cokelat-hmmmhff.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/349535121870064988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/349535121870064988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/pahit-manis-cokelat-hmmmhff.html' title='Pahit Manis Cokelat Hmmmhff…'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaJcHf4QwiI/AAAAAAAAACQ/ZwxLKcoffe0/s72-c/chocolate.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-9078089522735688488</id><published>2009-02-22T20:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T23:38:12.398-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Layang-Layang</title><content type='html'>Layang-layang itu kini kembali menghiasi lemari kaca kesayangan Yudha. Isinya sekumpulan benda-benda kenangan dari masa lalunya. Termasuk ketapel, salibung angin, seruling bambu, dan bermacam permainan masa kecil Yudha, yang tak bisa kusebutkan namanya. &lt;br /&gt;Maklum saja, aku berasal dari generasi yang tak kenal dengan nikmatnya bermain petak umpet kala purnama tiba. Generasi yang terbiasa dengan makanan serba instant. Seperti juga halnya, Jack, putra semata wayang Yudha yang dari namanya saja kita kenal sebagai generasi McD, Nintendo, Sega, dan PS2. &lt;br /&gt; Layang-layang itu sangat gagah. Bentuknya rajawali garang yang sayapnya terentang lebar. Sangat gagah menantang angin. Garis-garis sayapnya menunjukkan ia mampu terbang tinggi mengatasi hempasan angin. Membubung dan membubung tinggi. Rajawali sakti. Itu adalah layang-layang tercantik yang pernah kulihat, ya memang kuakui, itu memang satu-satunya laying-layang yang pernah kulihat. Maklum saja, aku hidup di era serba digital. Permainanku juga digital. Makanya aku sangat bersyukur bisa melihat Rajawalinya Yudha. Aku mencintai layang-layang itu. &lt;br /&gt;Seperti juga Jack. Anak Yudha. Teman sekolahku di SD Nusa Bangsa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kami mencintainya sejak sebulan lalu, ketika secara tak sengaja kami melihatnya di ruang kerja Yudha. Biasalah, anak nakal, begitu Yudha menyebutnya saat ia memergoki kami mengeledah isi lemari itu. &lt;br /&gt; “Dasar bocah nakal,” kelakarnya sembari menguncang lembut bahu kami. &lt;br /&gt; “Ini apa, Yud,” kataku dengan mata berbinar. Aku tahu Yudha tak akan lupa dengan binar di mataku. Ia tahu betapa aku dan Jack telah mencintai layang-layang rajawali itu.&lt;br /&gt; “Ha… ha… Ini rajawaliku,” tawanya pecah. Ada kesan bangga di sana… Aku pikir ia hendak berkata, “Ini cuma permainan yang ada di Zamanku.” Tapi kata-kata itu cuma ada dalam khayalanku saja. &lt;br /&gt; “Ia, dad. Kami tahu itu gambar rajawali. Tapi namanya apa?” Tanya Jack. &lt;br /&gt; Kami memang belum pernah melihat benda seajaib itu. Indah. Luar biasa. Warnaya cokelat berbaur hitam dan putih sempurna. Ada warna tanah menyatu selaras warna langit dan air. Mengambang seringan udara. Keseimbangan semesta. &lt;br /&gt; “Aku belum pernah melihatnya Yud,” kataku. &lt;br /&gt; “Ini namanya layang-layang,” &lt;br /&gt; “Layang-layang?” masih aku.&lt;br /&gt; “Ia… layang-layang. Melayang.”&lt;br /&gt; Keningku berkerut. Kata itu menyihirku. Aku ingin melayang. Ringan, begitu ringan. Kubayangkan aku melayang. Aku ingin terbang.&lt;br /&gt; “Waktu kecil aku sering bermain bersama teman di tanah lapang. Sore hari, saat hari berangin.”&lt;br /&gt; Tanah lapang? Apa itu? Aku juga tak kenal. Bahasa Yudha terlalu rumit untuk anak sepertiku. Apakah ini kebiasaan? Mereka yang berasal dari masa lalu selalu berbahasa rumit. Mommy ku juga. Daddyku juga. Bahasa mereka kerap tak kumengerti. Bahasa daerah katanya. Kedengarannya aneh, seperti bukan bahasa manusia. Atau… jangan… jangan… mommy dan daddyku adalah makhluk yang diturunkan dari piring terbang raksasa nyasar. Hi… mana mungkin aku keturunan alien. &lt;br /&gt; “Layang-layang ini terbuat dari bambu dan kertas. Waktu kecil kami terbiasa membuatnya sendiri. Buluh diraut, ditimbang dengan benang, kalau sudah seimbang, kami jadikan layang-layang,” cerita Yudha memecah lamunku. &lt;br /&gt; “Bentuknya juga sesuka hati. Ini… asal kau tahu, aku cat sendiri,” Yudha bangga.&lt;br /&gt; “Oya, umurmu berapa waktu itu?” tanyaku asal.&lt;br /&gt; “Seperti kalian, 12.” Jawab Yudha.&lt;br /&gt; Yudha 12 tahun dan membuat  layang-layang sendiri? Memotong sendiri? Hebat! Aku ingin seperti Yudha. &lt;br /&gt; “Boleh kami pinjam, Dad?” tanya Jack.&lt;br /&gt; “Boleh kalian lihat. Tapi jangan dimainkan. Sudah terlalu rapuh. Kalau patah, terlalu banyak kenangan yang terbuang.”&lt;br /&gt; “Ayolah, Yud,” timpalku.&lt;br /&gt; “Begini saja, nanti kuajarkan kalian membuat yang baru,” tawar Yudha.&lt;br /&gt; Aku dan Jack terdiam. Tidak ada layang-layang yang lain. Kami ingin layang-layang ini. &lt;br /&gt; “Lagi pula untuk apa layang-layang. Tak ada tempat bermain. Tak ada tanah lapang di kota ini,” saran Yudha.&lt;br /&gt; Yeah… aku tahu itu. Yudha sudah bilang tadi. Tak ada tanah lapang di kota kami. Semuanya telah dipenuhi gedung menjulang tinggi. Burung pun banyak mati menabrak gedung. Pantulan cahaya kaca-kaca pencakar langit mengacaukan navigasi burung-burung yang hendak bermigrasi. Terkutuklah pembuat gedung itu! Aku benci!&lt;br /&gt; “Tak apalah sekadar tahu,” Jack ngeles. &lt;br /&gt;Padahal aku tahu isi otaknya. Jalan pikiran kami tak jauh beda. Soalnya otak kami sama-sama sudah dipenuhi vetsin dan michin. &lt;br /&gt;“Kita bermain bersama angin.” &lt;br /&gt;Yudha mengambil benang di laci lemari itu. Benang gelasan kata Yudha. Benang ini kuat, mampu memotong benang layang-layang lawan. Dimasak dengan kaca. Ia memberi contoh memainkan layang-layang itu. &lt;br /&gt;Kulihat Jack, kilatan dimatanya, aku kenal betul!&lt;br /&gt;“Aow…” jerit Jack. Ada darah di jarinya yang menarik benang dari tangan Yudha.&lt;br /&gt;“Makanya hati-hati, benang ini setajam kaca,” kata Yudha.&lt;br /&gt;Hebat!&lt;br /&gt;Tapi ia tak mengijinkan kami memegangnya lebih lama. Lemari kaca itu dikunci. Kami diusir, disuruh bermain di kolam renang (menurutku begitu), pintu kamar tempat lemari kaca itu pun dikunci. Rapat! Layang-layang itu menjadi rahasia. Layang-layang itu menjadi obsesi. &lt;br /&gt;Kulirik Jack, mata kami bertemu. Dan itu adalah bahasa isyarat universal, tak perlu vocal dan suara. Artinya telah kami pahami sama-sama. “Kita curi layang-layang Yudha. Diam… diam…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yudha mematung memandang layang-layang itu. Kini ia kembali berada di lemari kaca setelah seminggu hilang entah kemana. Ia sibuk mencarinya. Tak ada yang tahu. Tapi aku tahu dan tak mau bilang. Soalnya ia pelit. Biarkan ia sibuk mencari. Ha… ha… tawaku. Kami telah menang!&lt;br /&gt; Hei… jangan tuduh aku yang telah mencurinya! Enak saja! Yudha juga pikir begitu. Menurutnya aku yang paling tertarik. Ia salah dan tahu kebenarannya hari ini. Hari dimana kini ia berdiri mematung di depan lemari kaca itu. Menatap layang-layang. &lt;br /&gt; Yudha tahu, aku tak salah, ia tak salah, layang-layang itu juga tak salah kalau hari ini Jack mati. Ya… Jack mati. Mati mengerikan. Ia terlindas bus saat berlarian di pinggiran jalan raya kota. &lt;br /&gt;Bermain layang-layang. &lt;br /&gt;Ya… Jack lah pencuri layang-layang itu. &lt;br /&gt;Aku mana mungkin! &lt;br /&gt; Hari ini Yudha menemukan layang-layang rajawali kami tersangkut di jendela kantornya, di lantai 20 gedung pencakar langit. Rajawali kami mendarat di sana setelah leong. Saat Jack tergilas bus. &lt;br /&gt; Ada duka di mata Yudha. Tidak itu bukan saja duka, tapi luka dan dendam. Dendam pada kota yang telah merampas hak anak-anak macam kami. &lt;br /&gt;Ia tak menyalahkan layang-layang kami. Rajawali kami memang tak salah. Kota inilah yang salah. Tak ada tanah lapang. Tak ada tempat bermain. Generasi kamu cuma tahu bermain PS di kamar atau bermain di kolam renang. Anak-anak seperti Akbar, yang tinggal di bantaran sungai, hanya bisa bermain di air keruh tai dan kotoran. &lt;br /&gt; Kota ini yang salah! Dimana keadilan terhadap anak-anak?&lt;br /&gt; “Tak ada tanah lapang disini,” bisiknya pilu. Tak ada kata lain. Ia pergi meninggalkanku sendiri. Menatap layang-layang di lemari kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah kubilang aku generasi instant. Tak sabaran. &lt;br /&gt;Aku juga ingin bermain layang-layang. Tak apa tak ada tanah lapang. Kuambil rajawaliku. Ia mengajakku terbang. Sesuatu memanggilku, tanganku membuka pintu lemari kaca itu. Aku membawanya berlari ke jalanan, kesetanan. Aku benci kota ini. &lt;br /&gt;Aku berlari di jalanan sambil berteriak. &lt;br /&gt;“Kenapa tak ada tanah lapang?” &lt;br /&gt;Nyaring, lantam, garang, segarang rajawaliku. &lt;br /&gt;Berharap pembuat gedung pencakar itu mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Citttt…… Buammm….. Tiba-tiba nanar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini aku melayang. Layang-layang. Aku jadi layang-layang. Melayang-layang seringan kapas. Tanpa arah, tanpa tujuan. Tak ada benang gelasan yang menjadi kendaliku. Tak ada hentakan yang bisa membatasi gerakku. Aku melayang. Jadi layang-layang. Leong. Benangku patah. &lt;br /&gt;Sudah kubilang aku generasi instant. Aku melayang. &lt;br /&gt;Kubayangkan jadi layang-layang. Tapi aku tak bisa. Sebab aku dari era digital. Aku melayang. Tapi bukan layang-layang. Ah… mungkinkah mommy dan daddyku diturunkan dari sebuah piring terbang? Aku melayang.  “Apakah aku telah menjadi sebuah UFO?” Sudah kubilang, aku memang generasi instant. &lt;br /&gt;Tapi tak lupa kutuliskan pesan di layang-layangku:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan salahkan  layang-layang! &lt;br /&gt;Ia hanya perlu tanah lapang.” &lt;br /&gt;Tertanda: Jack dan Joe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 02 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Eka Rehulin, penikmat sastra/Diterbitkan di buletin Sorak)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-9078089522735688488?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/9078089522735688488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/layang-layang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/9078089522735688488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/9078089522735688488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/layang-layang.html' title='Layang-Layang'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8158286336919290359.post-6864249483464990851</id><published>2009-02-22T20:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T20:05:43.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Ukiran Kayu Gorga, Oleh-oleh dari Toba</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWins%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;o:smarttagtype style="font-family: georgia;" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype style="font-family: georgia;" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Meski modernisasi telah merambah berbagai sektor kehidupan manusia, tren &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; etnik tetap punya penggemar, khususnya bidang kerajinan tangan. Produk-produk kerajinan tangan yang unik dan bernuansa natural seperti pahatan atau ukiran kayu, laris manis diburu peminatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di Tuk-tuk, Pulau Samosir, Sumatera Utara, ukiran kayu ini juga laris manis diburu peminatnya. Ukiran-ukiran kayu hasil kerajinan tangan masyarakat setempat ini, biasa dijadikan sebagai buah tangan sebuah kunjungan di Tanah Batak ini. Kerajinan etnik ini, berdasarkan etimologinya, etnik berarti populasi dengan kesamaan dalam budaya, nenek moyang atau kebiasaan tertentu, maka kerajinan ukiran kayu dari Tuk-tuk ini mengadopsi kebudayaan lokal Batak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebudayaan lokal Batak yang diadopsi pada produk ukiran dan pahatan kayu ini adalah motif gorga yang biasa terdapat pada rumah adat Batak, kepala kuda, burung, dan cicak. “Kami memang menggunakan motif yang biasa digunakan pada budaya Batak. Itulah yang kami kembang-kembangkan,” kata Eston Tamba, salah satu pengrajin dan pemilik Batak Art Shop di Tuk-tuk. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bahagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak. Gorga ini dibuat dengan cara memahat kayu dan mencatnya dengan tiga macam warna, merah-hitam-putih. Ketiga warna ini disebut tiga bolit. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bahan Gorga ini biasanya adalah kayu lunak yang mudah dikorek/dipahat. Kayu ungil atau kayu ingul menjadi pilihan yang tepat oleh nenek moyang Orang Batak. Kayu Ungil ini mempunyai sifat yang kuat, tahan terhadap sinar matahari langsung dan terpaan air hujan sehingga tidak cepat rusakatau lapuk. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan kapal di Danau Toba. Jenis kayu ini jugalah yang menjadi pilihan para pengrajin kayu di daerah Tuk-tuk. Selain kayu ingul, pengrajin kayu di daerah ini juga menggunakan kayu humbang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau Anda berkunjung ke Tuk-tuk, tak sulit menemukannya. Puluhan Art Shop siap melayani permintaan ukiran kayu bernuansa Batak. Mereka adalah para pengrajin-pengrajin tradisional yang selain turut menyumbang pada pelestarian budaya kerajinan Batak juga mengantungkan hidup dari usaha ini. Seperti Eston Tamba, ia telah menjadi pengrajin ukiran kayu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. “Awalnya belajar-belajar saja. Teryata malah asik,” kata pria yang telah membuka Batak Art Shop sejak 1998 ini. Malahan pria berusia 33 tahun ini pernah menjadi pemenang ukiran kayu terbaik dalam sebuah festival ukiran kayu yang diadakan oleh Dinas Koperasi Indonesia tahun lalu di Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Produk-produk kerajinan tangan mereka memang sarat muatan seni bernilai tinggi. Dihasilkan dari ide-die kreatif penuh imajinasi, serta proses pembuatan yang betul-betul membutuhkan keterampilan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; etnik Batak dalam produk kerajinan tangan ini tertuang pada berbagai produk ukiran, pahatan kayu, serta produk furnitur berbahan dasar akar kayu. Ide-ide kreatif dan kerja keras pembuatnya makin menguatkan nilai artistik kelas atas yang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Bagi para penggemarnya, karya kerajinan tangan kayu adalah simbol &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hidup. Tak Cuma dilihat dari nilai materiilnya, tapi juga dari estetika, fungsi, dan pemaknaannya. Bermacam rupa bisa dibentuk dari batang kayu. Nilai ekonominya tentu makin tinggi jika sudah jadi. Meski demikian, nilai ekonomis produk kerajinan tersebut sudah ada sebelumnya, jika dilihat dari jenis kayu bahan dasarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kerajinan tangan yang dihasilkan para pengrajin di Tuk-tuk ini umum adalah patung, tongkat, kecapi, kondi, dompak (seperti topeng), gendang Batak, dan berbagai produk ukiran lainnya. Harganya cukup terjangkau, dari puluhan ribu rupiah hingga puluhan juta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Produk etnik ukiran kayu ini memang pantas laris manis. Hasil karya kerajinan kayu ini dapat ditempatkan dimana saja, baik di rumah atau di kantor. Selain itu, penempatan khususnya juga bisa ditaruh di dalam dan luar ruangan. Hal ini dapat dipilih berdasarkan fungsi dan kebutuhan dari produk kerajinan tersebut. “Produk kerajinan kayu dan akar ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan ruang saja. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; juga manfaat yang bisa ditemukan oleh sang pemilik.,” kata Eston Tamba. “Sekarang permintaan memang sedang banyak-banyaknya. Kebanyakan dari turis luar negeri yang ingin bawa oleh-oleh pulang. Mereka biasanya pesan sejak jauh-jauh hari,” kata Tamba. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nilai keindahan memang jelas terlihat dari pr&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;oduk-produk kerajinan tangan kayu ini. tapi yang terutama adalah makna yang tersirat dari produk itu. Bagi penggemarnya, kerajinan tangan kayu seakan mampu memberi ketenangan yang tak ternilai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kelebihan lain dari barang kerajinan tangan kayu adalah tidak adanya produk yang sama persis. Meskipun motif dan bentuk sebuah produk sama, karya tersebut tidak akan pernah sama. “Produk yang terbuat dari kayu, dibuat berdasarkan imajinasi pembuatnya. Itulah sebabnya tidak akan pernah ada hasil kerajinan kayu yang persis sama,” kata Tamba. Kalau Anda berkunjung ke Tanah Batak, membawa oleh-oleh Ukiran kayu bernuansa Batak adalah keputusan yang tepat. (Eka/diterbitkan di LuxoMagazine edisi Februari 2009)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8158286336919290359-6864249483464990851?l=parangjati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://parangjati.blogspot.com/feeds/6864249483464990851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/ukiran-kayu-gorga-oleh-oleh-dari-toba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6864249483464990851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8158286336919290359/posts/default/6864249483464990851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://parangjati.blogspot.com/2009/02/ukiran-kayu-gorga-oleh-oleh-dari-toba.html' title='Ukiran Kayu Gorga, Oleh-oleh dari Toba'/><author><name>ekarehulin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05983986692849444325</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_-Y398qPrVvY/SaIunbxbW3I/AAAAAAAAABU/k_JrV5FZcMg/S220/foto+cabeth+056.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
